I.

Ini untuk semua orang yang aku tak sempat habiskan waktu bersama karena kebodohanku.

Untuk keluarga, sahabat, teman-teman, dan entah siapapun itu—yang barangkali perlu banyak bersabar menghadapiku; tak apa, aku pun kadang mengumpati pantulanku.
Juga, untuk mereka yang kukenalkan (dengan) rasa marah, sedih, dan kecewa.

Untuk tiap orang yang perlu kutinggalkan demi menjaga dan memperjuangkan setiap mereka, dari diriku.


II.

Jujur,
aku merindukan suatu saat.

(Dan) suatu saat adalah suatu tempat dimana tebing antara Adam dan Hawa tak perlu menjulang langit tempat luka tak lagi menahan sepasang bibir untuk berbicara tempat manusia berhenti berbual dan berfantasi akan perjuangan dan cinta.

Suatu saat adalah tempat sayap-sayap mimpi terkembang lebar dan berlayar tertiup dersik dengan anggunnya menuju altar perwujudan.

(Dan) hanya sa-tu mimpi yang ingin kulayangkan.

Mimpi, akan kita yang duduk bersama-sama seraya menertawakan perbuatan takdir dan aktornya yang semena-mena.

Barangkali tidak di sini,
tidak di dunia yang penuh belukar batas dan aturan ini.

Tapi di sana,
di Suatu Saat.

ö.

Tulisan ini pertama kali dibuat terkhusus untuk ibu ketika telah lama tidak dapat menghabiskan waktu bersama. Namun, kali ini aku muat di sini untuk kau yang perlu bersama ibu, untuk kau yang perlu kembali pulang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.