Mengintip Si Keras Kepala: Lady Bird

My heart found its home long ago in the beauty, mystery, order and disorder of the flowering earth”

Tidak ada alasan untuk tidak kembali nonton Lady Bird, film garapan Greta Grewig yang mendapatkan penghargaan best picture dalam Golden Globe 2018, dan best actress dalam nominasi Oscar ini.

Adalah Chtistine, gadis asal Sacramento yang bercita-cita kuliah di New York karena ingin lepas dan jauh dari orang tuanya.

Christine adalah sosok perempuan pemberontak dan terkadang naif. Ia menginginkan semua orang memanggilnya dengan sebutan Lady Bird. Ia membenci kehidupannya di desa dan ingin cepat-cepat lepas dari kedua orang tuanya.

Karakter Christine mungkin sedikit merepresentasikan gadis-gadis seusianya yang merasa dirinya paling benar dan merasa tidak membutuhkan peran orang-orang terdekatnya.

Meskipun mengangkat tema tentang pendewasaan seorang, yang menjadi nilai lebih dari film ini adalah ending film yang tidak klise. Adegan juga tidak berfokus pada romansa cinta anak muda.

Dalam beberapa adegan memang digambarkan Christine menjalin hubungan dengan dua orang pria, Danny dan Kyle.

Yang jadi fokus dalam film ini sebenarnya romansa antara Christine dan ibunya. Mereka berdua memerankan karakter yang keras kepala namun menyayangi satu sama lain.

Film ini mengalir, tidak mendramatisir, dan tidak twist plot. Melihat ini, bisa jadi kita berprasangka jangan-jangan ini pengalaman personal si sutradaranya sendiri, Greta Grewig.

Di akhir cerita, kita akan diaduk-aduk perasaannya ketika melihat adegan Christine yang akhirnya mengalami gejolak emosi setelah meninggalkan kehidupan yang ia benci di Sacramento.

Christine berhasil mewujudkan mimpinya kuliah di New York dan harus meninggalkan ibunya.

Pada adegan terakhir ini kita akan melihat seseorang pemberontak dan keras kepala ternyata bisa mengalami kesedihan, keterasingan, dan kerinduan terhadap kehidupan yang ia benci sebelumnya.

“Kadang kita benci harus menyadari kita berada di ruang yang sama — bernama semesta dengan orang-orang yang tak sepemahaman dengan kita. Kita terlalu banyak membangun citra dan mengantogoniskan orang-orang di sekitar kita tanpa tahu betapa berharganya mereka sebelum mereka jauh dari kita dan menyadari siapa mereka sebenarnya”.