Jangan Mudah Menyerah!
Tidak ada satupun dari lima anggota tim kami yang menyangka akan diberikan kesempatan berlaga di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke 30 di Universitas Muslim Indonesia. Apa pasal? Tim kami sama sekali tidak menyuguhkan performa yang meyakinkan selama monitoring dan evaluasi internal. Dengan sedikit polesan, kami tampil lebih baik pada monitoring dan evaluasi yang diadakan DIKTI. Tak dinyana justru kami lolos melaju ke PIMNAS. Begitu pengumuman beredar, perasaan terharu, senang teraduk aduk bersama sedikit kepanikan. Terharu, karena perjuangan singkat di monev DIKTI diganjar tiket ke Makassar. Senang tentu saja, karena berpotensi untuk jalan-jalan gratis di Makassar. Bumbu panik muncul karena tim kami memang tidak menyangka dapat lolos ke PIMNAS, apalagi sempat beredar kabar bahwa 50% dari tim yang lolos dapat diganti oleh pihak ITB. Tentu, kami mawas diri dengan perjalanan di monev internal yang kacau, kami akan kena bagian di 50% tim yang diganti tersebut. Namun alhamdulillah pergantian tersebut tidak pernah terjadi. Tahun ini tidak ada pergantian.
Sejak awal tim kami memang bukan tim jagoan ITB. Status kami hanya tim ring 3, dari 4 ring yang di buat oleh panitia. Di hari perdana kumpul persiapan PIMNAS, hal tersebut disampaikan. Bagi saya pribadi hal tersebut merupakan sebuah keuntungan karena kami dapat bertanding dengan tanpa beban. Hari itu dijelaskan bahwa kami akan melewati setidaknya 5 latihan presentasi resmi. Berlatih diluar 5 waktu tersebut tentu saja sangat diajurkan. Selain itu segala persiapan menuju hari H juga dibahas.
Kami sadar perjalanan masih amat terjal. Ketua kelompok serta desainer kami masih berada di Jakarta untuk melakukan kerja praktek. Dengan anggota yang ada kami memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Pertama,kami berkonsultasi kepada dosen pembimbing dan beberapa dosen ahli untuk penyempurnaan alat kami. Setelah dirasa cukup masukannya kami mencari penjahit yang mampu mengerjakan alat kami dengan waktu sempit yang tersedia. Tidak banyak yang mampu, dan kebanyakan yang mampu lokasinya amat jauh dari tempat kami indekos. Akhirnya ada juga penjahit yang mau. Dengan beliau kami berkonsultasi mengenai desain dan bahan. Esoknya kami mencari seluruh bahan yang diperlukan hingga akhirnya proses produksi dapat berjalan. Tak ketinggalan publikasi kami gencarkan dan artikel ilmiah kami kirim untuk diikutkan ke konferensi internasional. Draft paten pun kami urus. Tak jarang-untuk tidak menyebut setiap hari-kami mengorbankan waktu istirahat demi mempersiapkan PIMNAS.
Hari keberangkatan pun tiba. Dengan diiringi upacara pelapasan kecil-kecilan kami berangkat. TIba di Makassar ujian kembali melintang di jalan kami. Presenter utama kami kurang fit kondisi tubuhnya sehingga tidak dapat berlatih secara optimal sebelum benar-benar berlaga. Esoknya hari presentasi tim kami ditakdirkan untuk maju urutan kedua. Presentasi berjalan sedikit kacau. Namun lega rasanya setelah dosen penguji mengomandoi hadirin untuk memberi tepuk tangan, tanda berakhirnya sesi kami. Pada hari yang sama poster ilmiah peserta juga dinilai. Para juri akan datang ke masing masing booth untuk mengamati poster dan sekali dua memberi pertanyaan singkat.
Hari kedua presentasi berlangsung lebih santai, maklum sudah presentasi. Dan ketika hari kedua berakhir tidak sabar rasanya untuk melepas penat. Dengan bermodal nekat kami menyebrang ke pulau Samalona ketika matahari nyaris terbenam dan baru kembali setelah bulan naik sempurna ke langit. Kesyahduan malam selat makassar beradu dengan gemerlap lampu-lampu sepanjang pantai losari. Esok adalah hari pengumuman. Dan kami menutup hari dengan semangkok coto.
Sebelum pengumuman, kami kembali plesiran. Kali ini bersama rombongan lain. Sedikit mengendurkan otot-otot yang tegang. Malam yang ditunggu akhirnya tiba. Meski terlambat sekitar 2 jam dari rencana, pengumuman berjalan lancar. Kami berhasil menyabet medali perak untuk kategori poster.
Jadi apa inti tulisan ini? Hanya satu kalimat dibawah ini :
Jangan mudah menyerah!
