Yusrizal Helmi
Sep 9, 2018 · 3 min read

[A]MORAL

Pembicaraan itu mengerucut pada satu kesimpulan, bahwa: "Bukan lagi perempuan yang selalu benar, tapi Politikus pun mulai mereduksi kebenaran pernyataan tersebut--Politikus selalu benar (kali ini).

Samijo mencoba menakar kembali, membandingkan pengaruh cakupan sastrawan dengan politikus (loyalis partai) dalam kebobrokan moralitas. Ketika sastra wangi mulai mencuat, khalayak umum (termasuk sastrawan sendiri) berceloteh tentang pengaruh buruknya. Mulai dari urusan seks bebas, affair, LGBT banyak dikaitkan dengan para penulis yang dikotakkan dalam sastrawan/ wati wangi ini. Bahkan dengan sangat kerdil dikotakkan dalam aliran sastra yang gak nyastra banget, yaitu SMS (Seputar Masalah Selangkangan). Semua orang yang kontra dengan kehadiran sastra wangi atau SMS ini berlomba-lomba menjadi tuhan kecil dengan analisa sembrononya. Bagaimana tidak sembrono? la wong membedakan erositisme dengan pornografi saja masih belepotan :D

Beruntung Samijo nggak ikut-ikutan kontra dengan kehadiran sastra wangi. Mungkin karena dia sudah gak bisa ngaceng lagi, sehingga mau sastra seputar masalah selangkangan, bahkan sampai seputar ketek pun, dia nggak mau ikut-ikutan. Atau bisa jadi Samijo memang malah menikmatinya; diam-diam membaca karya Djenar Maesa Ayu atau Ayu utami sambil memasukkan tangannya ke celana dalam! Who knows? Tapi yang jelas, Samijo paham benar jika karya sastra selalu memiliki batas moralitasnya sendiri, sebejat apapun penulisnya. Karena pada ruang bawah sadar manusia senantiasa berhasrat menjadikan dirinya manusia yang baik di dalam pengalaman puitisnya.

Perkara bobroknya moralitas, Samijo cuma menunggu saat di mana karya sastra berubah trend. Semisal sastra wangi udah redup, bakalan muncul lagi nih aliran yang lain (bisa aliran baru atau aliran lama yang populer kembali). Saat itulah Samijo akan mengambil catatan kecilnya, dan mulai merekam pergerakan trend sastra dengan kecenderungan perubahan moral di lingkungan sekitarnya.

Dan benar, Samijo akhirnya mendapati sebuah trend baru; sastra religi. Pas benar momen ini bagi Samijo. Apakah religiusitas akan sebanding dengan perbaikan moral? Naas, catatan Samijo ditulis dengan tinta merah, "Sama saja! Religiusitas dalam sastra religi tidak memberikan dampak yang signifikan. So? Tidak ada yang salah dengan sastra kita!

Dari kesimpulan tersebut, Samijo mulai menangguhkan kacamata sastrawinya dalam memandang moralitas. Ia mensinyalir bahwa media lah yang memilik dampak sangat besar pada keterpurukan moral anak muda di sekitarnya. Tidak hanya media elektronik, Samijo juga berasumsi kepada media sosial.

Berkali-kali ia merunut kejadian-kejadiam amoral yang diberitakan, dengan kedekatan penyebab-penyebabnya. Memang benar, media lah segala penyebab degradasi moral anak muda kita di jaman sekarang. Namun Samijo tidak sebegitu yakin. Ia masih saja penasaran, dan sayangnya tidak menemukan apapun, termasuk hebatnya Tik-tok, Ome TV, dan aplikasi baru yang betapa tidak jelas itu.

Samijo pun pada akhirnya berpikir bahwa semua media memiliki kepentingan politisnya masing-masing. Ada yang secara terang-terangan, ada pula yang masih malu-malu. Sehingga Samijo tidak menemukan korelasi yang nyata antara media dengan keterpurukan mental generasi micin.

Samijo mencoba melakukan perandaian lagi: semisal media dan kepentingan politisnya dirasa tak memberi dampak langsung kepada konsumen, maka saat itulah para politikus di balik media-media tersebut akan turun langsung ke jalan.

Terbukti, pada akhirnya saat ini mereka benar-benar turun. Menunjukkan sifat aslinya. Mengumbar syahwat politisnya. Tidak hanya generasi muda yang mereka paksa untuk mengikuti gairah politisnya, namun agama juga dikangkangi, kedaulatan bangsa dan lembaga-lembaga pemerintahan yang seharusnya terhormat malah mereka kencingi. Bayangkan, betapa kurang ajarnya ketika para anggota Dewan bertingkah seperti anak-anak TK (seperti kata Gus Dur). Bayangkan betapa menjijikkannya seorang pemuka agama yang telah digelapkan matanya oleh pemilik media politik. Bayangkan betapa tak lagi terhormatnya Presiden beserta jajarannya di mata masyarakat akibat pendidikan politik tidak lagi waras ketika berada di tangan politikus jaman now.

Samijo benar-benar tahu sekarang. Benar-benar percaya, yang merusak moral bangsa ini adalah mereka; Politikus. Masyarakat diajari untuk tidak percaya dengan Presidennya sendiri. Masyarakat diajari untuk memperdagangkan sekaligus memprovokasi dengan dalih-dalih yang berdasar firman ilahiah. Masyarakat dicekoki demokrasi yang telah kebablasan. Bahkan masyarakat mulai diajari untuk menelan/ menolak mentah-mentah karya para sastrawan.

Sayangnya Samijo pun tahu dan sadar benar, mereka selalu punya banyak dalih dan alasan yang benar untuk membenar-benarkan argumentasi atau tindakannya masing-masing. Ya. Politikus selalu benar meski salah. Sedangkan masyarakat awam harus benar-benar benar, meski tetap menjadi korban ambisi mereka.

Samijo pun menutup buku catatannya. Pulang ke rumah, dan bersegera masuk ke dalam kamar. Di dalam sana dia tak lagi memikirkan urusan moralitas. Samijo hanya tahu dan ingat bahwa ia masih menyimpan beberapa lembar sobekan buku stensil di bawah sajadah yang saat ini sedang ia sujudi dengan setengah khusyuk.

Malang, -

    Yusrizal Helmi

    Written by

    Tjap Djentik

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade