sedikit pembuka.

Ratu Maharani
Sep 4, 2018 · 2 min read

Tahun ini, aku beranjak 17 tahun (bulan Maret lalu). Awalnya aku kira, ah umur hanyalah angka! Lagi pula aku sudah kenal dengan berbagai macam naik turun kehidupan. Namun, seiring waktu berjalan aku sadar. Inikah yang dinamakkan beranjak dewasa? Segala hal yang ku lakukkan dimulai dengan pilihan yang mengapa jadi begitu sulit? Tidak tidak tidak, ini bukan pilihan yang biasanya aku hadapi. Ini…. jauh lebih menentukan. Pilihan yang akan mengubah hidupku.

Teman… Aku bukan orang yang bisa dengan mudah percaya. Ya, temanku memang banyak namun teman sekedar teman. Tempat untuk bersenang-senang. Tidak lebih. Hanya 2–3 orang yang bisa aku percaya. Sisanya? sudahlah. Aku sudah pernah melalui fase itu. Kepercayaan ku tergores dan remuk karena itu.

Cinta… Dia datang. Dia ada. Dulu. Laki-laki humoris, gampang bergaul, bersimpati tinggi, sangat nyambung dengan ku! Bicara apa saja, tetap saja nyambung (kecuali tentang teori konspirasi). Dia bisa menerima ku apa adanya, bahkan menerima segala tingkah laku aneh ku yang terkadang muncul. Ketawanya terdengar tulus, setiap lelucon ku dia anggap lucu. “Aku akan mengajari mu kesederhanaan.” dan dia berhasil. Bertemulah aku dengan makna ‘bahagia itu sederhana’. Beribu kali aku katakan “Tetap saja, aku ini susah loh percaya sama orang. Kamu masih mau dengan ku?” dengan berani dia menjawab “Lihat saja aku akan membuat mu percaya.” Lucu juga ya kalau diingat-ingat. Masih kecil loh.

Tak jarang pula aku mengingatkan “Pacaran itu bukan perkara bahagia saja! Sedihnya juga ada! Kamu siap?” Sekali lagi dia menjawab dengan lantang “Iya, aku paham. Aku siap.” Perlahan aku membangun kepercayaanku yang terombang ambing. Pada saat aku sudah percaya, dia pergi. “Maaf ya, aku sudah tidak ada rasa pada mu seperti dulu.” Yah, luka ku digores lagi. Sayangnya kali ini lebih dalam.

Keluarga… Aku teringat Almarhumah Umi (Nenek) ku terus. Sudah 4 tahun beliau wafat namun aku belum pernah melihat beliau di dalam mimpi. Rindu ku pada beliau sangat terasa sampai hati ku ter-iris. Sakitnya sampai ke a kuping. Umi.. Ratu kangen. Hayang pateupang.

Dari berbagai hal yang aku rasakan saat ini, aku jadi mencari-mencari mengenai arti dari kehidupan. Alasan dibalik alasan. Perspektif lawan perspektif. Ah, aku mau tau semuanya. Semoga saja, jemariku kerap menulis isi hati maupun pikiran ku. Sedikit berekspresi, meringankan beban.

Salam tulus, Ratu mu.