Cukup Menjadi Kalahan Saja

“Modyaroooo…,” umpat Pak Lik di tengah-tengah menonton pertandingan Indonesia vs Malaysia. Pak Lik saya ini memang fanatismenya luar biasa. Ia adalah mantan brajamusti yang kegerangannya tak tertandingi. Tapi, barangkali dia lupa ia sedang nonton sepak bola di rumah orang tepat di samping mushola. Ia pun mungkin lupa kalau ia dari rumah niatnya ngaji. Alhasil hilang sudah kegarangannya tatkala ia mengumpat terlalu keras dan sadar pak kyai di sebelah sedang ceramah.

Hilangnya kegarangan Pak Lik saya itu pun disusul dengan kekalahan Indonesia. Beruntung juga dia, ternyata Pak Lik tidak sendirian merasa malu. Ribuan bahkan mungkin jutaan rakyat Indonesia yang sempat mengumpat tatkala bendera Indonesia terbalik menyusul Pak Lik kerukupan sarung. Untung saja Malaysia terlampau jauh, coba saja dekat pasti wasit itu dipukul Pak Lik. Dan dijamin suporter kuning hitam itu pun bakal pulang babak bundas.

“Tapi, ya, selamat untuk Malaysia. Kalian menang dan kamilah yang kalah sebab kami lebih suka kalah. Kami tidak mau jumawa. Jadi, ya kalian pun jangan sombong…” tulis seorang kawan dalam sebuah meme.

Agar dapat merasakan kemenangan memang perlu merasakan kekalahan. Kalau menang terus dan belum sekalipun kalah itu monoton dan bukan kemenangan. Hanya sebuah kebiasaan. Barangkali itulah yang ada dibenak Connor mcgregor tatkala harus bertinju dengan The Money. Lebih baik Ia kalah di ring tinju dari mayweter daripada ia monoton menang di ring MMA.

Sebenarnya sadar atau tidak, kalah adalah kebutuhan. Bukan soal keumuman dan keniscayaannya, tapi memang kalah adalah ruh tersendiri bagi setiap orang. Ilmuan butuh gagal ataupun penolakan terhadap temuannya hingga kemudian menang dan dipuja-puja beberapa waktu setelahnya. Sama halnya dengan marxisme, bukankah itu besar karena konvensi orang-orang kalah?

Kiranya bagi mereka kemenangan adalah kebebasan. Tapi kenyataannya tidak mutlak seperti itu. Bukan hanya menang yang berarti kebebasan, tapi kalah pun sama. Orang kalah mau tidur dimanapun pasti aman. Orang kalah mau makan atau gak makan sekalipun juga aman. Bahkan mungkin sekarat pun pasti tak membuat risau orang. Orang kalah mempunyai privillege pemakluman. Pemakluman sendiri dapat berarti kebebasan. Jadi, orang akan senantiasa maklum dengan apa yang diperbuat orang kalah.

Saya kira menjadi orang kalah itu pun enak. Bagaimana tidak? Orang pandai di kelas yang secara rutin menduduki ranking atas pasti banyak mendapat perhatian guru, apalagi tatkala nilainya anjlok. Si pandai itu hilang kebebasannya. Ia bisa jadi saking diperhatikannya sampai dilarang ini-itu. Jajan, ngegame, dolan, pacaran, ataupun yang lain. Padahal di usianya sebagai pelajar adalah sudah sewajarnya untuk bebas mencari jati dirinya.

Beda dengan orang kalah yang relatif santai. Seiring berjalannya waktu, orang lain akan maklum, dipandang goblok, dan selesai. Orang lain tak akan banyak mempermasalahkan lagi.

Tapi, Pak Lik, kalah ya kalah. Terima saja dan disyukuri. Buka saja sarung yang menutupi wajahmu itu. Ganyang Malaysia ala Bung Karno itu sudah jadul. Apa pentingnya ganyang menggayang itu? Pak Lik kan sudah hampir masuk kepala lima, buat apa meracuni anak-anak muda dengan mengunggul-unggulkan bangsa ini? Apa untungnya bagimu Lik?

Tak usah sok fanatis seakan-akan Indonesia adalah negara yang besar dan unggul.

Cukup bilang saja, ‘Indonesia itu kalahan’. Indonesia itu pecundang, miskin, bodoh, tak berbudaya dan lain-lain. Intinya Indonesia itu negara minus.

Lik, anak-anak sekarang, termasuk saya, itu ndableg. Sudahlah biarkan saja kami tahu sendiri bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar tepat setelah kami dapat mencapainya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.