#1 — Apakah Demokrasi Kita Telah Beranjak Dewasa?

Alhamdulillah masa kampanye sudah selesai.

Sebuah masa yang gue khawatirkan sejak awal akan menjadi masa yang keruh dan pelik. Sejak sebelum masa kampanye dimulai gue sudah menanti usaha para pasangan calon menggunakan segala usaha untuk memutar-balik dan menjungkir-balik antara opini dan fakta. Kekhawatiran saya pun terjadi. Lihat saja suasana sosial media (terutama twitter dan facebook) selama masa kampanye berlangsung. Suasana di sosial media pun tidak luput dari reaksi suasana di dunia nyatanya dalam masa kampanye. Banyak kejadian yang kontroversial sejak masa kampanye dimulai sampai saat ini. Rasanya kabar berita tidak pernah sepi dengan segala sensasi yang terjadi seperti kasus penistaan agama oleh Ahok yang selalu mengisi headline di semua siaran televisi. Kontribusi dan Antusias masyarakat menjadi sebuah poin yang menarik perhatian dalam pilkada kali ini bahwa semua itu merupakan cerminan dari sikap yang demokratis. Sepertinya pesta demokrasi tidak pernah semeriah ini. Apakah secara tidak sadar kita telah berdemokrasi dengan baik selama masa kampanye dan apakah sistem demokrasi cukup bekerja? Berikut adalah beberapa poin menarik terkait penyelenggaraan pilkada serentak 2017.

Pemilih tahu siapa saja pilihannya.

Mayoritas pemilih sudah dapat dipastikan sangat mengenal setiap pasangan calon sampai ke seluk beluknya, mau itu dari sisi baiknya sampai dengan sisi buruknya. Perdebatan yang ramai di sosial media yang memperlihatkan saling adu kehebatan paslon idaman masing-masing menandakan pemilih telah mengenal dengan baik para pasangan calon. Selain itu media digital memiliki peran yang krusial mengenai penyebaran informasi yang cepat dari masing-masing paslon, berbagai cara yang unik pun dilakukan untuk menarik hati para pemilih. Hal ini tentu merupakan kemajuan yang besar bila dibandingkan pilgub-pilgub terdahulu. Selain itu pun background partai tidak menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi elektabilitas para paslon sehingga ke-objektif-an lah yang menjadi dasar dalam menilai para paslon.

sumber : liputa6.com

Menilai dari Program dan Hasil Kerja

Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa para paslon masih menggunakan isu-isu yang menyerang masalah pribadi calon lainnya, tetapi kita dapat melihat gejala bahwa masyarakat tetap memperhatikan program, gagasan, atau rekam jejak dari para paslon. Selain itu pun para paslon akan dinilai buruk bila tidak memiliki program atau gagasan yang dapat menarik perhatian para pemilih. Ambil contoh pada pasangan calon nomor 3 yang memiliki sejumlah gagasan dan program yang catch-eye dan realistis. Hasilnya adalah beberapa survey menampilkan angka yang positif kepada paslon tersebut terkait elektabilitasnya. Sedangkan pada pasangan calon nomor 1 yang tidak dapat memuaskan masyarakat dengan program-program yang dimiliki menunjukkan tren yang negatif terkait elektabilitasnya. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik bagi kehidupan berdemokrasi kita.

ok-oce menjadi salah satu program unggulan dari Anies-Sandi. Berkali-kali dperdengarkan ke publik.

Pemilih yang (terlalu) kritis.

Sikap curiga dan kritis menggambarkan perilaku masyarakat dalam masa kampanye ini. Setiap isu yang dilempar ke publik sampai dengan tata perilaku paslon menjadi bahan perbincangan masyarakat dan wajib dikritisi setiap saat. Hal ini baik bila dalam batasan yang wajar. Kebebasan mengemukakan pendapat di sosial media seringkali tidak diimbangi dengan batasan-batasan yang harus diketahui serta tentang etikanya. Beberapa kasus terjadi karena terdapat oknum yang terlalu mencurigai malah cenderung memfitnah.

