
antariksa
Aku jatuh cinta selepas upacara.
Di lapangan sekolah yang penuh riuh, terik matahari dan panas atmosfer planet bumi, hatiku luluh.
Langit waktu itu begitu cerah. Tak ada awan satupun. Silau. Kuharap tak terlalu silau buatmu.
Aku diam di belakang barisan yang telah dibubarkan. Menatap sosokmu yang tampak jauh. Rasanya aku seperti meleleh. Entah karena mentari membakar kulitku
atau karena hangat dari senyummu yang
tiba-tiba kusadari terarah kepadaku.
Selepas upacara itu kita
seolah kehilangan jarak.
Seolah aku telah mengenalmu
untuk seumur hidup.
Dan tata suryaku mengorbit
dua kali lipat lebih cepat,
dengan kau sebagai pusat gravitasinya.
"Aku suka kau," katamu suatu hari setelah
upacara itu berlalu,
Tapi aku bahkan terlalu takut untuk membalas sorot matamu.
"Mengapa kau memilihku?"
Padahal akulah bintang paling redup diantara
yang lainnya.
Padahal kau berhak mendapatkan
bintang terindah yang semesta punya.