“Ramalan masa depanmu, adalah ketidakpastian!”

.andri kamajaya
Nov 7 · 5 min read
“Hmm, gimana ya?”

Sepertinya sebagai manusia, kita selalu hidup di masa sekarang serta masa lalu, dan takut pada yang di depan. Setidaknya itu yang dapat kurasakan pada saat ini. Aku termasuk orang yang sangat takut ama masa depan. Apa yang terjadi sekarang, bener-bener bikin masa depan sangatlah muram, walaupun kadang itu biasa aja sih, masalah sepele. Tapi, bagiku rasanya begitu nyata dan mengancam.

Being an anxious and introverted person, aku adalah orang yang sangat-sangat mengapresiasi dan suka akan masa lalu. Kenapa harus mikirin masa depan sih? Lebih enak diem aja, nonton kehidupan orang lain. Santuy. Tapi pastinya, mau ga mau, kita harus tetap maju ke depan buat bisa berproses (kata kaka organisasi sih, gatau bener atau ga).

Kolom pencarian Google tentang “ramalan masa depan” selama tujuh hari terakhir, dengan 100 kali pencarian sebagai puncaknya.

Masa lalu itu jelas, masa kini itu yhaaaaaaa masa kini, dan masa depan itu bikin was-was. Sampai-sampai istilah ramalan masa depan, peramal, oracle, prediksi togel (eh) masih ngetren sampai sekarang. Imbasnya, sampai aku sendiri dipercaya ama temenku sendiri buat ngeramal masa depannya. Padahal sih, kalau dilihat temenku ini termasuk orang yang bener-bener bakal sukses, bakal bisa jadi apa aja deh dengan otaknya. Tapi, dia pun masih bertanya-tanya akan apa yang bakal terjadi. Fear is universal after all.

“Waduh mampus disuruh cepat lagi anjir.”

Bukannya sombong nih ye teman-teman, aku walau takut ama masa depan, aku punya kesaktian yaitu aku emang bisa ngeramal masa depan. Ramalanku ga pernah salah, dan ga pernah bisa disalahkan. Pengetahuanku sudah sangat luas, mata ketigaku udah kebuka, indra keenamku sangat sensitif. Guruku juga ga sembarangan, terkenal di Asia Tenggara, bahkan dunia.

Setelah membuat temanku menunggu lama akan jawabannya. Aku menarik benang-benang takdir itu dan menyimpulkan masa depannya. Ramalan masa depan untuknya adalah…

“semua masa depan itu tidak pasti.”

Masa depan itu tidak pasti. Dan, aku tidak akan pernah salah dengan ramalan itu.

Inti dari masa depan adalah ketidakpastian, kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi, kita tidak pernah tahu apa yang bakal kita temui. Apapun yang kita lakukan, kita hanya akan bisa melihat gambaran buram akan apa yang terjadi di esok hari.

Mari kita liat ini dari kacamata lain, kalian suka nonton Game of Thrones? Harry Potter? Avengers? Stranger Things? End of the Fxxking World?. Dari semua serial itu, ada satu hal yang dibenci oleh penggemarnya.

Spoiler.

Spoiler.

Kenapa mereka ngga suka spoiler, padahal kan dengan spoiler mereka bisa menghindari sakitnya ketika karakter utamanya putus, atau mati. Mereka bisa melihat apakah nanti happy ending atau bad ending, mereka ga perlu khawatir akan hal-hal buruk dan bisa menikmati yang enak-enak aja.

Jawabannya, mereka suka bagaimana ceritanya terbuka satu persatu, bagaimana karakter ini development-nya ama moral view-nya berkembang. Ketika klimaks dan konfliknya tidak tertebak, ketika plot twist-nya bener-bener mindblowing.

“ It was about confronting the unexpected on the screen and in the life it dramatized and interpreted, and enlarging the sense of what was possible in the art form.” — Martin Scorsese

Disini kita bisa menarik kesimpulan. Nyatanya manusia itu ngga bisa lepas dari ketidakpastian. Mereka suka ketidakpastian walaupun mereka ngga mengakuinya. Mereka suka ketika hidup mereka menarik penuh up and down. Masokis banget. Hidup kita harus selalu menarik, stagnansi serta alur yang monoton bisa membuat kita gila, dan begitu bosan akan kehidupan.

