APAKAH SAYA PECANDU RASA SEPI

Pukul lima pagi saya bangun, sebelum matahari samar-samar menembus jendela kamar saya. Ruangan ini begitu lapang untuk ditinggali satu jiwa, begitu lapang. Meski tak jarang di ruang kamar yang demikian lapang, jiwa ini sering merasa sesak.

Bangun, sembahyang, tak menentu pikiran ini memikirkan apa namun terus berpikir bahkan sudah mempertanyakan hal-hal di pagi hari. “Masih pagi Yana…”

Sepi. Begitu yang saya rasakan setiap kali dalam kesendirian, pun saya menyadari saya merasakan itu. Namun saya sering larut dalam sepi, memilih sepi sebagai kawan dibanding terjun dalam keramaian. Entah apa yang membuat saya gemar berlama-lama dalam sepi, bahkan tak jarang di tempat ramai pun saya membuat ruang sepi sendiri untuk diri saya.

Sumber : telegram/@heating

Saya adalah seorang yang senang bergelut di dunia social-activism. Kebahagiaan yang saya rasakan ketika dapat memberikan kebermanfaatan untuk orang lain — membenci menyusahkan orang lain. Mungkin itu juga yang membuat saya menyenangi sepi, senang berada di dekat banyak manusia ketika saya memang bermanfaat — selebihnya mencoba untuk tidak menjadi pecandu sepi.

Tapi apakah benar saya adalah pecandu rasa sepi? Jika ya, semoga saya tidak tenggelam. Namun, sering saya mengutuki kesepian itu sendiri, kontradiksi.

Pukul sebelas malam datang. Sepi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.