Artikel yang luar biasa Fad! Cukup inklusif dan mendasar mengenai bagaimana pembentukan energi panas bumi itu sendiri untuk orang awam, dengan tidak mengesampingkan aspek geoscience yang menjadi dasarnya.

Makin luar biasa kalau makin banyak anak muda generasi kita-kita yang semakin sadar tentang betapa besarnya potensi panas bumi yang dapat kita gunakan, karena generasi kita kelak yang akan mengembangkannya. Ditambah dengan pasca COP21, Indonesia sudah berkomitmen untuk mengurangi emisi CO2 nya sampai tahun 2030, jadi ini menjadi penggerak utama dalam usaha tersebut mengingat kebutuhan listrik yang terus meningkat karena perkembangan ekonomi yang rata-rata 6–7%, dan sembari harus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Saran untuk memperkaya artikel ini mungkin salah satu (dua) aspek yang menghambat perkembangan energi panas bumi ini. Semua berkutat di bagaimana birokrasi yang agak ambigu dalam interpretasi nya sungguh menghambat perkembangan energi panas bumi. Pertama, sesuai UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyebutkan bahwa Hutan Lindung tidak dapat digunakan lahannya sebagai aktivitas pertambangan, dan sayang sungguh sayang Panas Bumi pun dianggap sebagai pertambangan, padahal dengan negative multiplier effect yang jauh lebih kecil dibandingkan berbagai pertambangan konvensional. Dan kita tahu pasti Panas Bumi banyak dikembangkan di daerah pegunungan, yang kerap sekali dijadikan sebagai Hutan Lindung. Itu yang menjadi hambatan utama.

Kedua, adalah bagaimana kesiapan pendidikan Indonesia yang belum mumpuni untuk menjadikan teknologi panas bumi menjadi energi andalan. Di universitas dan perguruan tinggi negeri, hanya satu prodi terkhusus untuk menangani panas bumi di Indonesia, dan itu pun hanyalah jenjang Magister, itu hanya di ITB. Di Universitas lain, panas bumi ini menjadi subprodi dimana hanya menjadi peminatan saja, bahkan masuk ke prodi Fisika Bumi, yang memiliki kekurangan untuk mengkaji hanya bidang geoscience nya saja namun tidak diseimbangkan dengan pengetahuan teknikal yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Peminat yang sedikit dan juga mungkin lapangan kerja yang belum tersebar secara luas menjadi alasan mengapa prodi Panas Bumi di Universitas belum menarik perhatian para Rektorat untuk membentuk prodi ini, demand nya belum terlihat jelas.

Oleh karena itu, keseimbangan antara berkembangnya peminat di generasi muda, perbaikan birokrasi pengembangan Panas Bumi yang didahului dengan kajian yang inklusif, dan juga visi dan komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, sangat diperlukan, dan ini yang sulit dicapai. Setidaknya dengan wacana yang sudah tumbuh di kepala, semoga semesta akan mendukung usaha generasi kita ini.

Nevertheless, what a very good article. Ditunggu diskusi nya mengenai panas bumi kedepannya. Pertahankan visi dan ideologi akan bangsa ini!

Salam,

Yehezkiel David Pradhipta (12213085), abang NIM mu

)

    Yehezkiel David Pradhipta

    Written by

    Happiness is renewable.