Berkelana di Era Konten

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak bisa ditinggalkan ketika kita berjalan-jalan. Entah tertera di hukum yang mana, kita seolah diwajibkan untuk membagi pengalaman kehidupan melalui akun Instagram. Terusik dengan peran media sosial yang begitu dominan, saya sendiri mencoba memikirkan ulang apa sebenarnya tujuan saya berjalan-jalan? Apakah Instagram mendukung tujuan tersebut atau justru mengalihkan saya pada hal lain yang bukan prioritas?

Pemikiran mengenai dokumentasi dalam perjalanan mulai menghantui saya sejak pendakian Kawah Ijen pada tahun 2016. Ketika berada di puncak setelah 4 jam pendakian, saya justru sibuk mengambil gambar hingga kehilangan waktu untuk bisa menikmati momen sepenuhnya. Sejak itu, saya berkomitmen untuk selalu memprioritaskan eksplorasi daripada dokumentasi.

“Netizen harus dikasih makan”

Selama sebulan terakhir, saya melakoni 3 perjalanan berbeda dengan 3 rekan perjalanan yang juga bervariasi. Berpergian dengan berbagai tipe orang menyadarkan saya bahwa, secara umum, media sosial sudah menjadi kebutuhan primer. Dibekali rasa penasaran mengenai kebenarannya, saya mencoba menanyakan secara langsung kepada teman-teman saya di Instagram: seberapa penting mengambil foto dan membagikannya di media sosial? Berikut formulasi pertanyaan yang saya lontarkan:

“Kalau ada tawaran hipotetis untuk bayarin liburan kamu dengan syarat tidak boleh ambil gambar di lokasi liburan dan post ke media sosial sama sekali, apakah kamu mau ambil tawaran itu atau tetap pilih bayar sendiri?”

Memang survey ini jauh dari ideal, terutama karena sampelnya merupakan teman-teman instagram saya sendiri. Tidak ada jawaban yang benar dan salah, setiap orang tentu saja boleh memiliki motivasinya masing-masing.

Media sosial bukan hal yang terpenting asalkan masih diperbolehkan mengambil gambar. (Infografik oleh Hima)

Berdasarkan jawaban dari teman-teman saya — yang berbaik hati memberikan respon — memang mengambil gambar itu penting sebagai upaya merekam apa yang terjadi selama perjalanan: menjadi pengingat, bahan cerita, atau untuk dikenang kelak. Media sosial pun hanya salah satu tempat untuk menyimpan foto dan tidak ada masalah dengan peraturan melarang posting ke media sosial. Secara umum, liburan gratis lebih memikat daripada foto dan media sosial.

Beberapa responden mengajukan pertanyaan tambahan yang dapat diartikan sebagai suatu syarat. Mulai dari yang sederhana seperti diperbolehkan membeli kartu pos dan memilih lokasi tujuan. Satu pola yang juga muncul adalah mencoba menegosiasi mengenai mengambil gambar. “Kalau syaratnya cuma ga boleh post media sosial, definitely ambil.”, begitu jawab salah satu teman saya. Sepertinya media sosial bukan syarat yang memberatkan, namun foto sebagai kenang-kenangan dianggap sangat penting.

“Ngga terlalu penting dibandingin sama biaya gratisnya. Memorynya bisa di keep aja in mind. Atau sekadar dinikmati aja perjalanannya tanpa perlu diganggu sama kesibukkan upload foto atau pilih-pilih foto demi feed yang bagus”

“Iya mau, biasanya gw pergi-pergi jarang posting, kecuali emang niat buat nyimpen foto yang bagus-bagus daripada simpen di hp”
“(Foto) penting, tapi lebih penting pengalamannya”
“Setiap perjalanan punya cerita dan pengalamannya sendiri, dan itu jauh lebih penting ketimbang foto. Foto hanya pemanis, bukan tujuan”
“Pasti pengen foto sih paling ga buat kenangan sendiri. Tapi kalau bayarannya jalan jalan gratis kayaknya bisa ditahan. Bisa didokumentasikan lewat tulisan”
“As long as bisa inget pengalaman pas liburan itu ya, foto prioritas kedua kali ya. Menurut gw yang prioritas pertama, si pengalaman soalnya.”

Spend money on experience, not things” sepertinya menjadi pedoman hidup yang dipegang banyak teman saya. Dibanding foto dan media sosial, kenangan adalah hal terpenting dalam perjalanan. Entah apa yang kita perbuat dengan “kenangan” dan bagaimana kita ingin membentuk “kenangan” itu sendiri, tentu terserah kepada setiap orang. Apakah media sosial menjadi pendukung atau penghalang dari tujuan tersebut, juga menjadi pertanyaan yang dapat kita refleksikan masing-masing.

Tawaran Berikutnya

Survey instagram yang saya lakukan terinspirasi dari sebuah studi kasus di buku Homo Deus. Begini versi aslinya yang saya “Indonesia”-kan:

Bayangkan anda boleh memilih di antara dua pilihan tujuan berlibur gratis: berwisata ke Yogyakarta, menyusuri Keraton Yogyakarta dan bangunan bersejarah di sekitarnya. Pilihan kedua, Anda boleh memilih destinasi impian Anda di Indonesia, misalnya Bali, Lombok, atau bahkan Raja Ampat.
Tentu saja ada perbedaannya. Apabila anda memilih wisata Keraton Yogyakarta, anda diperbolehkan mengambil gambar dan mengirimkannya melalui media sosial dengan bebas.
Di lain pihak, jika anda memutuskan untuk merealisasikan perjalanan impian Anda, maka tidak boleh mengabadikan dalam bentuk apapun (gambar ataupun tulisan). Ditambah lagi, ketika pulang dari tujuan impian tersebut, Anda harus menelan sebuah pil yang membuat ingatan mengenai perjalanan tersebut hilang sama sekali.

Dibandingkan pertanyaan yang saya ajukan, pertanyaan ini lebih menantang karena Anda tidak ingat sama sekali mengenai perjalanan yang telah Anda lakukan. Anda bisa mendapatkan pengalaman yang luar biasa, tapi tidak berbekas begitu semuanya berakhir. Sekarang, “kenangan” yang kita agung-agungkan itu diadu dengan kesempatan liburan gratis. Kira-kira, Anda akan memilih yang mana?