Hari ini belajar apa? #15

Brand (and personal) extraction

Windhy Monica
Mar 26 · 3 min read

Minggu malam lalu saya berkesempatan menghadiri kelasnya mas Dimas Nurcahyo yang diadakan Share.inc. Nah… Kalau masih ingat cerita Pecha Kucha Solo, pemrakarsa kelas sharing ini adalah seorang teman yang membantu saya dalam pelaksanaan PK Night tersebut. Namanya Daniel Revelino, seorang CEO branding consultant yang sedang gencar-gencarnya bergelut di dunia industri kreatif.


Sebelum masuk ke materi, mas Dimas meninjau kembali pemahaman kami para peserta tentang “brand itu sendiri. Supaya mudah dipahami, maka dianalogikan sebagai diri kita sendiri.

The way to find “Who you are”.

Apa yang membuat orang lain mengenal saya? Apakah wajah saya? Apakah profesi saya?Apakah gaya berpakaian saya? Apakah kebiasaan saya? Setelah sudah kenal, apa yang membentuk “kesan” orang lain terhadap saya?

Semua hal tersebut berhubungan dengan brand.

Analogi untuk memperjelas:

wajah = logo

nama = merek

baju, apa yg dipakai = identitas visual

Apakah cukup soal visual saja? Tentu tidak. Apa yang orang lain lihat, pengalaman apa yang orang lain dapat dan rasakan dengan anda, akan membentuk banyak persepsi. Persepsi-persepsi yang tergabung dari banyak orang, akan membentuk reputasi. Jadi, logo, nama, ataupun identitas visual hanya sebagai “tombol” aktivasi yang akan mengingatkan orang-orang terhadap kita.

Brand” adalah akumulasi persepsi yang membentuk reputasi.


Lalu pertanyaan selanjutnya: Reputasi seperti apa yang ingin dibangun?

Namun sebelum itu, ada problem yang sangat umum dihadapi, yaitu tidak mengetahui apa yang sebenarnya membentuk reputasi tersebut. Hmm… Kenapa ya?

Mas Dimas kembali mengajak kami beranalogi lagi…

Premis 1: Pak Joko adalah orang yang rapi dan bersih. Kebiasaan tersebut bawaan sejak kecil karena diajarkan oleh sang ibu. Kebiasaan tersebut juga diterapkan Pak Joko dalam bekerja sehari-hari.

Premis 2: Pak Joko bekerja sebagai wirausaha. Pak Joko memiliki warung makan. Warung makan Pak Joko laris.

Pertanyaan: Apakah yang membuat warung Pak Joko laris adalah sifat rapi dan bersih?

Jawabannya, “bisa jadi”… Tapi, belum tentu Pak Joko menyadarinya.

Seringkali hal sederhana yang sudah menjadi rutinitas tersebut perannya terabaikan. Padahal seperti yang kita tau, sebuah value tidak dapat terjadi dengan instan. Value terbentuk dari sesutu yang konsisten terjadi sehari-hari. Sementara, reputasi terbentuk dari value yang kita miliki.

Itulah Brand Extraction, upaya menulusuri ulang value yang dimiliki sebuah perjalanan bisnis atau personal untuk membentuk reputasi yang diinginkan.


You know, if it ain’t great product, it won’t be worth to tell… Saya beruntung sekali bisa mendapat materi ini (gratis pula) karena tidak hanya bisa diterapkan untuk bisnis, tapi juga di level personal. Pengalaman beberapa tahun terakhir memberi insight bahwa perjalanan “menaklukan” diri sendiri itu tidak sebentar, bahkan seumur hidup. Apa yang membuatnya terasa berat dan sulit adalah karena kita tidak memahami core value atau potensi diri apa yang dimiliki, sehingga tidak jelas ke mana arah yang kita tuju.

Esensi ekstraksi.

“Tentukan tujuan,

telusuri petanya,

gunakan kompasnya,

ga usah bingung milih merk mobilnya.”

— Dimas Nurcahyo

PS: Tentu saja tulisan ini belum mencakup keseluruhan materi yang disampaikan mas Dimas. Kalau ada yang tertarik belajar lebih lanjut, silahkan catch up via instagram atau main ke studionya di Macmuro.

W. Monica

(dibantu proofreading oleh Dwinawan, terimakasih mas 😃)

    Windhy Monica

    Written by

    a doctor and blessed wife.