Inovasi Terkini dari Teknologi Mobile Banking

Morten Hofstad, Head of Asia Pacific MYPINPAD, mempelajari mengapa mobile banking masih belum mencapai potensi optimal di Asia Pasifik dan potensi apa saja yang bisa digali.

Mobile Banking saat ini sudah menjadi kanal transaksi perbankan terbesar di kawasan Asia Pasifik. Dari pasar yang sudah maju dan canggih seperti Singapura sampai pasar yang tengah berkembang pesat seperti India. Kawasan ini tengah beralih ke perangkat mobile untuk kebutuhan transaksi perbankannya.

Studi yang dilakukan baru-baru ini oleh KPMG bahkan memperkirakan bahwa jumlah pengguna mobile banking akan berlipat ganda menjadi 1,8 milyar sampai tahun 2019 dan menunjukkan bahwa Asia Tenggara akan menjadi lokomotif utama tren ini.

Kendati pun demikian, apakah peluang ini jadi disempitkan dengan adanya masalah keamanan? Kami telah memetakan 3 area yang sangat perlu diperhatikan seiring meningkatnya tren mobile banking:

1) Berlanjutnya ketergantungan terhadap sistem One-Time-Passwords (OTPs)– OTP adalah password(sandi) yang secara otomatis terkirim ke konsumen melalui SMS atau Token. Metode otentikasi ini adalah yang paling dominan di Asia Pasifik. Semua bank di India, sebagai contoh, menggunakannya[1] dan para konsumen di DBS Bank Singapura sangat terbiasa menggunakan OTP yang dikirim via SMS untuk otentifikasi transaksi.

Sebenarnya, OTP bukanlah cara otentikasi paling aman, bukan pula yang paling nyaman. Penipuan melalui Kartu SIM (dengan modus ini para penipu mampu memiliki duplikat informasi Kartu SIM dan “membajak” SMS otentifikasi). Hal ini menjadi masalah global yang akibatnya adalah banyak konsumen di seluruh dunia mendapati rekening banknya kosong, karena para penipu menggunakan detail dari informasi ponsel untuk mengakses layanan mobile banking ataupun melakukan transaksi.

OTP juga tidak nyaman. Keharusan menunggu datangnya password yang dikirim ke ponsel memperlambat proses bertransaksi yang seharusnya lancar dan cepat. Perangkat token bahkan lebih tidak nyaman lagi dan tidak ada konsumen yang mau harus membawa token kemana-mana untuk mengakses layanan mobile banking.

2) Pembayaran di Lokasi Perbelanjaan — Di wilayah Eropa dan Amerika,Visa and MasterCard mendominasi pasar Kartu Kredit. Namun di Asia Pasifik, sekelompok Kartu Kredit local mencegah dominasi dari 2 raksasa tadi untuk bisa menguasai pasar sebagaimana halnya di Barat. Ini berarti bahwa banyak Kartu Kredit yang beroperasi. Bagi para pedagang, yang ingin menerima pembayaran melalui kartu di tokonya, ini berarti harus menyediakan banyak Terminal Point of Sale (POS)ataupun mesin EDC.

Ponsel, yang diberi perangkat tambahan dan aplikasi khusus untuk menerima PIN otentikasi, dapat berubah menjadi mesin EDC yang aman. Pedagang tidak dapat menerima pembayaran dengan kartu? Tidak perlu pusing, Anda bisa bayar di tempat melalui ponsel Anda.

3) Keamanan — Studi banding yang dilakukan terhadap aplikasi mobile banking pada tahun 2016 menunjukkan bahwa 85% di antaranya gagal lolos uji keamanan tingkat dasar.[2]

Salah satu masalah yang teridentifikasi adalah bahwa di seluruh kawasan Asia Pasifik dan khususnya di pasar yang masih berkembang, kurang memadainya hukum privasi dan keamanan mengakibatkan terjadinya ketidakteraturan pasar bagi aplikasi perbankan. 
 
 ATM pun menjadi masalah keamanan dengan banyaknya laporan soal penipuan kartu ATM.

Perangkat mobile punya potensi untuk menjadi ATM Personal yang memungkinkan konsumen untuk menikmati layanan ATM umum (kecuali menarik uang tunai). Hal ini adalah upaya untuk menyempurnakan tingkat keamanan.

Mobile banking bagi layanan finansial merupakan kolaborasi sumberdaya global, dimana para pakar dibidangnya bekerja keras bersama-sama untuk merancang strategi internasional berbasiskan kemampuan mobile. Statistik dari Asia Pasifik menunjukkan bahwa sebentar lagi mobile akan menjadi yang terdepan di bidang finansial. Semua permasalahan yang diangkat di artikel ini berkaitan dengan kurang memadainya keamanan layanan mobile yang saat ini tersedia di kawasan Asia Pasifik.

Otentikasi konsumen yang kuat dan universal, yang dirancang khusus untuk mobile, kini tersedia. Contohnya, PIN Kartu Kredit atau Kartu Debit konsumen saat ini bisa dimanfaatkn untuk mengaktivasi Terminal POS (Point of Sale) Mobile dan memungkinkan untuk melakukan aktivitas perbankan tanpa harus ke ATM.

MYPINPAD memiliki rencana investasi jangka panjang di kawasan Asia Pasifik dengan operasi permanen yang kini hadir di Indonesia dan Hong Kong — dua pilar utama untuk pertumbuhan — dan kami siap membawa solusi otentikasi yang aman dan dalam berbagai bentuk serta cara ke pasar yang tumbuh subur ini.

[1]Let’s Talk Payments, 2016

[2]Data Breach Today, 2016