Balada Medistra

Willing acceptance — now at this very moment — of all external events. That’s all you need. Marcus Aurelius

Jam 2 pagi. Kini jalanan Tol Dalam Kota sudah mulai lengang, ketika 3 jam yang lalu orang-orang kelelahan berebut 3 jalur itu untuk kembali ke kandangnya. Aku berada di tempat yang umum dimana orang-orang menghabiskan waktunya ketika jam-jam rentan seperti ini. Pandangan kosong dengan pikiran membuana seperti asap hangat rokok yang menemani komplotan orang yang tak tentu arah.

Kopi hangat. Obrolan mengisi waktu. Mata kelelahan dan fisik yang terkuras. Namun aku tak bisa tidur juga. Tak bisa jika di tempat ini. Tempat yang penuh dengan keputusasaan, yang aku kerap menolak bahkan hanya sekedar masuk kesana. Aku juga pernah kesana, berjuang melawan paradigma mengerikan tentang sel yang memberontak untuk melawan induk nya sendiri.

Itu lah mengapa aku enggan. Tapi kini aku mau tak mau harus menghadapi itu.

Tempat ini penuh dengan harapan, penuh dengan tangis keluarga, penuh dengan keputusasaan. Ada cerita bahwa tempat ini pernah menampung manusia yang ada di batas harapan dan kemusnahannya selama 5 bulan. Tak terbayang bagaimana keluarganya.

Ada pula cerita pemuda arogan yang motor kebanggaannya, bersama nya, menghantam trotoar jalan yang diam. Meninggal. Semudah itu manusia kehilangan segalanya, seperti itu kata pembuat kopi yang aku ajak berbincang.

Ada pula yang secara ajaib mengelabui kematian, dimana segala teoritik ilmu yang sangat mahal itu sudah mendeklarasikan tak ada nya harapan, namun toh ia bertahan, bahkan mengembalikan segala keadaan itu hingga sehat total seperti bukan orang sakit. Ada yang seperti itu.

Dari berbagai kontras warna cerita dari penyeduh kopi hangat itu, sejenak aku berpikir. Betapa tidak adilnya dunia ini kadang. Hidup begitu berat, setidaknya di tempat ini. Mengapa harus manusia itu yang menanggung seberat itu, entah hukuman, ujian, atau berkah, tergantung kita yang sehat disini menginterpretasikannya seperti apa.

Aku pun berpikir seperti itu. Mengapa seorang Ayahku yang selalu berbuat baik, tidak memiliki kebiasaan buruk untuk kesehatannya, tiba-tiba diharuskan dibobol jantungnya untuk dipasang alat sintetis supaya menunjang integritas pembuluh koronernya. Mengapa harus dia? Mengapa harus kami? Mengapa harus kita semua?

Tapi ternyata memang seperti itu lah hidup. Aku sadar, ketika aku sudah kurang lebih empat bulan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk semakin menyelami esensi tersembunyi kehidupan, mungkin ini lah waktunya ujian itu datang. Ujian kehidupan, yang petunjuknya disembunyikan sedalam neraka di dalam bumi, yang lama nya tak terselami seperti Palung Mariana, yang Guru dan Pengawasnya Maha Besar pemilik segalanya.

Tapi sama seperti kelasnya, tampaknya aku mulai mengerti bahwa ujian kehidupan juga memiliki berkah yang tersembunyi, kecil tapi mengubah, tak seberapa tapi luar biasa.

Mungkin dulu aku bisa lebih sering menulis, lebih sering membaca, lebih sering bersyukur di segala yang aku punya, tidak mempedulikan apa kata orang, dan bisa lebih dekat dengan keluarga ku. Namun memang disitulah terdapat berkah dari setiap masalah. Obstacles are the way.

Aku kini mulai sadar bahwa keluarga adalah modal utama, kesehatan adalah investasi utama dalam kehidupan. Aku tak ingin anak istriku kesulitan karena kebodohan dan kenikmatan sesaat ketika masa muda.

Memang ada berkah dari setiap kesulitan. Bukan drama, atau memang sedikit drama, atau memang aku sudah menjadi bagian dari balada tempat ini yang penuh warna dengan penuh perubahan kehidupan dari manusia yang pernah datang ke tempat ini.

Balada yang indah pada akhirnya kupikir. Kubuang kotak dengan bau khas itu, dan aku berjanji tak akan membeli nya, menghisapnya, menggunakannya lagi, ini turning point ku.

Kuteguk tetesan terakhir kopi ku, lalu berbalik kembali ke tempat itu. Duduk di sebelah orang yang menjadi instruktur terbesar dalam hidupku. Yang membentuk aku menjadi lelaki yang kuat dan sabar dan apa adanya. Seperti itulah dia, yang kini sedang berbaring dengan grafik grafik kardiovaskuler di sekeliling nya, dan dokter yang cemas setiap datang ke tirai nya