Perihal Posisi dan Kontribusi

Awal tahun. Sebuah permulaan dan momentum untuk memperlebar langkah dan mencurahkan semangat yang berlabelkan ‘baru’ dalam segala aspek kehidupan. Kata ‘baru’ tersebut memberikan energi positif dan seolah memberikan tambahan daya dalam pikiran sehingga sangat mudah untuk kita, saat ini, memulai sesuatu. Salah satunya adalah memulai untuk menempati posisi dalam organisasi kemahasiswaan.

Beberapa orang yang saya kenali bahkan sudah mengikrarkan dan siap menanggung beban dari predikat ‘Calon’ di beberapa tempat. Beberapa diantaranya sedang mengumpulkan nyali dan berusaha untuk memantaskan diri. Beberapa lagi terlalu takut dan merasa tidak siap, entah metode apa yang digunakan untuk mendapatkan penilaian tersebut.

Lantas beberapa orang lagi teramat gemar bertanya dan mengetahui, biasanya melemparkan pertanyaan standar mengenai sebenarnya apa tujuan yang hendak dicapai dengan posisi tersebut, atau mengapa tanggung jawab tersebut teramat penting untuk diusahakan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut (hampir) pasti ada karena tujuan adalah titik berangkat dan hal esensial yang akan menentukan seberapa jauh langkah yang ditempuh, seberapa besar energi yang keluar, dan seberapa kuat kaki berpijak.

  • Kebutuhan dasar manusia

Maslow dalam teorinya berkata bahwa saat kebutuhan fisiologi, rasa aman, dan kasih sayang dari manusia terpenuhi, maka manusia akan memulai untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dalam teori hierarki kebutuhan, yaitu kebutuhan akan penghargaan dan mengaktualisasi diri. Mungkin hal inilah yang medorong beberapa orang untuk mengambil posisi dan jabatan strategis khususnya dalam organisasi kemahasiswaaan.

  • Pengetahuan dan karakter

Saat seseorang secara sadar berada dalam suatu lingkungan, penilaian akan lingkungan tersebut pasti mengantarkannya pada suatu kesimpulan : benar atau salahkah apa yang berada didalamnya. Apakah kegiatan ini bermanfaat? Benarkah cara melakukan kegiatan tersebut? Apakah cara dan metode ini tepat? Biasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan kondisi sebenarnya yang terasa seperti tingkat partisipasi dan manfaat yang dirasakan secara langsung oleh peserta.

Kesimpulan tersebut juga menentukan apa yang akan dilakukan seseorang tersebut selanjutnya. Apakah ia nyaman dan merasa bahwa metode kegiatan tepat sehingga seseorang tersebut merasa mendapatkan banyak manfaat. Pada sebagian kasus, rasa terimakasih yang mendalam dapat mengantarkannya untuk melanjutkan agar semakin banyak orang yang merasakan manfaat seperti apa yang dirasakannya saat ini.

Kondisi yang umum dirasakan adalah beberapa orang merasakan kejanggalan dan kekurangan dari sistem yang ada sehingga dapat menyimpulkan ada yang salah dalam sistem ataupun mekanisme tersebut. Pada jumlah yang tidak banyak, orang yang memiliki kesimpulan tersebut berusaha mendapat pengetahuan yang lebih dan pada jumlah yang lebih kecil lagi memiliki karakter untuk berani mengambil langkah untuk mengubah apa yang menurutnya salah menjadi benar. Benar disini umumnya menggambarkan bahwa sistem/mekanisme tersebut memberikan keuntungan sebesar-besarnya terutama dari sisi pandang sang penilai. Dengan kata lain yaitu saat usaha sebanding dengan keuntungan yang didapatkan.

Tujuan ini menjadi menarik karena sebenarnya tidak hanya posisi yang menjadi solusi.

“Karena kontribusi tidak terbatas posisi”

Kalimat tersebut (yang saya baca pada instastory milik iffah) cukup menjelaskan bahwa langkah untuk membawa perubahan agar suatu sistem/mekanisme mendekati benar tidak hanya melulu soal posisi. Posisi terkadang tidak bisa menjadi tolak ukur sebuah kontribusi. Bisa saja seorang staff memberikan kontribusi yang bahkan melampaui kontribusi yang diberikan oleh ketua jika ketua tersebut tidak menjalankan amanahnya dengan baik.

Namun untuk langkah yang lebih besar, selalu diperlukan usaha yang besar pula.

Posisi akan menjadi penting jika kita berbicara tentang keputusan. Posisi akan memaksimalkan potensi yang dimiliki sehingga secara idealnya, kontribusi yag diberikan pun akan sebanding dengan posisi yang ditempati. Posisi akan membuat kita memegang kendali dan melakukan seluruh aspek dengan ‘cara kita’ masing-masing. Pengaruh yang diberikan akan semakin luas dan kebenaran versi kita akan semakin mudah tercapai.

“Karena kontribusi tidak terbatas posisi. Namun posisi akan memaksimalkan kontribusi”

Pada akhirnya dimanapun posisi kita sekarang, posisi apa yang sedang kita incar, dan posisi apa yang kita dapatkan, maksimalkan potensi yang ada.

“Islam memuliakan semua posisi. kalau tak memungkinkan menjadi karang yang kokoh di dasar lautan, menjadi rumput nan lemah lembut yang tak goyah dipukul ribut pun tetap agung nilainya. Demi Allah, tidak ada halangan menjadi mulia dengan alasan posisi tak memadai” (Salim A. Fillah dalam Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim)

“apakah benar tidak boleh meminta jabatan?”

Maka sebenarnya sebaiknya setiap muslim itu berani untuk mengambil jabatan, karena dengan jabatan seorang muslim dapat berdakwah dengan maksimal dan membawa nilai-nilai keislaman secara nyata dan masif.

“lantas apakah benar untuk mengejar sebuah jabatan?”

Kejarlah jika memang tujuanmu sudah kokoh. Kokoh, berarti cukup layak untuk diperjuangkan. Kokoh, berarti dapat menjadi bahan bakar untuk melangkah. Kokoh, berarti dapat menjadi pengingat dikala lelah. Bukankah menjadi pemimpin itu melelahkan?

Mengejar dan mengusahakan memang sudah merupakan tugas kita sebagai manusia. Sisanya, serahkan kepada Allah. Allah selalu tahu tempat terbaik yang akan membuat kita lebih baik. Maka tak perlu bagi kita untuk mencemaskan hasil yang didapatkan nantinya. Bukankah yang terpenting adalah tujuannya? Bukankah tujuan bisa dicapai dengan berbagai metode? atau bahkan, Bukankah benar dan salah atau baik dan buruk itu tergantung pada cara kita memandang? Hikmah bisa datang dimana saja, kapan saja, dengan cara apa saja. Mungkin sudah saatnya kita mempertajam hati agar mudah untuk memahami bahasaNya. Hal yang harus dilakukan adalah “Berharap sedikit, Memberi Banyak”. Agar syukur dapat mudah terucap dari lisan yang penuh kurang ini.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tidak menonjolkan diri, taqwa dan shalih. Apabila tidak hadir, mereka tak dicari-cari. Apabila hadir mereka tak dikenali. Mereka bagaikan lentera-lentera petunjuk yang menerangi setiap kegelapan” (HR Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib, hasan)

Hadist ini cukup untuk menjadi rem supaya saat posisi tersebut ditempati pun, tujuannya bukanlah tentang menonjolkan diri. Allah, bantu aku ingat akan tujuanku yang sesungguhnya ya?

Like what you read? Give Indah Dwi Rachmawati a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.