Novel untuk Viny

Perpustakaan Viny JKT48

Ketika handshake seorang pemuda bertanya iseng kepada idolanya, “Kalau gue nulis buku, bagusnya dijadiin gift atau-”

“Ya enggaklah,” Viny JKT48 memotong, “Aku beli dong.”

Asal tahu saja, pemuda itu tentu bukan saya, meski pria kesepian, dan idoling menjadi solusi, saya gak terlalu nekat buat ikutan event kayak begitu (jika saja ada HS di Bandung, gak tau juga sih). Nah, pemuda itu adalah seseorang yang gak saya kenal secara langsung, hanya di dumay, Twitter tepatnya, juga dia ngeblog. Pemuda itu ikut nimbrung ketika saya ngetweet bahwa jika suatu saat rilis novel, maka bakal ada komentar Viny di belakang novel saya itu. Dia pun ternyata punya keinginan sama. Lalu, saya menantang, apakah novel kita bakal mengisi rak perpus milik Viny, dan setelahnya pemuda itu curhat dialog di atas.

Ya, saya ingin bikin novel. Yang saya bayangkan, saya bikin novel yang bagus, beda, menarik, dan dipuja-puji, juga beragam kritik pedas, tentu. Novel saya menjuarai DKJ. Lalu antara Gramedia dan Mizan, juga berbagai penerbit lain, berusaha ingin menjadikan novel saya sebagai terbitannya, tentu saya akan memilih Mizan, di Bentang Pustaka. Alasannya ya karena di Bandung. Tapi gak masalah sih mau Mizan atau Gramedia, yang penting dua ini, karena kenapa? Apalagi kalau bukan agar dibeli Viny. Kalau di Mizan, mungkin ada kesempatan bakal berbahagia seperti Dilan-nya Pidi Baiq.

Saya oportunis? Mungkin iya. Saya egois? Sangat mungkin. Saya optimis? Hmm, saya menyebut diri saya sendiri pesimis dengan banyak mimpi. Absurdis? Bisa jadi, tapi saya belum bener-bener ngerti konsep Camus ini. Tapi ya ada keinginan untuk menjadi seorang yang tenar, namun tak tahu kalau sudah terkenal gimana, mungkin bakal ada sedikit rasa sesal. Hey, kenapa saya jadi ngomong ginian. Uh, kita balik ke Viny!

Untuk selera buku Viny itu, dia pernah bilang dalam twitnya, adalah roman urban. Koleksi Haruki Murakami-nya banyak, dan ya, saya pun penggila dia, dan ya, saya pun ingin membuat novel seperti Murakami juga.

Pertanyaan sekarang bukan “Apakah novel saya bisa dikomentari Viny?” tapi “Kapan novelnya jadi, Rip?”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.