Terkadang juga kita bener-bener mau hidup itu kaya gini, sesuai big plan kita, sesuai apa yang kita mau. “Pokoknya mau sukses, aku udah kerja banyak buat ini!”. Kita begitu menginvestasikan diri kedalam rencana dan prediksi itu ketika semuanya malah nggak berjalan rencana, kita jadi sedih dan marah.

Terlalu mengandalkan suatu pengharapan masa depan, suatu “seharusnya”, itu namanya cari-cari masalah. Dan akhirnya kita dimakan rasa takut. Mampus kau dikoyak rasa takut.

Kalau kalian memiliki pegangan agama yang kuat kalian mungkin bisa bilang “Takdir Tuhan itu pastilah baik. Paling baik.” Optimisme ini sebenarnya agak toxic karena pada akhirnya kita jadi berharap yang baik-baik dan ngga prepared ama yang buruk-buruk. Padahal dalam dalam kebanyakan agama juga, kita tau bahwa masa depan itu ngga ada yang tahu baik buruknya. Kontradiktif ya?.

Terus bagaimana dong?, sepertinya jawaban ini dijelaskan dengan baik dalam kutipan buku ini.

Membiarkan berlalu “si pengatur”, lebih menyadari saat ini dan terbuka terhadap ketidakpastian masa depan, membebaskan kita dari penjara rasa takut. Hal ini membuat kita dapat menjawab tantangan kehidupan dengan kebijaksanaan kita sendiri yang unik, dan menyelamatkan diri kita dari situasi­-situasi yang tak menyenangkan. — Ajahn Brahm.

Ajahn Brahm, biksu asal Australia dengan bukunya. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

Aku termasuk orang yang sangat beruntung bisa diberikan banyak keuntungan buat beli buku apa saja yang kumau, dan beruntung bisa menemukan satu buku unik yang sampai saat ini masih jadi inspirasi tulisan ini. Aku juga berusaha keras untuk tidak membuat ini menjadi promosi buku, tapi jika emang ada waktu dan juga uang yang cukup. Sisihkanlah untuk membeli trilogi buku ini, isinya bagus-bagus dan bermanfaat banget buat dibaca santai.

Kembali ke topik, apapun yang terjadi, everything’s gonna be (maybe) okay. Kita harus belajar menerima bahwa hidup itu emang bakal menyakitkan, dan ga sesuai yang kita mau. Ketidakpastian masa depan itu berkah buat kita, kita punya potensi luar biasa banyaknya buat ngelakuin apa saja. Kita tidak harus khawatir tentang apa yang terjadi di masa depan, karena apa yang terjadi, ya terjadi. Kita harus menyambut apapun itu, kita harus menyambut rasa sakit, mendekapnya, dan mengizinkannya. Kita akan menjadi bijaksana akan setiap keputusan kita. Karena pada akhirnya, rasa sakit itu akan pergi. Semua pasti berlalu.

“Kamu ngga bakal bisa tahu. Ketika itu sudah terjadi, maka terjadilah.”

Kehidupan adalah perjalanan, dan kita adalah musafir di tengah gurun itu. Entah mau kemana, entah apa tujuan kita. Kita bisa kemana saja, kita bisa dimana saja. Ga ada yang bilang kamu harus sampai di tujuan, kamu bisa aja menikmati waktumu melihat ke sekeliling, bermain di oasis, menemukan hewan atau tanaman unik ataupun tersesat. Hidupmu adalah hidupmu, nikmatilah ketidakpastian itu. As my good friend wrote in her article,

It’s okay to be lost. It’s okay to wander every where, stumbling upon blocks and cities you never visited. It’s okay to not knowing the answer to everything. It’s okay to be clueless of what’s happening, and not knowing where your next destination would be. — Hilya Khalisha

Untuk mengakhiri ini, aku cuma mau bilang. Tetap berjuang, dan take it slowly, gausah terburu-buru. Kamu keren banget udah sampai disini, dan kuharap bisa terus berjalan. Di tengah lautan ketidakpastian ini. Semuanya akan berlalu kok.

.andri kamajaya

Written by

I can’t quite explain what i am, the closest to describe it are the lyrics of The Smiths - Half a Person on 0:36.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade