arifin yanu
Sep 8, 2018 · 2 min read

Ihwal Mengingat: Mengubah atau Mati?

Hari-hari ini, manusia dijejali beragam informasi. Benar dan salah menjadi asupan yang kini lazim ditelan otak. Disfungsi berpikir dipersoalkan, padahal semua begitu lahap mencaplok sampah-sampah.

Selama baru parfum masih menyengat, selama masih ada tisu-tisu untuk mengelap keringat di kening, semua tampak baik-baik saja. Sebatang rokok dinyalakan, dihirup, lalu dibuang asapnya yang bak asa manusia: sulit digenggam.

Tawa terdengar di mana-mana. Cahaya-cahaya terus berpendar. Nasi-nasi diciduk dari bakul, sebongkah daging terus dikuliti hingga tulangnya.

Tawa kembali pecah. Kebahagiaan seolah menjadi selimut yang menghangatkan. Membohongi diri sendiri saja tak disadari, bahwa saat itu hati mungkin sedingin es.

Padahal es perlahan akan mencair. Ia berpacu dengan waktu. Airnya akan menggenang, lalu mengering. Tampak semua baik-baik saja. Padahal kerusakan mengintai.

Saat tawa mengisi relung-relung kehidupan, di toko-toko dengan tulisan 'Pengamen Dilarang Masuk', ada sebutir nasi yang jatuh ke tanah. Satu dua tak masalah, masih ada ribuan butir di atas piring siap disantap.

Saat itu pula, manusia telah mengingkari ingatannya. Ingatan akan dongeng konyol jika nasi yang tidak diambil ketika jatuh akan menangis. Sedih tidak makan, setelah dirinya bersabar tumbuh dari gabah hingga tersaji di atas piring.

Belum lagi keringat para petani yang bertungkus lumus memanennya. Terbakar matahari dengan caping jeleknya, demi memberi kehidupan.

Lantas siapa yang memikirkan kehidupan petani? Hanya kerbau-kerbau yang setia. Hanya kerbau yang layak cemburu kepada petani karena tidak digunakan tenaganya.

Di era serba modern, manusia enggan berkeringat, menangis, dan meratapi kehidupan. Semudah membiarkan nasi jatuh ke tanah atau pergi plesiran demi hawa napsu dan gengsi.

Manusia malas mengingat kehidupan karena merasa hidupnya sudah susah. Dan betapa bejatnya mereka, yang merasa miskin padahal ketika lahir saja sudah telanjang.

Jika dunia memberi pakaian dan segala kebahagiaan, lantas mengapa sulit merenung dan bersikap membumi? Padahal hidup itu fana, mati yang abadi.

“…Lupa… Inilah masalah pribadi manusia yang besar, kematian sebagai hilangnya diri. Tapi apakah diri ini? Diri adalah keseluruhan dari segala sesuatu yang kita ingat. Jadi, yang membuat kita takut pada kematian bukanlah hilangnya masa depan, melainkan hilangnya masa lalu. Lupa merupakan sebentuk kematian yang hadir dalam kehidupan… Bangsa yang kehilangan kesadaran akan masa lalunya perlahan-lahan akan kehilangan dirinya…” — Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa.

Credit foto: Reuters

arifin yanu

Written by

Menulis suka-suka, tidak suka itu urusanmu. Tulisan tidak bisa mati.