Tentang dia yang kucintai

Tentang Dia yang Kucintai

Hatiku selalu diliputi keraguan-keraguan. Ragu-ragu antara dorongan ingin memadu hidup bersamanya dengan perasaan kuatir akan kemampuan diri bisa memberikan kebahagiaan kepadanya. Aku ragu-ragu setelah memawas diriku sendiri. Apalagi bila aku melihat pemuda-pemuda yang pernah mendekatinya dan gagal. Mereka adalah orang-orang yang lahiriah-batiniah, luar dan dalam, jauh melebihi aku. Lihatlah tampannya, cara- cara bergaulnya, ketaatan beragamanya, akhlaknya, apa lagi kekayaannya. Dalam masalah terakhir ini sebetulnya kalau aku hendak seperti pemuda-pemuda lain, kiranya tak akan begitu sukar, Tapi bukanlah sifatku untuk memasukkan faktor kemampuan orang tua dalam menilai keadaan sendiri. Aku tegak berdiri memakai kekuatanku sendiri tanpa merepotkan orangtua.

Karena itu walaupun keluargaku bukanlah keluarga miskin dan merupakan keluarga yang cukup terhormat dalam panilaian orang-orang di kampung, itu tidaklah berarti bahwa otomatis aku anaknya ini bukan orang miskin dan menjadi orang terhormat. Karena itu betapapun besar rasa cintaku padanya.

Aku harus selalu menahan diri dan sekeras-kerasnya berusaha agar cintaku ini tidak nampak padanya dalam sikap pergaulanku dengan dia. Biarlah dia tidak tahu bahwa aku betu-betul mencintainya. Alangkah beratnya berlaku seperti ini. Berat, karena itulah mungkin dorongan ingin memilikinya ini kadang-kadang tercermin pula dalam pergaulanku dan sikapku yang khusus terhadapnya. Bagaimana kalau dia betul-betul tahu aku mencintainya sedang aku sendiri selalu diliputi keraguan- keraguan dalam melangkah.

Ah, biarlah dia yang kucintai itu berbahagia di samping orang lain. Biarlah aku diam saja. Dia punya kans besar untuk mendapatkan orang yang melebihiku dalam segala bidang. Tiap setiap kali pikiran itu timbul, setiap itu pula dalam dadaku terasa sebuah sembilu mengiris deras dari atas. Pedih terasa di dada.

Bukan ini suatu pengingkaran terhadap hati nurani sendiri dan panggilan hidup?

4 Nopember 1968

Disadur dari Pergolakan pemikiran Islam: catatan harian Ahmad Wahib

Bandung, 17 Maret 2017 00.09 WIB

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Yarga Puritza’s story.