Cerita dari Jakarta

Jumat, 25 Agustus 2016. Tepat pukul sembilan pagi, aku bersama kawan-kawan Rumah Dialektika dan Pembebasan berangkat dari Bandung menuju Jakarta untuk menjadi saksi langsung putusan sidang Saut Situmorang. Ia sedang bernasib sengsara. Saut dituntut karena mengritik buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Malang betul nasibmu, Bang. Kau akan dipenjara hanya karena kau mengritik.

Aku bukanlah teman dari Saut Situmorang, tapi aku harus hadir dan menjadi pendukungnya. Karena kasus Saut merupakan kasus penting, setiap orang mempunyai hak untuk bebas berekspresi, namun hak saut berekspresi harus direnggut oleh UU ITE yang tidak jelas itu. Aku mengenal Saut dari puisinya yang berjudul “Aku MencintaiMU dengan Sepenuh JembutKU”. Sepanjang perjalanan aku terus dirundung rasa penasaran, seperti apakah sosok penyair malang ini?

Akhirnya, tepat jam sebelas siang kami semua sampai di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Setelah turun dari mobil, kami langsung pergi menuju ke kantin untuk bertemu Saut. Di kantin para pendukung Saut sedang berkumpul. Kedatangan kami disambut hangat oleh mereka.

Akhirnya, rasa penasaranku hilang. Aku telah melihat sosok Saut secara langsung. Ia berbadan besar, berperut buncit, memiliki tampang seperti mafia besar, dan bersuara seperti robot jahat yang sangat mendukungnya untuk menjadi seorang penyair. Ia tampak berwibawa dengan perut buncitnya.

Tak lama kemudian, datang kawan-kawan dari Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia (SEBUMI), dengan meninjukan tangan kiri ke langit, Benk, salah satu pentolan SEBUMI, berteriak, “Hancurkan budaya palsu, bangun budaya kerakyatan.” Para hadirin langsung bertepuk tangan. Kawan-kawan SEBUMI datang dengan membawa poster yang dipersembahkan untuk Saut. Di dalam poster termuat potret Saut yang sedang murung, membacakan puisi dengan memegang sebuah buku berjudul Menolak Tunduk. Poster tersebut menggambarkan bahwa kritik tak boleh bungkam, dan kita harus menolak terhadap segala bentuk ketidakadilan.

Jam telah menunjukkan pukul satu siang, menurut jadwal seharusnya persidangan dimulai. Namun, dikarenakan hakim sedang masuk angina, persidangan diundur dua minggu ke depan. Demi apapun, aku merasa sangat kecewa. Setelah mendengar bahwa sidang diundur, para pendukung Saut yang berang mulai beraksi. Mereka membentangkan banner bergambar Saut persis seperti di dalam poster, hanya kali ini wajah Saut tampak lebih murung. Di atas gambar terdapat tulisan “Lawan Kriminalisasi”. Setelah itu, mereka melakukan aksi “LongMarx” dari kantin menuju ke halaman depan Pengadilan Negeri Jakarta Timur dengan diiringi lagu Internationale dari para penonton, keberangan para pendukung Saut pun semakin membara.

Setelah sampai di halaman depan gedung Pengadilan Negeri Jakarta Timur, massa langsung membuat barisan setengah lingkaran. Massa yang telah membara, satu persatu memulai aksinya: membaca puisi serta berorasi dan bernyanyi. Lagi-lagi, Benk SEBUMI membuat suasana menjadi riuh. Ia melakukan aksi teatrikal yang membuatku berdecak kagum. Benk membungkan mulut dengan tangannya, lalu ia berteriak-teriak, yang terdengar hanyalah suara gumaman yang tidak jelas, spontan aku langsung bertepuk tangan dengan sekeras-kerasnya.

Aksi para pendukung Saut pun di tutup dengan pidato salah satu pengacara tangguh yang sangat revolusioner, Asri Vidya Dewi. Dengan sorot mata tajam dan suara lantang, ia berkata “kawan-kawan, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua kawan-kawan yang telah hadir di sidang putusan Saut yang harus ditunda ini. Dua minggu lagi, tepat pada tanggal 8 September, kita semua harus berkumpul lagi di sini untuk mendukung Saut. Ingatlah, kawan, perjuangan kita tak akan berhenti sampai di sini. Kita akan datang lagi dan berlipat ganda. Terima kasih.” Tepuk tangan dari para penonton menutup pidato tersebut.

***********

Pukul 16.20, aku bersama teman-teman Pembebasan pergi meninggalkan Pengadilan Negeri Jakarta Timur menuju ke kantor LBH Jakarta di Jl. Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat. Pukul 17.30, kami tiba di kantor LBH Jakarta. Kedatangan kami disambut oleh kawan-kawan dari Gema Demokrasi. Gema Demokrasi merupakan gabungan organisasi yang memperjuangkan hak-hak demokrasi rakyat. Siapa saja yang tidak demokratis, maka siap-siap saja kalian akan digedor menggunakan palu oleh mereka.

Saat itu, hujan tengah membasahi Kota Jakarta dan jalanan tampak begitu macet. Kami pun menunda kepulangan sampai keadaan jalanan sudah sedikit senggang. Di depan kantor LBH aku merenung memandangi rintikan hujan yang turun dari langit. Di sampingku duduk seorang perempuan, rambutnya sebahu, berkacamata tebal. Ia mengenakan jaket jeans dan celana pendek berwarna putih. Tiba-tiba saja ia pergi. Saat ia beranjak, aku memandanginya dan aku kaget. ternyata di belakang celananya ada sedikit noda berwarna kuning kehijau-hijauan. Tampak seperti bekas tai.

Dari kejauhan tampak seorang lelaki sedang berjalan menuju ke arahku, wajahnya sangat tak asing. Aku tau siapa pria itu. Ia, Filep Karma, seorang pejuang kemerdekaan Papua. Aku mengenalnya dari sebuah buku berjudul Seakan Kitorang Setengah Binatang. Buku itu menceritakan perjuangan Filep Karma melawan kolonialisme Indonesia di Papua. Perjuangannya tak tanggung-tanggung. Pada Juli 1998, Bung Filep Karma memimpin pengibaran bendera bintang kejora di Biak, sebuah simbol kemerdekaan rakyat Papua. Empat hari setelah Bintang Kejora dikibarkan, tentara datang menduduki Biak. Mereka memuntahkan ribuan peluru. Lebih dari 100 pejuang demokrasi Kota Biak dibantai, dan sisanya hidup dalam pelarian.

Filep Karma terus berjalan mendekat. Dan wuss, ia berjalan melewatiku masuk ke dalam gedung. Kesempatan ini tak boleh kulewatkan begitu saja. Aku beranjak dari tempat duduk, dan menuju ke dalam gedung untuk berkenalan dengannya. Di dalam, Bung Filep Karma sedang asik berbincang dengan kawan-kawan, tanpa basa-basi aku pun langsung nimbrung. Setelah cukup lama berbincang kami pamit pulang. Sebelum pulang, kami semua meminta Bung Filep Karma berfoto bersama. Sungguh, hari yang panjang.