Lupa Rasanya Jatuh Cinta dengan Tulisan Sendiri

Sudah hampir setahun ini gue rutin melepaskan diri dari kegiatan awal yang membuat gue terjun ke industri kreatif — menulis. Padahal, dulu sekali gue selalu menulis untuk melepaskan stres atau penat dari pekerjaan atau bahkan pekaknya dunia yang riuh ini. Menulis sempat menjadi terapi untuk gue, yang sekarang harus tergantikan oleh social media. Yah, pada dasarnya memang pekerjaan gue berkutat dan memantau tren terbaru di social media, jadi gue tidak akan menyalahkan situasi dan kondisi.
Gue lupa betapa asyiknya goresan tangan saat mulai menulis layout sebuah tulisan, lalu ditransformasi menjadi tulisan panjang seperti yang gue tulis sekarang ini. Gue lupa betapa menyenangkannya bunyi tuts keyboard yang ‘cetak-cetuk’ dan kata-kata yang mulai memenuhi layar yang kosong. HAL ITU SANGAT MENYENANGKAN!
Gue ingat pertama kali jatuh cinta dengan tulisan orang lain — “Sang Nabi” dari Khalil Gibran adalah buku yang bertanggung jawab untuk hal tersebut — tapi lupa rasanya jatuh cinta dengan tulisan sendiri. Gue terlalu disibukkan dengan pekerjaan yang mencengkeram hingga lupa rasanya menjadi kreatif tanpa perlu tendensi sana-sini. Gue sangat kangen hal itu.
Padahal, 4 tahun yang lalu gue sangat rajin menulis. Apapun bentuknya. Mulai dari cerpen, prosa, puisi, opini, hingga artikel pesanan klien yang berfungsi untuk membiayai kesukaan gue dengan menulis. Melalui tulisan sederhana ini, gue ingin memulai kembali. Menulis kembali tanpa perlu merasa takut akan kehilangan apapun. Semoga rupa dari tulisan ini sampai ke siapapun yang pernah bertukar pikiran dengan gue atau lo yang tak sengaja membuka tulisan ini.
Semoga nanti kita bisa “bercinta dalam kata-kata” kembali. Semoga tulisan ini mendapatkan tempatnya di hati. Semoga gue jatuh cinta lagi dengan tulisan gue sendiri.