Saling main tangkap

Hayo sudah berapa banyak figur publik yang diseret ke dalam perkara atau sampai ditangkap di masa pilkada ini? Sebut saja Ahok, Sylviana Murni, Habieb Rizieq, dan masih banyak yang lain. Nampaknya budaya ini berkembang selama pilkada berlangsung sebagai manuver politik untuk melemahkan lawan-lawannya. Bila ada kesempatan sekecil apapun untuk mempolisikan lawan maka cara tersebut dilakukan agar imej buruk menempel ke diri paslon ybs. Ambil contoh Ahok yang seperti kita tahu imej-nya hancur bagi sebagian rakyat Jakarta, sentimen terhadap Agama adalah alasannya.

Media yang Berpihak

Beberapa kali terjadi tindakan kekerasan terhadap rekan-rekan media yang mencoba meliput kejadian yang berhubungan dengan manuver politik. Seringkali masyarakat menilai bahwa ada beberapa media yang tidak berimbang menyajikan berita. Hal ini pun sangat disayangkan karena disertai dengan tindak kekerasan kepada awak media yang sedang meliput di tempat kejadian. Tentunya kita sudah tahu siapa saja orang-orang dibalik media tersebut. Ada baiknya kita lah yang bisa lebih bijak memilah berita mana yang lebih berimbang dan jangan terperovokasi dengan satu berita yang menurut kita tidaklah sesuai. Lawan dengan sebarkan berita yang menurut kalian adalah sebuah kebenaran, bukannya malah menyerang media tersebut.

Isu Agama yang Bermain

Sesungguhnya ini adalah bagian yang paling memuakkan bagi saya. Semua kontestasi yang berjalan di pilkada dikeruhkan dengan alasan Agama. Nampaknya masih menjadi senjata yang ampuh untuk menjatuhkan pasangan calon lain. Bukan berarti memihak kepada salah satu paslon, tapi ada baiknya urusan agama tersebut tidaklah dipaksakan kepada semua orang. Saya bukannya tidak setuju untuk wajib memilih pemimpin muslin, saya hanya tidak setuju dengan bagaimana cara-caranya. Tidak usah mengajak-ajak satu provinsi sekalian untuk mengikuti kemauan suatu golongan, karena pada dasarnya kita punya prinsip hidup yang berbeda-beda dan kita menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda. Sejak kecil tentu kita hidup di lingkungan yang berbeda-beda dan dibesarkan dengan cara yang berbeda-beda. Pemahaman mengenai beda = salah masih melekat dikepala mayoritas dari kita. Sekali melihat orang lain berbeda dengan kita, seketika kita beranggapan kalau mereka salah. Saling menghakimi satu sama lain mengenai aqidah, keimanan, dan lain-lain malah menjauhkan kita dari konteks sebenarnya dari Pilkada, Memilih Untuk Kemajuan Daerah kita masing-masing.

Memilih untuk Kemajuan daerah masing-masing pastilah kita semua mempunyai opini masing-masing. Tentunya kita mempunyai kriteria tersendiri mengenai arti pemimpin. Ingat, kita memilih untuk kebaikan bersama, kebaikan Jakarta. Tapi perlu kita ingat juga bahwa “untuk kebaikan bersama” tiap orang punya pendapat mereka masing-masing mengenai siapa yang bisa membawa “kebaikan bersama”. Memaksa “kebaikan bersama” versi kamu belum tentu sesuai dengan versi orang lain. Kita semua punya versi tersendiri mengenai “pemimpin untuk kebaikan bersama”. Kita punya cerita sendiri bagaimana bisa terikat dengan salah satu paslon. Tinggal kita serahkan kepada demokrasi itu sendiri seberapa banyak orang yang percaya paslon A, B, atau C adalah untuk Kebaikan bersama. Sekian, dan selamat memilih! Ingat loh tanggal 15 februari!

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mohammad Isfan Batubara’s story.