Haruskah aku menikah???

Terlalu banyak pertanyaan tahapan yang harus dijawab dengan berbagai ekspresi. Begitu pula dengan tuntutan sosial yang harus dipenuhi. Waktu kita kecil dulu pertanyaannya “kapan sekolah, kelas berapa?”. Selesai sekolah, pertanyaannya berubah lagi, “kapan kuliah, semester berapa, kapan wisuda?”. Selesai wisuda “ kapan kerja?”. Dan akhirnya “kapan menikah?”. Pertanyaan yang sering sekali menyerangku saat ini. Teralu ganas hingga mencekik leherku erat. Pertanyaannya makin mencekik dengan “mana pacar, mana calon imam?” dan renteten pertanyaan beruntun bak gerbong kereta api yang super panjang. Kalo sudah seperti ini saya biasa menjawabnya dengan candaan memaksa agar cekikannya sedikit longgar.

Setahun lalu, saat masih menjadi pengangguran, kata “kuliah lagi” menjadi senjata ampuh untuk menerjang pertanyaan “kapan nikah?” tapi untuk saat ini, tidak lagi. Mereka punya senjata yang lebih canggih dariku. “menikah saja dulu, baru lanjutkan kuliahnya Yung (nama panggilanku). Toh mamamu, tante-tantemu dan sepupumu juga seperti itu, menikah dulu dan melanjutkan pendidikan, toga tetap kami gunakan walau sudah punya suami dan anak. Perempuan punya batas usia produktif Yung. Kamu pasti mengerti. Jangan terlalu sibuk sendiri dan akhirnya menjadi tua sebelum menikah.” pernyataan beruntun ini sukses membuat saya diam tanpa kata.

Pertengahan tahun ini usiaku 23 tahun. Usia yang cukup ideal untuk menikah. Keinginan ada tapi bukan sekarang, mungkin dua tahun lagi atau mungkin entah kapan. Masih banyak cita ingin ku gapai tanpa cinta. Agar suami kelak bangga memiliki saya dan anak saya juga berhak lahir dari rahim ibu yang cerdas. Sebenarnya hanya barisan alasan untuk mengulur waktu.

Jika tentang menikah, hatiku seperti terhipnotis dengan jargon si penyanyi Syahrini. Maju-mundur-maju-mundur. Sebenarnya ketidak pedeanku untuk menikah yang paling besar, terlalu banyak kurang yang aku temukan pada diri ini. Terlalu banyak takut yang saya sembunyikan. Akhir-akhir ini bahkan menikah menjadi abu-abu bahkan gelap bagiku, menjadi harapan besar yang sepertinya tak mungkin ku rengkuh. Mungkin Allah akan lebih dulu memelukku. Sepertinya begitu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated yayulauma’s story.