“Ketika Warung Eceran Kusut”
Isu yang berkembang "Harga Rokok Naik" berdampak pada penjualan ditingkat Eceran bingung, Berapa harga rokok yang harus dijual perbungkus hingga perbatang kepada konsumen ?

Banyak masyarakat Pro dan Kontrak, seperti Pemerintah, DPR, dan Perokok yang menanggapi positif hal tersebut. Wacana yang tersebar dimasyarakat bertujuan untuk mengurangi konsumsi rokok yang berlebihan. Pada 2015, rokok merupakan penyumbang terbesar pendapatan cukai dengan kontribusi sebesar 96 persen, dengan nilai Rp 139,5 triliun dari total pendapatan cukai negara sebesar Rp 144,6 triliun dapat dilihat bagi pemerintah ini sebagai peluang pendapatan bagi bea cukai yang perlu ditingkatkan. Di Tahun 2016 ini terjadi Penurunan pendapatan cukai tembakau yang membuat penerimaan cukai di kuartal I 2016 turun 67 persen dari penerimaan cukai di kuartal I 2015, atau menjadi Rp 7,9 triliun dari sebelumnya Rp 24,1 triliun. Hal ini yang menjadi acuan pemerintah dalam kebijakan Sebelumnya, pemerintah menaikkan tarif cukai rokok dan tarif PPN produk tembakau pada 2016, serta mengeluarkan kebijakan PMK 20 tahun 2015 yang mewajibkan pembayaran pita cukai 2015 diselesaikan paling lambat 31 Desember 2015. Penurunan dikarenakan adanya pemesanan pita cukai yang melonjak di dua bulan terakhir tahun lalu, sebelum pemerintah menaikkan pita cukai rokok. 
Bagi Perusahaan rokok raksasa seperti PT Sampoerna enggan menanggapi karena belum membahas dan memperhitungkan kenaikan tersebut.
Jika terjadi kenaikan, bagaimana nasib penjual eceran? Apakah tutup atau menjual lebih tinggi lagi dengan stok yang lebih kecil. Ini akan merugikan perusahaan sampai penjual eceran. Banyak positif dan negatif dari kenaikan harga, tetapi yang diperlu dilakukan Pemerintah ialah mengkaji kembali dengan melihat pihak-pihak yang dirugikan.

Like what you read? Give Yesia Sinaga a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.