Agile Transformation: Build the Right Thing, Build the Thing Right

Yoga Hanggara
Dec 26, 2019 · 2 min read
Jabar Digital Service & The Local Enablers Bandung: Agile Leadership

Baru saja kami di tim @jabardigitalservice bersama dengan @thelocalenablers mengadakan event internal capacity building dengan topik Agile Leadership & Scrum. Bagi saya ini menarik, karena bisa me-refresh kembali atas proses belajar selama ini.

Dari diskusi-diskusi yang ada, termasuk dengan @bayudwiputra @thofhan @aldidoanta, yang menurut saya ultimate achievement pada proses organisasi/tim produk bertransformasi menjadi agile (dengan scrum) adalah:

Build the Right Thing

Pertanyaan, eksperimen, yang perlu terus ditanyakan, dicoba, dan dipelajari untuk membangun sebuah produk yang bernilai tinggi.

  1. Apakah pengguna merasakan fitur ini bermanfaat?
  2. Apakah pengguna merasakan fitur ini benar-benar menyelesaikan masalah mereka (dan market fit)?
  3. Bagaimana melakukan validasi masalah yang ada & solusi yang kita buat?
  4. Bagaimana mengukur keberhasilan atas hal-hal itu?

Build the Thing Right

Apakah tim pengembang, product owners, stakeholders, sudah membangun dengan cara-cara terbaik?

Apakah tim pengembang engage terhadap produk yang dibangun? Bagaimana agar tim merasa memiliki (sense of belonging) terhadap produk? Karena konon jika sudah suka, cinta, merasa memiliki, maka kita akan memberikan yang terbaik.

  1. Apakah kode yang ditulis maintainable?
  2. Apakah menggunakan teknologi yang tepat?
  3. Apakah dokumentasi yang ada efektif atau tidak?
  4. Apakah tim happy, passionate, involve, dan efektif pada setiap proses?

Apakah kita sudah membangun right thing dan build rightly? Pertanyaan dan jawaban tersebut harus kita sering ulang-ulang. Tidak bisa kita merencanakan hari ini, dan baru kita evaluasi/dapat feedback di akhir tahun (seperti, waterfall?).

Transparency, Inspect, Adapt

Tiga pilar utama framework Scrum ini membantu “memaksa” tim untuk belajar sesegera mungkin. Baik cara kerja (proses) maupun hasilnya (outcome).

Kita perlu belajar, mencoba cara baru (eksperimen), fail often, learn fast. Tidak mengapa salah, yang penting kita tidak boleh status quo. Terlalu lama mendapatkan feedback akan jadi bom waktu.

Bahkan Scrum memaksa kita tidak boleh berlama-lama dalam “belajar/eksperimen”. Perlu batas waktu untuk mencoba dan mengevaluasi hasilnya, yaitu dalam sebuah timebox sprint: 1 minggu, 2 minggu, dan maksimal 1 bulan.

Di akhir sprint, tim harus mengukur (inspect) proses & hasil eksperimennya, serta segera mendapatkan feedback, dan merencanakan perubahan (adapt) di sprint berikutnya untuk lebih baik lagi.

Yang perlu diingat dalam setiap tahapannya, ada values dari Scrum yang perlu dijaga bersama: Commitment, Courage, Focus, Openness, Respect.

Menariknya lagi, hal-hal di atas tidak hanya bisa dilakukan di sebuah tim produk digital. Namun di pekerjaan-pekerjaan yang lain. Jeff Sutherland, salah satu founder Scrum sendiri pernah membagikan success story mempraktekan Scrum di sebuah persiapan pernikahan, membangun rumah, dsb.

Saatnya belajar lagi.

Yoga Hanggara

Written by

Head of Engineering at Jabar Digital Service. Writing Code for Humans.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade