Home Is Where The Heart Is

Bagi beberapa pengamat dan kritikus film, Manchester By The Sea punya berbagai penilaian. Bagi mereka yang menyukai plot, kebanyakan memberikan nilai 4–5/10. Memang plot film ini berjalan lambat, tipikal past-present screenplay seperti Boyhood, terasa membosankan. Bagi saya sendiri, peran Cassey Affleck sangat bagus dan berkarakter. Didukung dengan pengambilan gambar di kota Manchester-by-the-sea yang sangat apik.

Casey Affleck sendiri berperan sebagai Lee Chandler, seorang pria yang bekerja sebagai handyman di kota Quincy, Massachussets. Dengan sangat terpaksa dia harus kembali ke kampung halamannya (Manchester-by-the-sea) karena kematian sang kakak yang mewasiatkan untuk mengurus anaknya. Lee harus membiasakan diri dengan kehidupan barunya di kota tersebut, dia meninggalkan kenangan buruk karena kematian anak-anaknya akibat kesalahannya sendiri. Lee akhirnya bertemu orang-orang lama yang membantunya kembali bangkit dari keterpurukan. Mencoba bernostalgia dengan kota lamanya.

Saya sangat menyukai film-film yang menyajikan sisi lain kehidupan Amerika. Kebanyakan film Hollywood menyajikan hiruk pikuk glamoritas dan hedonisme New York-Los Angeles sebagai kiblat East Coast dan West Coast. Manchester By The Sea memberikan cerita lain bagi average american.

Kehidupan kota kecil dimana satu sama lainnya saling mengenal. Tidak ada batasan privasi antar mereka. Melepas rutinitas bekerja dengan berkumpul bersama rekan sejawat di rumah ataupun bar. Tim olahraga sekolahan yang menjadi kebanggaan kota. Fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit dan kantor polisi yang hanya satu, diisi oleh orang-orang yang mereka kenal.

Saya sendiri menghabiskan masa muda di sebuah kota kecil. Seringkali setiap pagi sebelum berangkat sekolah sambil mengendarai sepeda melihat sepasang suami istri bercengkerama di teras rumah. Sang suami membaca koran di saat istri menyajikan minuman dan camilan. Yah, tipikal kehidupan kota kecil yang tidak terburu waktu dan tendensi serta ambisi yang kecil. Sudah lebih dari satu dekade saya meninggalkan kota itu. Meskipun kota itu bukan kota kelahiran saya, tapi saya selalu menaruh hati dengan suasana kehidupannya.

Tidak bisa kita hindari kehidupan dunia yang dinamis, banyak tuntutan modernitas di setiap aspek kehidupan, salah satunya pembangunan kota. Saya menemui banyak perubahan terhadap kota itu, banyak bangunan baru yang modern dan tentunya berbanding lurus dengan pertambahan penduduk serta lalu lintas yang padat. Ada satu hal yang saya cermati, beberapa gerai makanan modern mulai dari restoran cepat saji hingga coffee shop menjamur di kota ini dengan menu internasional. Seiring bermunculannya gerai makanan modern, terkikis juga gerai makanan tradisional yang menjadi ciri khas kota tersebut. Kota kecil tersebut sudah berubah seperti miniatur ibu kota dengan mencoba membawa sendi-sendi kehidupanya di berbagai aspek.

Poin yang ingin saya ambil bukan dari penyangkalan terhadap kehidupan modern ataupun persaingan bisnis dengan segala intriknya. Bagaimana rasanya apabila pulang kampung tidak ada lagi yang dirindukan? Semua hal yang ditemui dan dirasakan sama seperti di perantauan, apalagi bagi mereka yang merantau di ibu kota dengan modernitas plus kompleksitasnya.

Sering kita mendengar berita, pelajar yang harus menempuh pendidikan di luar negeri dengan jaminan pekerjaan dan penghidupan yang lumayan menjanjikan, akhirnya kembali juga ke kampung halamannya. Atau cerita tentang narapidana yang kabur dari penjara setelah dilakukan pencarian ternyata bersembunyi di rumah orang tuanya di kampung. Sama halnya dengan Lee Chandler, meskipun punya kenangan buruk dengan kampung halamannya dan mencoba berlari ke kota lain, akhirnya dia kembali ke kampung halamannya. Ya begitulah rasanya kembali kepada sesuatu yang kita rindukan. Apa rasanya kalau yang kita rindukan akhirnya hilang dan menemukan hal yang sama seperti tempat kita bersandar untuk kehidupan selama ini. Ini seperi krisis identitas dalam wujud lain. Tak tentu arah apabila pulang kampung. Semoga ini tidak terjadi di kota-kota lainnya.

Home is where the heart is.

Like what you read? Give Y A N a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.