Kenapa Saya Suka Melakukan Hal-Hal, Sendiri.
“Winny, sendiri aja? Kok enggak sama yang lain?”
Sapaan seperti di atas kerap kali dilontarkan oleh mereka yang berpapasan dengan saya. Biasanya sih, dalam perjalanan pulang dari Pujasera Blok M, makan siang atau makan malam. Saya sih cuma tertawa kecil sambil mengeluarkan excuse terbasi: “Iya nih, anak-anak kerjaannya belum kelar. Jadi duluan deh.”
Atau sebaliknya.
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —
Kenapa saya suka melakukan hal-hal sendirian?
Gampangnya, karena enggak suka ngomong aja sih. Atau pura-pura peduli dengan apa yang orang-orang omongin. Melelahkan. Selain enggak nyambung, saya juga enggak pede menanggapi karena gaya hidup yang berbeda (jauh).
Biasanya yang akan mereka obrolkan bakal berkisar konser musik band luar di luar negeri. (Enggak sanggup)
Atau rencana liburan weekend di Bali. (Enggak sanggup)
Atau rencana hang out di Beer Garden. (Enggak mungkin)
Atau gosip-gosip internal kehidupan pribadi. (Enggak paham dan enggak mau ikut campur)
Jadi ya, daripada awkwardly sitting there and quiet all the way, mending enggak usah sekalian. He he.
Oh iya, satu lagi. Mereka mah makannya di Dapuraya terus. Sebagai seseorang yang nyari kos-kosan aja penuh pertimbangan dan pakai diukur jaraknya pakai jarak ojek online maksimal Rp 5000, tentu aja saya (enggak sanggup).
Ya gitu deh.
