Ini kah takdir kita?

Bertahun menyambung nyambung rasa, sempat sekarat bahkan tiada, sempat luka lalu lupa, kemudian tumbuh merona kembali. bertahun tahun kita menyulam kisah yang tidak tau ada atau tiada.

kita dipertemukan lalu tak lama kemudian dipisahkan oleh jarak yang menurutku cukup membuat kita saling lupa. setelah bertahun kemudian takdir membawa kita ditempatkan disuatu wadah yang sama. namun entah apa yang terjadi aku dan kamu saling menoleh ke arah berbeda seolah tidak mau saling menatap walau hanya sesaat. setahun pun berlalu tanpa ada kata atau temu yang bermakna. kita dilipat jarak namun tidak demikian dengan rasa yang masih kekar bersama egonya

disaat hatiku lunak, menemuimu dengan ego yang sudah tak berdaya, kau menyambutnya dengan tawa. secercah kebahagiaan dalam hatiku tumbuh kembali. ada bagian dari dirimu yang sedikit bisa menerimaku, pikirku. kita bertemu dan bercerita banyak hal. ya banyak hal menuurutku. mungkin ini adalah pertemuan kita yang paling bermakna, kurasa pikiran mu sudah mau sedikit saja mendengarkan ku, kurasa juga pikiran mu lebih dewasa dari sebelum-sebelumnya.

pertemuan pertama kita setelah perjalanan yang cukup panjang tidak membuat kita harus saling peluk atau saling berekspresi layaknya orang yang bahagia akhirnya ketemu. kamu dengan pandangan mu masih sama seperti dulu namun aku melihat ada sesuatu dimata mu yang tidak bisa aku jelaskan lebihdalam. sapaan kita masih tenang seperti biasa, tidak ada sesuatu yang spesial yang membuat kita membuka rindu yang sudah dibungkam sekian lama.

pikirku lagi dirimu lebih terbuka dari biasa, kau banyak bercerita, dan sekarang ini pembicaraa kita sudah semakin satu frekuensi, apakah ini yang membuat kamu berbeda dari biasa? sekian jam duduk disampingmu membuatku larut dan lupa akan lambungan bahagia ini. pikirku sudah berimajinasi tinggi aku bepikir apakah sekarang saatnya kita bisa memulai semua dari awal kembali. dengan pemikiran yang sudah lebih matang, dan hati yang menurutku sudah lebih bisa aku masuki, sekali lagi ini adlah pikirku saat itu. kamu berbagi rencana hidupmu kedepan. dan banyak hal yang semakin membuatku benar-benar ingin lama menatap mu.

lalu semuanya seolah patah disaat kau bilang mau pamit.

lagi?

apa semesta menggerakkan hatiku kembali menemuimu untuk kembali mendengar kata pamit?

ke tanah mana lagi kau akan meninggalkan ku? ke langit mana lagi ku harus menemukan mu?

katamu tidak menjelaskan apa-apa, tidak untuk cukup membuat hatiku baik-baik saja. tidak untuk cukup menghidupkan kembali harap itu. dirimu kembali ke dirimu yang dulu. bahagia dan perubahan mu beberapa jam ini kembali menjadi ilusi. aku disuruh kembali ke jalanan tak berarah, dan sesekali diberi luka lalu disapa agar tetap terjaga.

aku pulang dengan hati hampa

pikiranku masih tetang semua kata-katamu yang membuatku mengais-ngais berita. sampai aku berhenti di sebuah kalimat itu. kau akan pergi kesana ternyata.

baru saja aku memikirkan untuk melakukan berbagai hal denganmu, sekedar duduk melihatku belajar mungkin, atau berolahraga bersama. lagi ya lagi ternyata semua pikirku kembali dibuat padam kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama-sama

pamitmu ku terima, tapi ku tak tau apakah bensin ini masih cukup untuk menemukanmu kembali, atau apakah rasa ini cukup umur menanti pengakuanmu itu.

kita masih tetap sama, dengan jarak, dan ketidakjelasan rasa. bertemu hanya untuk sekedar menyapa lalu pamit untuk sekian lama.

Bandung, 11 September 2018

Like what you read? Give Yoli Agnesia a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.