Bandung Lautan Api 2.0

.BDG A Walk to Remember-adhyastaputra

“Bandung memang kota kembang,” kelakar bocah itu berteriak keras. “Kembang api! Dan akan jadi indah kalau dibakar dulu.”

Dalam sarung gitar merk Yamaha, bocah itu menyembunyikannya. Dia menentengnya dengan sangat santai. Air mukanya setenang permukaan es limunku. Awalnya kupikir itu hanya senapan angin biasa, atau semacam senjata untuk main airsoft. Tidak salah lagi, itu memang senjata api semi-otomatis karya dari Mikhail Kalashnikov, karena darinya tersembur peluru yang menghunjam mati 18 orang. Masih menjadi pertanyaan, bagaimana ia bisa dapat AK47. Apa sih yang tak bisa didapat dari internet? dugaan paling bisa kuterima.

Aku sedang berbincang dengan perempuan bernama Wendy saat jam makan siang di Wendy’s Braga. Kebetulan yang begitu lucu. Dan berakhir jadi mimpi buruk.

Bandung kota kembang api? Indah kalau dibakar dulu? Aku tak bisa berhenti memikirkan bualan bocah itu. Entahlah, kemungkinan besar ini efek karena bocah itu kebanyakan melahap film laga dan main video game kriminal. Ah ya, oleh-oleh dari bencana penembakan itu hanya membuat sedikit koyak kaki kiriku — berjalanku masih pincang sampai sekarang. Tentu saja, aku beruntung tak sesial kedelapan belas korban itu. Atau justru mereka yang lebih beruntung.

Bocah itu memang sinting. Tapi nahas, dia tak bisa mewujudkan kembang api ciptaannya. Karena bom yang sudah ia siapkan dibalik jaketnya itu cuma meledakkan dirinya sendiri. Bocah sinting yang pintar itu ternyata salah perhitungan, atau mungkin ditipu penjual bomnya (begitulah, jangan terlalu percaya penjual di internet). Bagaimanapun, itu kembang api yang indah, daging bocah itu muncrat ke sana-kemari dengan begitu estetiknya.

Hmm, bisakah aku melihat kembang api seindah itu lagi? Aku terus membatin. Tapi dengan satu syarat, aku tak sudi kehilangan tunanganku lagi.