Surat untuk diriku di usia 30 tahun

Windhy Monica
Mar 13 · 3 min read

Halo, Ca? Apa kabar?

Masih hobi sengaja menunda makan? Berapa berat badanmu sekarang? Pasti misi terselubung sang suami berhasil membuatmu sekarang tampak lebih “segar” ya. Haha 😉

Bagaimana rencana studi S3-mu? Apakah terealisasikan? Atau malah banting setir ke sekolah spesialis? Apapun pilihanmu, aku selalu mendoakan yang terbaik.

Btw, aku adalah dirimu lima tahun yang lalu. Sempatkan untuk membaca surat ini, Ca. Aku ingin sedikit bercerita…


Ca, ingatkah kamu, di awal tahun 2019 ini kamu menghadapi beberapa kenyataan pahit yang membutuhkan usaha penerimaan tidak singkat. Setelah mendapat penolakan judul tesis oleh pengujimu — yang mana sudah kamu kerjakan sampai BAB III dan sudah mendapat tanda tangan persetujuan dari kedua pembimbing, kamu mendapat informasi bahwa salah satu temanmu, yang bersama-sama mengikuti agenda interview di tempat kerja yang kamu idam-idamkan, diterima. Sementara kamu… tidak mendapat kabar yang sama.

Saat itu kamu sedang makan nasi liwet, bersama Riswan dan pacarnya, juga Yosi. Di luar sedang hujan deras. Suasananya mendukung sekali untuk bermelankolia, tapi kamu berhasil menahannya.

Sesampainya di rumah, seusai sholat Isya’, air mata tumpah ruah… Hahahaha

“Nggak apa-apa, dicoba lagi. Mungkin nanti hasilnya jadi lebih baik,” kata Ibu.

Terdengar klise ya, Ca. Tapi perkataan beliaulah yang mendorongmu untuk beranjak dari kamar, membuka laptop, dan langsung mencari referensi untuk judul baru. Dua bulan penuh agenda begadang terasa sia-sia… Malam ini harus tidur pagi lagi.

Beberapa hari setelah itu, setelah membangun mental kembali, kamu berusaha menemui pengujimu lagi, membawa judul tesis yang diperbaiki. Hari itu Kamis, ternyata pengujimu sedang ada acara ke luar kota hingga akhir minggu. Sementara menunggu adalah hal yang paling tidak kamu suka.

Hari Senin pun tiba. Akhirnya kamu berhasil menemuinya. Setelah menanyakan kabar dan berbasa-basi sebentar, beliau meminta lembar persetujuan dan langsung menandatanganinya, serta menyuruhmu segera melakukan seminar proposal. Alhamdulillah…


Di hari yang berdekatan, ingatkah kamu, Ca? Kamu dikejutkan lagi: mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal yang isinya “Selamat sore dr. Windhy Monica, kami dari Rumah Sakit XXX, selamat Anda diterima menjadi dokter di RS ini. Adapun syarat yang perlu dikumpulkan bla bla bla…”

Entah bagaimana cerita dibaliknya, kabar baik itu hanya datang berbeda hari dari yang dikirimkan ke temanmu. Doamu tetap terkabul.

Allah baik sekali kan, Ca?

Jadi, Ca, kalau saat ini kamu sedang lelah mengerjakan tugas, lelah menyusun disertasi, atau lelah dengan birokrasi tempatmu bekerja,

sambat-lah…

Tapi jangan terlalu larut. Ingatlah kembali masa perjuanganmu dahulu. Kamu bisa lho, nglaju solo-jogja demi internsip dan kuliah. Sering juga kamu tidur nggak nyenyak karena kepikiran pasien yang kamu rawat di bangsal, atau karena revisian proposal tesis yang nggak kelar-kelar…

Setiap pilihan pasti punya sisi menyenangkan sekaligus yang tidak mengenakkan. Semua pilihan memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi dan risiko yang dihadapi. Begitulah dunia bekerja, Ca…


Pesanku, jangan pernah menyerah. Jangan malas sholat malam untuk meminta kekuatan, makan bergizi untuk mendapat energi, dan sering telpon Ibu di rumah.

O iya, sampaikan salamku untuk suamimu yang sangat menyayangimu. Selamat memperjuangkan mimpi-mimpi bersama.

Love,

Windhy Monica

    Windhy Monica

    Written by

    a doctor and blessed wife.