Pintar di Rumah Bambu Pintar

Akhir pekan kemarin terlewati dengan senyum bahagia yang hampir tiap saat datang bertamu. Seorang teman mengajak untuk beranjangsana ke sebuah taman belajar di kabupaten Pinrang, berjarak 20an km dari Parepare. Tepat sebelum matahari sejajar dengan kepala, saya dan 3 orang teman berangkat dengan 2 sepeda motor. Butuh waktu 1.5 jam untuk tiba disana. Angin kencang, motor yang dikendarai pelan, ketidaktahuan lokasi tepat tujuan kami, dan keinginan piknik di pinggir pantai dengan bekal makan siang yang sudah disiapkan. Tapi, segala hal memang baiknya dilakukan pelan, selow.


Sebuah rumah panggung dengan plang kecil “Rumah Kepala Desa” menjadi penanda tujuan kami. Rumah yang cukup besar, dengan berbagai kerajinan dari bambu di kolong rumah: meja, hiasan ruangan, dan mug berbagai bentuk. Pekarangan depan rumah juga cukup luas, diisi dengan puluhan plastic bag berisi tanaman cabe setinggi 2 jengkal.

Di tengah rumpun bambu, di belakang rumah ibu Kepala Desa, kelas kecil diisi kelas bahasa inggris, komputer, dan kelas seni. Sebuah gerbang bambu dengan plang kecil “Rumah Bambu Pintar” menyambut pertama kali. Siang itu, sedang berlangsung kelas bahasa Inggris, diikuti oleh anak-anak berumur 10–12 tahun. Mereka kelihatan bahagia belajar ditengah rumpun bambu yang menari diterpa angin.

Kami juga berbincang hangat dengan teman-teman pemuda yang menjalankan Rumah Bambu Pintar: Bang Rudi, Kak Wini, Kak Rizal, Kak Niar, dan Kak Jeje. Orang-orang hebat yang punya visi keren untuk desa Wiring Tasi, desa tempat Rumah Bambu Pintar berdiri.

Bersama ibu Kepala Desa, mereka punya banyak hal untuk diwujudkan. Rumah Bambu Pintar dan pemberdayaan masyarakat adalah sebagian hal yang telah “berwujud”. Perabot dan pernak-pernik dari bambu, batok kelapa, rotan, yang memenuhi kolong rumah adalah bentuk pemberdayaan masyarakat. Dibuat oleh warga, kemudian dipasarkan oleh Ibu Kepala Desa.

Orang-orang kota yang berkunjung kesana tentu akan keheranan melihat pekarangan tidak dipenuhi oleh bebungaan, tapi sesak oleh cabai yang tumbuh subur. Cabai yang juga akan dipasarkan oleh Ibu Kepala Desa.

Salah satu dari keinginan yang akan mereka wujudkan adalah menata pantai menjadi tujuan wisata. Mereka memang lihai melihat potensi, sebuah pantai dengan laut lepas di baratnya, akan selalu indah kala senja menjelang.

Kunjungan hari itu memberikan banyak hal. Tentang cita-cita dan semangat yang harus terus menyertainya.

Benar kata orang, kota adalah adik dari desa. Dan sebagai adik, kota mesti belajar banyak dari desa dan orang-orangnya. Kehangatan, kebersamaan, keberdayaan, dan hal-hal lain yang sudah hampir dilupakan oleh kota ditengah hingar-bingar hidupnya.

)
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade