#2 — Mengatasnamakan

Tulisan ini merupakan respon terhadap tulisan-tulisan dari para influencer tentang alasan mereka memilih pasangan calon yang mereka dukung. Salah satunya yang viral di sosial media twitter adalah tulisan Pandji Pragiwaksono sebagai juru bicara dari pasangan calon Anies-Sandi. Tulisan yang berjudul “Saya Dibayar Anies Baswedan” pada intinya menjelaskan alasan Pandji untuk tidak memilih basuki dan untuk memilih Anies.

Salah satu isu yang dia angkat adalah terkait penggusuran. Dimulai dengan penyuguhan data mengenai perbandingan angka penggusuran antara periode Foke dengan Basuki, memberikan kesan bahwa angka yang masif itu sangatlah menakutkan dan terkesan terburu-buru. Padahal dari sudut pandang saya angka-angka itu membuktikan bahwa terjadi percepatan kinerja dari pemerintah provinsi kita tercinta ini. Okelah, permasalahan perbandingan kinerja itu masih dalam ranah perdebatan sehingga saya pada hakikatnya antara setuju dan tidak setuju. Kiranya menurut saya penggusuran diproses sedikit terburu-buru sehingga ada beberapa kasus seperti di Bukit Duri yang menang PTUN seharusnya dapat diselesaikan lebih elok.

Tapi yang membuat gue lebih terusik adalah bagaimana “penulis” mulai mengaitkan masalah penggusuran ini ke ruang perasaan. Penulis memberikan artikel dari tirto.id yang berisi wawancara kepada warga yang tergusur dan dipindahkan ke tempat yang baru (rusun). Disinilah pembiasan terlihat oleh saya. Data yang dikumpulkan secara kualitatif digunakan oleh penulis untuk “mengatasnamakan” seluruh responden yang ada di rusun tersebut sehingga bagi sebagian pembaca akan menjadi sesat pikir karena beranggapan bahwa “seluruh warga” di tempat tersebut merasa dirugikan karena dipindahkan. Padahal pun ada sebagian warga yang merasa tidak dirugikan seperti yang dirasakan oleh mereka yang diwawancarai. Lalu kemudian dengan sedemikian rupa men-cap kami yang tidak mengerti rasanya jadi mereka sebagai rasa ketidakpedulian kita terhadap kelas menenagah-kebawah?

Itulah mengapa tulisan kali ini saya beri judul “mengatasnamakan” karena saya sendiri mendengar langsung dari masyarakat menengah-kebawah pendapat yang berlawanan dari apa yang disampaikan didalam wawancara. Nah kan tapi terkesannya mereka yang merasa dirugikan akibat kebijakan Pemprov “mengatasnamakan” keseluruhan dari mereka. Bahwa toh sebenarnya ada juga kok rakyat Jakarta yang menerima itu. Beberapa kali saya mendengar langsung bahwa mereka menyadari “sifat” dari Basuki yang keras dan tegas, tetapi mereka tetapi memiliki kesadaran terhadap kinerja dan hasil kerja dari Basuki. Sesimpel hal kayak “wah seneng sekali saya pak, anak-anak saya sekarang bisa main di taman sore-sore. Banyak taman sekarang” atau “Cari nafkah sekarang saya gak harus mandek karena kejebak banjir dari rumah”.

Toh kalaupun mau “mengatasnamakan” mereka sebagai yang merugi ya pakai data kuantitatif dong, di survey secara menyeluruh (bukan artinya semuanya) supaya angkanya benar-benar bisa mewakili suara mereka.

Satu poin lagi yang saya kurang sreg untuk menerimanya adalah argumen:

“Anda memilih gubernur untuk anda atau untuk seluruh warga jakarta?”
“kalau anda mencari gubernur untuk anda sendiri, maka pilihlah pak basuki”

Loh kok sotoy bener??

Sedemikian rupa men-cap kami yang memilih pak Basuki sebagai pemilih yang mencari gubernur untuk kami sendiri? Memangnya anda cenayang? :))

Pertama, adalah menjadi kebebasan kita untuk memilih apakah kita ingin memilih untuk keuntungan kita sendiri atau demi Jakarta. Kita masing-masing punya hak untuk menguntungkan kita sendiri tapi juga punya hak untuk berbagi keuntungan kita kepada seluruh warga Jakarta dengan bantuan dari kinerja Pemprov. (Loh kok tiba-tiba kita jadi sangat berhati mulia dengan peduli sesama yaa hehe) Ya itu sih hak kita masing-masing.

Kedua, kita punya definisi sendiri mengenai pemimpin apa yang menurut kita untuk warga jakarta. Lah kalau memang menurut saya Pak Basuki saya yakini dapat memimpin untuk seluruh warga Jakarta ya jangan cap saya sebagai orang yang egois karena memilih untuk diri sendiri dong? Oke kamu bisa bilang segalah perilaku buruk beliau kepada warganya, tapi bila kami percaya bahwa itulah yang kami dapat definisikan sebagai pemimpin untuk kita semua, pemimpin yang mewakili, apa hak anda untuk bilang kalo kita milih untuk kita sendiri? Mungkin saja menurut kami mereka lebih menyadari apa yang dirasa merugikan mereka dibandingkan apa yang dirasa menguntungkan mereka. Tanpa mendiskreditkan pihak tertentu, tetapi menurut saya mereka cukup sulit untuk menyadari keuntungan yang “laten” atau tidak terlihat namun sudah dirasakan.

Mengesampingkan masalah diatas, pada dasarnya saya menyadari bahwa pasangan Anies-Sandi merupakan cagub dan cawagub yang perlu diperhitungkan. Lolosnya paslon 2 dan 3 dengan perolehan presentase yang beda tipis menunjukkan bahwa sebagian besar warga Jakarta butuh pemimpin yang memang benar-benar memiliki gagasan dan track record yang meyakinkan serta memiliki pendekatan yang baik kepada rakyatnya. SEmoga yang terbaik yang akan memimpin dan siapapun yang terbaik itu ada baiknya kita tetap dukung dan tetap kritis terhadap segala kebijakannya.

katanya pemimpin untuk semua, katanya menggerakkan, tapi sejauh ini saya tidak cukup tergerakkan. Mungkin belum bisa menggerakkan semua, setidaknya bagi 43% pemilih.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.