Eksklusivisme PSSI dan Sikap Pesimistis Pecinta Sepak Bola Indonesia

Pesimistis Masyarakat Indonesia terhadapan kepengurusan PSSI yang baru saja terpilih hari ini yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (02/11/2019) sangat terasa di berbagai media cetak maupun media sosial. Harapan untuk Revolusi PSSI mungkin bisa dikatakan pupus karena mereka yang terpilih adalah orang-orang lama yang sebenarnya sudah bisa dikatakan gagal selama kepengurusannya di federasi sepakbola negeri ini, tentu masyarakat menginginkan orang-orang dengan semangat dan visi-misi yang segar terhadap perubahan struktur organisasi ini sehingga harapannya bisa mencetak prestasi lebih baik dari sebelumnya. Mundur sebulan dari sekarang kita bisa melihat betapa amburadulnya Timnas Indonesia dalam ajang yang cukup penting seperti World Cup Qualification, bukan saja dari hasil tetapi jauh dari itu strategi serta visi bermain dari pemain kita sudah sangat buruk, pantas juga sebenarnya berada di peringkat 167 FIFA. Selain itu bisa dilihat juga kerusuhan pendukung PSIM pada lanjutan Liga 2 berhadapan dengan Persis Solo (21/10/19) juga marahnya Bonek di kandangnya sendiri GBT pada (29/10/19) adalah gambaran terbelakangnya sepakbola di negeri ini. Beberapa kejadian diatas (tentunya masih banyak kejadian lain) adalah gambaran bahwa federasi ini GAGAL TOTAL dalam melaksanakan tugasnya selama masa periode terpilihnya, Lantas atas dasar apa mereka orang-orang lama masih percaya diri dengan mencalonkan lagi? We never know.
Eksklusivisme adalah salah satu penyebab gagalnya organisasi ini dalam berbagai hal yang sebenarnya PSSI adalah harapan segala insan pecinta sepak bola negeri ini. Inkonsistensi jadwal, aturan, dan penegakan pelanggaran hukum menjadikan organisasi ini adalah ladang suap-menyuap dan lobi-melobi di dalamnya. Sebagai organisasi independent sifat eksklusif ini sebenarnya sah-sah saja jika mereka menghindari ikut campur pihak pemerintah karena dalam statuta FIFA memang itu dilarang, tetapi PSSI juga butuh banyak sekali masukan dari berbagai pihak stakeholder sepak bola untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kompleks ini yang sebenarnya mereka sendiri tidak bisa menemukan solusi terbaiknya. Organisasi ini butuh sosok yang paham sepakbola dari segi manajemen, bisnis dan berbagai hal lain yang bukan sekedar kekuasaan dan jabatan apalagi sebagai batu loncatan, saya tidak melihat itu ada di Ketua Umum PSSI saat ini (Mochammad Iriawan a.k.a Iwan Bule) apalagi Wakil Ketua Umum yang lama (Iwan Budianto a.k.a Lord IB). Entah apa alasan dia mencalonkan ketua umum dan siapa dibalik pencalonannya, yang jelas hari ini dia sudah terpilih menjadi Ketua Umum PSSI.
Selama ini PSSI selalu berlindung dalam kalimat Football Family sehingga mereka bisa dikatakan tidak peduli tentang siapa dan apa suara orang-orang diluar sana termasuk pecinta sepak bola Indonesia itu sendiri. Padahal jika ditarik lebih panjang sebenarnya lewat APBN kita sebagai masyarakat sudah berpartisipasi dalam setiap pembangunan persepakbolaan di tanah air, tentu sangat wajar jika masyarakat meminta tanggung jawab atas setiap apa yang dilakukan PSSI. Semoga siapapun yang ada di dalam PSSI punya rasa tanggung jawab yang tinggi, juga ketika ia gagal siap untuk diganti.
Menutup tulisan dengan kutipan kalimat ‘…setiap kritik dan protes terhadap kebijakan yang dikeluarkan pelaku organisasi selalu dianggap bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan wibawa dan menggulingkan kepemimpinan organisasi tersebut. Alhasil, curiga-mencurigai tumbuh subur di tubuh PSSI saat ini. Kejujuran, sportivitas, dan hati nurani menjadi barang mahal dalam setiap pertandingan. Yang tumbuh subur ialah konspirasi dan suap.”
https://gagasanhukum.wordpress.com/2011/03/14/eksklusivisme-pssi/
