Ideal vs Kenyataan

Saya sering mengamati lingkungan kemahasiswaan di sekitar saya, makin kesini orang makin ogah dengan sosok pemimpin yang idealis. Benarkah?

Seorang calon pemimpin yang bisa memiliki data-data statistik yang gamblang dan angka-angka yang bisa diukur, biasanya lebih disukai ketimbang calon yang memberikan jawaban berisi nilai-nilai dan gagasan-gagasan fundamental, yang kebanyakan intinya tersirat. Benarkah?

Apakah orang yang idealis adalah sama dengan orang yang penuh retorika, bicara saja tanpa kerja nyata?

Saya sebenarnya tidak tahu juga jawaban pastinya. Anda boleh beda pendapat dengan saya. Namun jujur saya agak takut, jika kita terlalu mempatri paradigma jelek tentang pandangan idealis dari seorang calon pemimpin, bisa-bisa nanti kita tidak lagi memedulikan proses, yang penting tujuannya tercapai dan hasilnya memuaskan. Kerja, kerja, kerja saja. Apakah pada kenyataannya banyak orang yang disikut, didorong-dorong, atau dijorokin demi tercapainya tujuan sesuai kriteria keberhasilan yang sudah dibuat tidak lagi jadi soal. Atau bagaimana sebenarnya hasil tersebut dicapai: dengan cara yang benar, atau dengan menghalalkan segala cara? Atau tentang manusia yang bekerja bersama di dalamnya: apakah mereka merasa diberikan bekal, merasa berkembang sebagai orang, atau hanya diperah seperti sapi, dipekerjakan saja yang penting programnya selesai?

Saya merasa keadaan seperti ini berbahaya jika tidak diluruskan.

Karena, menurut saya, menjadi idealis tidak sama dengan menjadi retoris. Membagikan gagasan tidak melulu soal ngomong doang. Menurut saya, penting sekali bagi seorang pemimpin untuk memiliki gambaran besar mengenai apa yang ingin dia capai pada sesuatu yang dipimpinnya itu. Seorang pemimpin besar tidak perlu terlalu mengurusi perintilan dan micro managing. Urusan itu biarlah middle manager yang menanggung. Pemimpin harusnya punya visi, tujuan, dan gambaran, mau seperti apa keadaan akhir dari hal yang dipimpinnya nanti ketika tiba di ujung garis finish, alias akhir masa kepemimpinannya. Pemimpin harusnya menggerakkan orang. Menerjemahkan gagasan tersebut menjadi sesuatu yang konkret adalah soal lain, bukan?


Saya harus bilang bahwa tulisan ini tidak ada kaitannya dengan calon manapun di pilgub DKI Jakarta yang sebentar lagi datang. Saya cuma terpelatuk dengan keadaan yang sudah saya amati sejak awal masuk kuliah, dan karena momennya sedang pilgub, semua orang menjadi peka pada isu-isu seperti ini, jadi saya angkat bicara.

Konteksnya disini adalah bukan untuk menyerang Anda yang mungkin punya pandangan berbeda dengan saya. Saya hanya ingin menyuarakan kekhawatiran kok, jangan sampai kita jadi orang yang hanya menilai hasil tanpa peduli proses. Menjadi orang yang realis itu penting juga, saya tahu. Sebenarnya, yang sulit adalah menjadi orang yang seimbang: punya gagasan dan nilai-nilai fundamental yang kuat, tapi tidak kebanyakan mimpi.


Sudah, cuma itu yang mau saya sampaikan. Pilih siapapun boleh, asal tidak golput. Ralat, terserahlah kalau mau golput. Asal punya alasan kuat. Alasan too cool for school tidak termasuk. Do your research, open a discussion, start a freaking debate with people around you. Just… do something.


Winona Andrari Mardhitiyani
Tidak mau diam terus

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.