The Beauty Of Symphony

Awal mula genre Black Metal sampai sekarang saya belum paham bagaimana asal muasalnya. Ada beberapa yang menyebutkan berasal dari negara-negara Skandinavia, ada juga yang menyebutkan dari Amerika Serikat. Tapi sudahlah, tidak usah diperdebatkan, toh akhirnya kita menerima secara utuh komposisi musik Black Metal. Dari beberapa band yang saya dengar, musik yang ditawarkan cenderung monoton, distorsi gitar dengan riff dan melodi yang rumit, gebukan drum yang saya sendiri menyebutnya hyperblast hingga vokal yang seram dengan lirik tentang anti tuhan, kematian bahkan pembunuhan.

Saya mencoba untuk mencari alternatif lain dari genre Black Metal ini. Saya lupa, mungkin circa tahun 2002, saya dan sahabat saya membeli sebuah fanzine produksi Bandung, Fallen Angel Magazine. Di fanzine tersebut terdapat bonus kaset kompilasi band-band mancanegara yang kebanyakan roster dari Goodlife Recording. Ada satu band yang menarik di telinga saya, Dead Blue Sky, band asal Ohio, Amerika Serikat. Awalnya saya mengira ini band Black Metal dengan sentuhan gothic, sampai akhirnya mendengarkan secara berulang-ulang track ‘when time was time and life was breath’, pada bagian bridge ada lantunan angelic voice.

Sangat sulit untuk memberikan label genre apa yang dimainkan oleh Dead Blue Sky. Mereka memainkan melodi-melodi teknikal yang unik dan indah, selipan angelic voice, lirik yang emosional tentang empati. Saya sendiri baru bisa mendapatkan rilisan fisik album ‘Symptom Of Unwanted Emotion’ pada tahun 2012. 10 track yang tidak mengecewakan, dengan layout album seadanya. Satu hal yang unik dari album ini, judul lagu yang sangat emo seperti ‘My Sadness Has No Season’, ‘Beneath The Autumn Sky’, ‘Ascension Of Beauty’. Kalau mau mengulik lebih dalam lirik-liriknya, sangat puitis, depresi tingkat tinggi, bertolak belakang dengan musiknya yang gahar dan megah.

Terakhir dengar kabar kalau Dead Blue Sky bubar, menyisakan 1 LP, 1 EP dan 1 live album. Sayang sekali kalau mereka harus bubar, karena musik yang mereka buat memberikan suasana baru di genre metal. Saya akhirnya mencoba mencari-cari berbagai macam band yang mirip dengan Dead Blue Sky dari segi genre. Tetapi memang susah untuk menemukannya, hingga pada satu waktu dengan bantuan last.fm saya menemukan band yang boleh dikatakan mirip musiknya dengan Dead Blue Sky yaitu Deafheaven.

Deafheaven, mungkin bisa dikatakan sebagai pionir genre blackgaze. Saya agak bingung dengan genre ini, setelah eksplore sana sini ternyata genre blackgaze ini mempadukan genre black metal dengan shoegaze. Deafheaven sendiri dalam beberapa wawancaranya sangat terpengaruh dengan genre shoegaze seperti Mogwai, My Bloody Valentine dan Ride. Bisa dibayangkan perpaduan skandinavian black metal dengan shoegaze, hasilnya Deafheaven. Sampai saat ini mereka baru merilis 3 album penuh. Di album Sunbather, mereka bukan hanya memadukan black metal dan shoegaze, banyak track yang juga diramu dengan post-rock ala Godspeed You! Black Emperor. Memang tidak bisa disamakan musik yang dibawakan Dead Blue Sky dengan Deafheaven, tetapi setidaknya mengobati kerinduan saya akan hadirnya Dead Blue Sky.

Aesthetic!

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Y A N’s story.