Paling Aku Rindu

Yasmini Nurhasanah
Aug 9, 2017 · 1 min read

Aku sedang berjalan. Melewati jalan di kota ini. Melewati jalan-jalan yang biasa aku, dan mungkin kau juga lewati. Terkadang aku berjalan di belakangmu, dengan jarak tentunya. Melihatmu dari jauh melangkah gagah bagai para pendaki. Tidak lupa pula kau menyapa rekan-rekanmu. Bertegur sapa dan berjabat tangan diiringi kerendahan hati.

Kita juga pernah bertegur sapa kan? Waktu itu hari Jumat, sekitar pukul sepuluh. Aku dan kau berjalan berlawanan arah dengan wajah saling menghadap. Lalu kau tersenyum kemudian bertanya “Mau ke mana?”. Aku dan kau sama-sama berhenti melangkah. Kita berbincang sebentar lalu berakhir dengan kau berucap “Hati –hati di jalan ya”. Aku jawab “Iya”, sambil melabaikan tangan kepadamu. Itu pertemuan kita bukan yang terakhir. Aku masih ingin bertemu lagi. Aku ingin menjadi.. jaketmu, yang selalu kau pakai itu. Berada lekat dengan dirimu, kalau tidak kau pakai, kau selalu membawanya lalu digantungkan pada tas kesayanganmu. Biar saja digantung, supaya terlihat katamu. Rasanya umur jaket itu sudah bertahun-tahun.

Aku dengar, tahun depan kau akan meninggalkan kota ini. Kau tidak akan lagi melewati jalan yang biasa aku, dan mungkin kau juga lewati. Tapi kita masih bisa bertemu kan Tuan? Mungkin di jalan lain, di jalan yang akan aku, dan mungkin juga kau lewati. Bertegur sapa dan sama-sama berhenti berjalan, lalu berbincang lama.

Sampai kapan pun aku merasa senang saat berjalan. Kau adalah bagian yang paling aku rindu dari sebuah perjalanan.

    Yasmini Nurhasanah

    Written by