Bekas luka Paskibraka..

Detak jam masih sama.. waktu yang kini telah berubah.. waktu yang dulu “kini” menjadi “masa lalu”.. waktu yang dulu “masa depan” berubah menjadi “masa kini”.. tapi goresan luka itu masih saja meninggalkan bekas.. tapi saya tak lagi mempedulikannya.. hingga tanggal 27 Februari 2016.. luka itu memang tidak menganga tapi perihnya masih terasa..

Awal tahun 2010 saya mengikuti pemilihan bakal “CAPAS” (calon paskibraka).. begitu kami menyebutnya.. latihan demi latihan seleksi demi seleksi saya ikuti sampai akhirnya kata “bakal” hilang di depan kata “capas”.. ini berarti seleksi telah usai.. tinggal latihan sampai menuju hari-H yang kita tingkatkan..

Awalnya biasa saja.. saya dan beberapa teman menjadi wakil dari sekolah.. bahkan sebelum seleksi,, kami punya tekad untuk tetap bersama,, walau nanti bakal berbaur dengan teman dari sekolah lainnya.. “jangan saling meninggalkan jangan saling memberi jarak karena kita berasal dari satu sekolah” itu kalimat yang masih saya ingat ketika menulis ini..

Sampai detik ini saya tak pernah mengerti darimana awalnya.. apa sebabnya atau bagaimana proses terjadinya.. tiap kali saya tiba di tempat latihan,, mereka mulai membisikkan entah apa.. tapi pandangan jijik itu masih saya ingat dengan betul,, mengarah tepat pada wajah saya.. saya tak pernah betul-betul mempedulikannya.. tapi secara alami mereka makin gila.. menyalahkan setiap apa saja yang saya lakukan.. mencela menghina mencaci.. tapi saya bukan tipe orang yang bisa berontak kapan saja,, bukan juga yang tiba-tiba bisa berdiri dengan gagah dan melayangan kepalan telapak tangan tepat di mulut sang penghina.. diam adalah cara saya meladeni mereka.. sempat terpikir untuk berhenti saja,, tapi saya masih ingin senyum mama masih ingin membanggakan papa..

Dia yang justru berasal dari sekolah yang sama menjadi pelopornya.. laki-laki bermarga “beruntung” yang biasanya mengikuti lomba PBB dan gerak jalan bersama saya mewakili sekolah.. orang yang dulu pernah menjaga saya dari godaan orang gila.. entah apa alasannya dia begitu buas memangsa saya..

Karantina 2 minggu sebelum hari-H disana mereka semakin leluasa.. setiap jam makan tiba mereka lari untuk sekedar berlomba tidak mendapat kursi di sebelah saya.. saya menjadi sejenis virus atau polusi yang harus mereka hindari.. sampai akhirnya tak bisa lagi untuk menahannya,, saya berlari menuju kamar nomor 10 tempat yang menjadi kamar saya selama karantina.. tangis saya pecah.. besoknya saya diam,, menutup mulut rapat-rapat.. mengikuti instruksi pelatih untuk latihan kami tanpa sepatah kata.. hanya mencari apa salah saya,, apa begitu hinanya berada di samping saya? Tapi sampai detik ini tak pernah ku temukan jawabnya..

17 Agustus 2010.. hari itu tiba.. kami sukses mengemban tugas menaikkan bendera.. setelah aba-aba “henti grak” dia justru menarik Sarif dan saya.. memeluk kami berdua.. mungkin dia terlalu bahagia sampai lupa saya yang berada di pelukannya.. orang yang telah dia penuhi dengan segala umpatan dan goresan luka.. tak lama dia melepas kami berdua dan mulai memeluk yang lainnya..

Mungkin hari itu berarti merdeka untuk hidup saya.. setelah upacara penurunan bendera,, Fabio memanggil saya.. meminta maaf mengaku salah.. di ikuti mereka dan akhirnya dia.. saya lega,, ikhlas tanpa dendam,, tak mencoba bertanya apa salah saya,, semua luka seakan sirna.. tak ada lagi jarak diantara kita..

Tapi tampaknya hari merdeka hanya hari itu saja.. celaan hinaan dan sejenisnya dia bawa pulang ke sekolah.. siapa lagi si laki-laki beruntung.. segelintir laki-laki sekolah menjadi pengikutnya,, mencela dan menertawakan saya.. yaaa saya menjadi korban “bully” yang tak pernah saya mengerti alasannya.. ini juga yang membuat saya membenci separuh masa SMA..

Sampai detik ini saya trauma,, takut untuk memulai obrolan dengan mereka.. takut bertegur sapa.. karena sampai saat ini sebagian dari mereka masih menghindari saya.. menutup mata walau saya tepat berada di depan mereka.. terakhir saya bertemu mereka di resepsi sahabat saya,, 27 Februari 2016.. segelintir dari mereka masih memandang rendah saya atau malah merasa bersalah,, entahlah saya bukan manusia yang mampu membaca pikiran mereka.. saya menjabat tangan salah satu dari mereka.. mengikuti adab jika lama tak berjumpa.. saya tersenyum tanpa luka tapi dia masih saja sama,, dingin tak bermakna.. PASKIKK’10 saya merasa tak pernah benar-benar ada diantara mereka..