Sebuah Kata.

Sebuah Makna.

Kata itu, pilu

Dingin, tak berperasaan

Kencang, bereaksi dengan alam

Batin yang terguncang.

Tidak, inginku.

Mengingat kata itu,

Kau ucapkan dari hatimu.

Entah itu hitam diatas putih,

Atau sekedar Abu-Abu.

Kata itu, perih.

Mengiris relung jiwa

Segenap sukma dan seluruh raga

Lemah tak berdaya

Dihadapannya.

Tidak, inginku.

Terdengar kata itu,

Kau ucapkan dari mulutmu.

Ku harapkan ini hanya mimpi,

Yang hanya singgah dan pergi.

Silam pun hilang,

Tapi tidak begitu.

Berbekas dalam kalbu,

Kata-kata itu.

Satu.

Mengingatkan ku, atas realita yang pilu

Rasa yang dingin dan kaku,

Hilang ku sesaat dalam imajinasi

Akan hal-hal yang abadi.

Termasuk didalamnya,

Rasa rindu yang kumiliki.

Keinginan yang besar,

Hanya sekedar.

Dihadapannya,

Mengharapkan yang terbaik.

Hilang diriku,

Kembali dalam nelangsa.

Menunggu,

Akan terbitnya sang surya.

Berharap, terbit sebuah harapan.

Akan esok yang selalu lebih baik.

Kebijaksaan yang berkembang,

Kerinduan yang terbilang,

Kecintaan yang terngiang.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Yoga Mahardika’s story.