Yohanes Chandra Ekajaya — Krisis Ekonomi Mesti Menguntungkan

Yohanes Chandra Ekajaya — Krisis Ekonomi Mesti Menguntungkan — Krisis ekonomi ibarat pedang bermata dua. Ada yang memandangnya dengan pesimis dan kecil hati. Tetapi ada pula yang memandang krisis itu dengan mata berbinar-binar karena dapat melihat peluang amat besar di seberang matanya.

Kaum pesimis akan berhemat habis-habisan. Semua perjalanan dipotong, tidak ada pembelian pakaian baru, anggaran makan di restoran dipotong hingga 70 persen, karyawan yang tidak produktif diminta berhenti dan sebagainya.

Sebaliknya orang-orang optimis selalu happy justru ketika krisis berkecamuk. Mereka merasa krisis membuat pikiran amat terang, kreativitas bangkit, inovasi bergelora, dan akal yang dulu hanya 10 kini menjadi 200. Maka dengan tipikal itu, ia selalu melihat ada peluang seluas samudra terbentang di seberang matanya. Peluang itu akan ia rebut untuk menggelembungkan keuntungan perusahaannya. Ia tidak akan asal pangkas semua anggaran belanjanya. “Berhati-hati” mengeluarkan dana memang penting, tetapi tidak perlu lalu membuat dunia seperti kiamat.

Seorang di antara orang-orang yang selalu optimis itu adalah Grup Lippo James Riady. “Ekonomi akan berjalan perlahan iya, tetapi yakinlah itu cuma sebentar. Mengapa? Sebab, semua orang pasti akan mati-matian bangkit. Segenap kekuatan akan dikerahkan untuk survive. Ekonomi pasti segera bergelora,” kata James di Jakarta pecan lalu. Maka kata James, ada baiknya kita cham siong (diskusi dengan rileks). Kita persiapkan diri sebaik-baiknya bahwa tahun depan ekomomi akan berjalan perlahan. Kita pun realistis bank sulit kucurkan dana karena banyak pertimbangan. Kalau berangkat dari kesadaran itu dunia usaha justru akan lebih percaya diri untuk bertarung meraih cuan (untung). “Ayolah kita harus yakin,” seru James.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga sangat optimistis. Bahwa ekonomi nasional akan melambat iya, tetapi justru ketika gerbong ekonomi bergerak lamban itulah para pebisnis atau saudagar yang jeli akan mudah meraih kesempatan emas. “Hati-hati dan konsolidasi memang penting, tetapi jangan takut,” kata Jusuf Kalla pekan lalu. Indonesia memiliki pasar domestic amat luas, penduduk 240 juta jiwa. Kalau anda mampu mengeluarkan produk bermutu, andalah pemenangnya.

Contoh riil dari kepandaian meraih peluang ditunjukkan oleh seorang pengusaha Indonesia sekian tahun lalu. Pengusaha ini datang ke sebuah kota bisnis dunia bersama putranya yang cemerlang. kepada sang putra, usahawan itu mengatakan bahwa untuk memilliki usaha kelas dunia, mereka mesti memiliki kantor di luar negeri, dan gedung kantor itu harus dalam status dimiliki. Mereka berdua berjalan ke sebuah lokasi strategis, dan tiba-tiba pengusaha tersebut menunjuk ke sebuah gedung megah, ia meminta anaknya membeli gedung tersebut.

Tergagap-gagap sang anak mendengar perintah ayahnya. Ia menyatakan, membeli gedung ini oke-oke saja, tetapi uangnya dari mana? Sekadar diketahui, harga tanah per meter persegi di kota itu amat mahal. Lebih kurang sepuluh kali lipat harga tanah di lokasi premium Jakarta. Ayahnya menyatakan, seorang usahan harus yakin mampu melakukannya. Ia kemudian menggamit putranya menemui seorang usahawan besar di kota bisnis dunia itu dan (hebatnya) memperoleh pinjaman satu miliar dolas AS.

Dengan uang itu mereka membeli gedung megah tersebut, dan yang penting menabalkan namanya di puncak gedung. Jika kini dihitung-hitung, nilai gedung sudah jauh di atas harga beli dua puluhan tahun silam. Mereka meraih laba yang amat besar, termasuk reputasi perusahaan. Kini grup usaha ini mempunyai perusahaan raksasa di kota tersebut.

Ini hanyalah sebuah contoh bahwa di tengah kesulitan, selalu ada peluang.

Kini dunia property nasional terguncang-guncang oleh krisis yang diakibatkan oleh sakit kerasnya ekonomi Amerika Serikat. Banyak pemain property konsolidasi, bekerja sangat efisien dan penuh kecermatan. Itu memang langkah bijaksana. Akan tetapi lebih bijaksana lagi kalau mampu keluar dari kotak krisis itu, dan dengan pikiran cemerlang, menyambar semua peluang yang terbuka lebar. Krisis ekonomi selalu memberi peluang untuk menjadi usahawan besar. (Abun Sanda/Kompas, 18 Desember 2008)

Terimakasih Sudah melihat artikel kami dan membacanya semoga artikel yang berjudul Yohanes Chandra Ekajaya — Krisis Ekonomi Mesti Menguntungkan bisa bermanfaat untuk anda.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.