Kok mau jadi Senator?

Banyak yang bertanya, kenapa pengen jadi senator? Mungkin itu muncul karena banyak gosip yang bilang kalau kehidupan seorang Senator hanya berkutat di rapat Kongres, nyubuh setiap hari. Di massa juga tidak terlalu terlihat karena memang kancah arena nya yang berbeda, tentu kalah pamor dibanding Kahim. Terus kenapa mau jadi Senator?


Pertama, mungkin lebih enak kalau saya jelasin tentang bagaimana saya ngelihat dunia, kalau bahasa resmi nya sih visi hidup, cara melihat hidup, begitu kata orang.

Saya melihat dunia yang diberikan Tuhan ke saya adalah arena perjuangan dan peluang. Peluang ada dimana-mana, dengan hiasan kesulitan dan kesenangan nya tersendiri. Tapi yang membedakan saya dengan orang lain — ini juga yang membuat saya percaya diri — adalah bagaimana saya melihat kesulitan tersebut. Karena dunia adalah kolam perjuangan, kesulitan sudah pasti, dan itu adalah properties dari dunia itu sendiri.

Dengan meng-embrace kesulitan yang saya hadapi untuk belajar terus dalam menyelam di kolam pengalaman ini, saya merasa proses saya adalah proses yang menyenangkan. Saya disini seperti spons yang mencoba menyerap semua pengalaman yang ditawarkan oleh kehidupan untuk belajar, dan belajar bukanlah suatu tujuan, itu tidak ada akhir, itu proses. (Bukan spons yang lagi rame-rame di timeline tempo hari kemarin itu tapi ya)

Jadi disitulah dasar kenapa saya selalu mencoba hal baru dan semakin besar dan menarik setiap hari.


Lanjut kedua, terus kenapa mau jadi senator? Cerita berawal dari awal TPB dimana memang saya memilih berkarir di terpusat, bukan di unit seperti teman-teman saya yang lain, karena saya memilih untuk berkancah di dunia yang lebih luas dengan latar yang berbeda, setidaknya untuk mengenal karakteristik orang yang berbeda-beda tanpa latar belakang kaderisasi atau paradigma tertentu.

Dan sebagai mata seorang mahasiswa tahun pertama yang belum tahu apa-apa, saya melihat bahwa himpunan ini, yang menjadi himpunan saya kelak tidak terlalu terlihat di kancah terpusat. Disitulah mimpi besar saya berawal, yaitu untuk membuat himpunan ini semakin besar dan kuat dengan mengharumkan nama PATRA melalui kancah kemahasiswaan terpusat.

Jujur saya memang tidak berdasar memiliki mimpi yang ujug-ujug datang seperti itu, namun itulah yang selalu terngiang dan membuat saya semangat dan selalu mencoba untuk mem-push diri menjadi seorang massa PATRA yang mengharumkan nama himpunan ini di terpusat.

Dari awal masuk PATRA, dengan mimpi sederhana namun besar itu saya mencoba menyusun karir kemahasiswaan saya. Masuk langsung menjadi magangers dari Badan Kesenatoran untuk belajar bagaimana himpunan melihat kemahasiswaan terpusat itu sendiri, melalui Senator nya.

Lalu berjuang untuk mengharumkan nama PATRA dengan menyalonkan menjadi Ketua Wisuda Maret Terpusat, Puji Tuhan terpilih dan berjalan dengan lancar.

Banyak pengalaman dan pelajaran yang saya terima. Tapi justru saya tidak berpuas diri, saya menganggap yang sudah saya dapat adalah sebagai modal, modal untuk membuat PATRA semakin besar dan semakin kuat di kancah yang lebih besar lagi, yaitu Kongres KM-ITB.

Semakin besar kontribusi nya, semakin kuat opini nya, semakin besar pengaruh nya, semakin kuat himpunan ku.


Itulah latar belakang saya ingin menjadi seorang Senator. Saya sadar bahwa pengalaman dan mimpi saya tersebut bukanlah lagi-lagi goals, tapi merupakan proses. Dimana akan sia-sia jika hanya tercapai. Tapi akan jauh lebih baik lagi jika itu merupakan proses pengembangan Kesenatoran ini untuk selalu lebih baik, setiap hari.

Saya ingin menjadi milestone. Saya ingin menjadi contoh. Saya ingin menjadi pioneer di Badan Kesenatoran ini dengan mimpi dan metode yang saya terapkan, semata-mata agar himpunan ini semakin besar dan kuat melalui kontribusi dan pengaruh nya di terpusat KM-ITB, yang paling simpel adalah melalui perwakilan lembaga nya.

Saya ingin menjadi pedoman kepada massa himpunan ini, bahwa untuk menjadi besar dan kuat bukan lah hanya fokus di individu dan organisasi internal saja, tapi kita memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar lagi, yaitu untuk menjalankan kereta besar bernama KM-ITB ini bersama-sama, menuju kebermanfaatan demi negeri.

Memang himpunan berdiri lebih tua daripada KM-ITB. Tapi himpunan adalah bagian dari KM-ITB, rakyat dari sistem federal bernama KM-ITB, yang seharusnyalah membuat KM-ITB ini besar dan bermanfaat, karena memang negeri ini membutuhkan mahasiswa kampus ini dalam bentuk kolaboratif aksi terpusat dengan nama almamater ITB, bukan semata-mata bagian kecil himpunan itu.

Itulah mimpi besar ku untuk keberwakilan himpunan ku di KM-ITB ini.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Yehezkiel David Pradhipta’s story.