Kekerasan dan Identitas

Judul diatas merupakan judul yang sama dari buku karya Amartya Sen yang sedang saya baca. Isi bukunya sudah tergambar pada frasa judul tersebut, yaitu mengenai kekerasan yang timbul akibat ‘identitas’. Dalam bukunya, Sen mengajukan tesis bahwa banyak konflik terjadi karena pemahaman yang buruk akan konsep identitas.

Di satu sisi identitas memang merupakan sumber lahirnya kebahagiaan dan kebanggaan serta tumbuhnya kekuatan dan kepercayaan diri. Rasa memiliki identitas yang sama akan membuat hangat hubungan dengan tetangga, anggota suatu komunitas, sesama warga negara, bahkan sesama pemeluk agama yang sama. Di sisi lain, pemahaman yang buruk akan konsep identitas justru melahirkan perbuatan perbuatan keji. Misalnya, semangat Nazi untuk melenyapkan Yahudi dari muka bumi. Hanya karena seseorang menyandang identitas sebagai Yahudi, tanpa memandang identitasnya yang lain, maka pada zaman Nazi berkuasa orang tersebut sudah hampir pasti akan berakhir di kamar gas. Padahal selain seorang Yahudi, ia juga memiliki identitas lain seperti seorang penyuka film, tentara, sekaligus pemain bisbol amatir. Menjadi seorang Yahudi tidak serta merta akan menghilangkan identitasnya yang lain tersebut. Di titik itulah manusia cenderung dikelompokkan dalam satu identitas tunggal tanpa memandang ragam identitasnya yang lain.

Sesungguhnya kita tercakup dalam berbagai kelompok yang berbeda, dan masing masing kelompok tersebut bisa memberikan identitas. Menjadi bagian dari kelompok kelompok identitas tersebut bisa menjadi penting sesuai konteksnya. Seseorang harus menentukan identitas yang membutuhkan prioritas dan memberikan derajat kepentingan relatif identitas identitas tersebut, yang sekali lagi akan bergantung pada konteksnya. Ada dua hal penting yang harus dipahami disini. Pertama, memahami bahwa identitas itu mutlak bersifat majemuk, dan mementingkan satu identitas tertentu tidak serta merta meniadakan identitas yang lain. Kedua, seseorang harus memilih identitas yang menjadi priortiasnya sesuai konteks. Masalahnya adalah, sebagaimanapun kita bebas memiliki dan menyatakan identitas kita pada orang lain, seringkali identitas kita menajdi sangat terbatas pada pandangan pihak lain. Bahkan bisa jadi kita tidak sepenuhnya sadar bagaimana pihak lain mengidentifikasi diri kita. Sen, dalam bukunya memberikan contoh kenangan buruk yang ia alami ketika terjadi kerusuhan Hindu-Muslin di India pada 1940an. Sen menulis “ Identitas sedemikian banyak orang sebagai orang India, sebagai penghuni anak-benua Asia Selatan, sebagai seorang Asia, atau sebagai umat manusia tampaknya usai sudah. Sekonyong konyong identitas tersebut berganti dengan identitas sektarian sebagai kmounitas Hindu, Muslim, atau Sikh. Melalui perilaku kawanan inilah orang-orang dipaksa ‘menemukan’ identitas baru mereka yang saling bermusuhan, tanpa mempertanyakan proses tersebut melalui pengujian kritis.” Bagaimanapun seorang Muslim, waktu itu, menyatakan identitasnya sebagai sesama orang India, seorang Hindu yang kalap akan tetap memandang Muslim tersebut hanya sebagai Muslim sesuai konteks sosial yang terjadi pada waktu itu (politik pemecahbelahan).

Pandangan mengenai identitas tunggal yang telah mengakar pada masyarakt dunia ini diperparah dengan munculnya tesis ‘benturan antar peradaban’. Tesis ini mencuat setelah Samuel Huntington menerbitkan bukunya, The Clash of Civilization and Remaking of the World Order. Menurut Sen, kelemahan pendekatan ini berpangkal pada kategorisasi tunggal seturut apa yang disebut sebagai garis-garis tajam. Huntington membuat kontras tajam antara “Perdaban Islam”, “Peradaban Hindu”, “Peradaban Buddha” dan sebagainya. Sen sendiri khawatir pandangan reduksionis yang demikian akan membuat konflik yang lebih hebat di kemudian hari. Tesis benturan antar peradaban juga mengabaikan dua hal penting. Pertama, tingkat keberagaman internal dari apa yang disebut sebagai sebuah peradaban. Kedua, interaksi intelektual maupun material yang melintasi regional yang disebut peradaan itu sendiri. Selain kalsifikasi tunggal yang problematik, tesis benturan antar peradaban memiliki kelemahan lain yaitu karakteristik yang diberikan pada peradaban-peradaban tersebut dilakukan secara serampangan. Sebuah peradaban dianggap kaku dan jumud tanpa analisa empiris yang baik mengenai masa lalu dan masa kini.

Kemudian Sen mencontohkan klasifikasi yang serampangan dari tesis tersebut dengan mengambil contoh negaranya sendiri, yaitu India. Mengutip Sen “Dengan menggambrakan India sebagai ‘Peradaban Hindu’, uraian Huntington tentang ‘benturan antar peradaban’ harus mengabaikna fakta bahwa India memiliki jumlah muslim ketimbang negar amanapun di dunia kecuali Indonesia dan berbeda tipis dengan Pakistan.” Boleh jadi India tidak digolongkan ke dalam ‘dunia muslim’, namun dengan jumlah muslim sebanyak 145 juta jiwa, kiranya msutahil memandang India kontemprer dengan menafikan peranan muslim dalam sejarah panjang negeri tersebut. Dalam paragraf lain Sen menulis “Lebih dari itu, muslim bukanlah satu-satunya penduduk non-Hindu diantara penduduk India. Sikh punya jumlah pengikut yang cukup besar, demikian pula Jain. India bukan Cuma menjadi tempat lahir Budhhisme. Selama satu alaf, agama dominan di India adalah Buddhisme, dan bangsa Cina kerap merujuk India sebagai ‘kerajaan Buddhis’.” Dari uraian Sen tersebut jelaslah bahwa karakterisasi India sebagai “peradaban Hindu” memiliki banyak kelemahan. Apalagi setelah pemilu 2004 silam, India memiliki seorang presiden Muslim, perdana mentri yang Sikh, serta seorang Kristen sebagai pemimpin partai pemenang pemilu.

Menurut Sen, yang juga saya amini, tesis “benturan antar peradaban” yang dibangun atas klasifikasi tunggal identitas yang serampangan akan semakin menguatkan pandangan masyarakat akan dimensi tunggal dari identitas seseorang. Sesorang hanya dinilai berdasarkan apa yang disebut Huntington sebagai ‘identitas yang unik dan penting’. Manusia tidak mungkin dipahami sebagai satu pribadi dengan banyak afiliasi dan bagian dari kelomok-kelompok yang berbeda. Tentu pandangan tersebut amat menyesatkan mengingat kenyataan yang terjadi hampir tidak memungkinkan untuk melihat seorang manusia hanya dari satu dimensi identitas saja.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ismail Faruqi’s story.