The ‘Lelaki Kardus’ Effect

One of clip from ‘Lelaki Kardus’ Video

Pada tahun 2016, lagu berjudul “Lelaki Kardus” mendadak viral di media sosial. Pelantunnya seorang bocah berumur belasan tahun. Suaranya juga terdengar merdu dengan iringan qasidahan. Namun banyak netizen mengecam lantaran lirik lagu yang dibawakan bocah ini terlalu vulgar dan penuh cacian. (Link Video)

“Lelaki kardus, Lelaki kencrot, Lelaki mencret, Lelaki bangsat”

Lagu ini mengisahkan kisah nyata di keluarga sang penyanyi cilik ini. Ayahnya meninggalkan keluarganya demi mengejar perempuan lain. Ketika sang ibu menuntut cerai, ia malah dipukuli oleh sang suami. Kini si suami telah kabur ke Bali dan tinggal bersama istri barunya. Kisah pilu kehidupan keluarga ini pun menjadi inspirasi untuk lirik lagu tersebut.

“Bapakku kawin lagu, Aku ditinggalin… Ibu minta cerai, tapi dipukulin…”

Berbagai badan pemerintahan menilai lagu yang dinyanyikan anak-anak di bawah umur ini tidak pantas dinyanyikan oleh mereka. Menyikapi hal tersebut, KOMINFO melayangkan permintaan kepada Google agar video tersebut dicabut dari Youtube.

Namun apakah langkah tersebut berhasil? Bukannya video itu hilang ditelan bumi, video ini malah membludak tersebar luas di sosial media. Kini jutaan orang pun menjadi tahu video ‘yang diblokir’ ini. Kini lebih dari video mencapai 1,7 juta views Youtube dan terus bertambah, belum lagi video-video reaksi dari video ‘Lelaki Karpet’ ini. Langkah pemblokiran video malah berakhir buntung. Bukannya berhasil membuat orang lain tidak tahu, jutaan orang jadi tahu video kontroversial ini.

Fenomena ini dikenal dengan The Streisand Effect.

Foto Mansion milik Barbra Streisand

The Straisend Effect

Fenomena ini terjadi ketika usaha untuk menutupi, menghilangkan, mensensor suatu informasi malah mengakibatkan infomasi tersebut tersebar makin lebih luas, biasanya melalui internet.

Fenomena ini berasal dari nama seorang artis amerika, Barbra Streisand. Pada tahun 2003, Streisand menuntut (CCRP) California Coastal Records Project yang menyimpan dan menampilkan online foto-foto sepanjang garis pantai California. Salah satu foto mansion Streisand terpampang pada website California Coastal Records Project tersebut. Karena merasa merasa privasinya terancam, Streisand bersama pengacaranya pun mengirim gugatan senilai 50 juta dollar terhadap sang fotografer dan juga beberapa gugatan lainnya kepada servis penyimpan gambar online.

Alih-alih privasinya terjaga, berita penuntutan ini pun tersebar luas ke media dan kemudian menarik perhatian lebih dari 420 ribu pengunjung ke website California Coast Line pada tahun 2003. Sejak itu pun, nama Streisand effect pun mulai dikenal dan foto mansionnya Streisand makin tersebar keseluruh dunia.

Several reaction videos of ‘Lelaki Kardus’ video

The ‘Lelaki Kardus’ Effect

Kini video lelaki kardus sudah tersebar secara luas di media TV dan sosial media. Semuanya berawal ketika media sosial mulai menyebarkan berita KOMINFO yang meminta Google mencabut video tersebut dari Youtube.

Pada tanggal 30 Juni 2016, CNNIndonesia menyebutkan rata-rata viewers video ‘lelaki kardus’ mencapai 1.000 kali ditonton. Lima hari kemudian, setelah berita lelaki kardus tersebar luas, jumlah viewers pun membengkak menjadi secara total sekitar 1,3 juta, itu pun belum terhitung penonton dari TV, sosial media dan berbagai video respon lainnya di Youtube. Bukannya berhasil, usaha pemblokiran video ‘Lelaki Kardus’ malah berakibat sebaliknya, jutaan orang pun kini telah mengetahui video kontroversial ini, Inilah yang saya sebut sebagai The ‘Lelaki Kardus’ Effect.

Apa yang salah dari ini semua?

Jawabannya adalah media yang berperan besar menyebarkan video ini hingga viral. Pemberitaan video ini dimana-mana membuat banyak orang penasaran untuk melihatnya di Youtube. Pada awalnya view dari video tersebut hanya sekitar 1000an, lalu seminggu setelah mulai pemberitaan di TV, views di Youtube membludak enjadi lebih dari 1,5 juta views. Hanya membutuhkan beberapa hari untuk membuat video ini menjadi berita skala nasional.

Bandingkan dengan dua video lagu lainnya yang beredar di Youtube, video lagu ‘Berak Tak Cebok’ (link) dan video lagu ‘Otak Bokep’ (link). Kedua video tersebut sama-sama kurang senonoh apalagi pada video yang kedua. Selain itu, video tersebut juga berpotensi menimbulkan kontroversi namun hal tersebut tidak terjadi. Lagu ‘Berak Tak Cebok’ memiliki total hanya 140 ribu views selama 3 tahun, sedangkan lagu ‘Otak Bokep’ terdapat 300 ribu views selama 4 tahun. Berbeda jauh dengan video ‘Lelaki Kardus’ yang mencapai 1,7 juta views hanya dalam 2 minggu saja. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kedua video pertama tidak mendapatkan sorotan berita di TV dan berita online, sedangkan video ‘Lelaki Kardus’ disebar kemana-mana bagaikan gosip panas.

Meskipun KPAI memanggil pembuat video dan yang bersangkutan telah meminta maaf, kini video tersebut sudah tersebar kemana-mana. Nasi telah menjadi bubur dan semen telah mengering. Tak banyak lagi yang bisa dilakukan terhadap video ini. Namun hal yang bisa dilakukan adalah mencegah ‘The Lelaki Kardus’ Effect terjadi lagi pada kasus selanjutnya.

Ada dua hal yang pemerintah sebaiknya lakukan agar mencegah kejadian yang serupa. Pertama, ketika KOMINFO akan memblokir suatu video kontroversial di youtube, pastikan berita tersebut tidak tersebar ke media publik. Jika pemerintah bisa mencegah tersebarnya berita dari sumber awalnya, maka semua ini dapat tercegah. Kedua, jika KPAI menilai suatu video tidak layak untuk tersebar di media publik, pastikan media didorong agar tidak membantu men-share berita tersebut. Contohnya video panas Ariel-Luna Maya mendapat popularitas besar-besaran di Indonesia karena pihak media berita.

Pemblokiran suatu konten bukanlah selalu menjadi solusi atas segala masalah. Memblokir sesuatu malah seringkali menimbulkan rasa penasaran dan ketertarikan di mata publik. Masyarakat juga perlu didorong secara halus tapi efektif jika ingin mengubah perilaku masyarakat.