Asalkan mau belajar dan berusaha

Banyak hal disekitar kita yang sangat menarik untuk diceritakan. Hanya saja saya pun menyadari apakah hal tersebut bermanfaat bagi orang yang mendengarkan ataukah tidak. Apakah itu (((penting))) ataukah tidak. Itu problemnya.

Siang ini saya ke Progo. Selepas family time bersama adik. Yaa, di jogja saya dan adik yang kini masih semester tiga merantau demi secercah harapan dan cita-cita: kuliah!

Awalnya, ketika lulus SMA, oleh ayah si adik di suruh kerja. Wah saya ga terima. Ya iyalah. Masa kakaknya kuliah adiknya tidak. Yang benar, kakaknya sarjana, kalo bisa adiknya nanti lanjut sampai jenjang master. Itu baru kakak yang hebat. Bisa mengarahkan adiknya lebih baik ketimbang dia.

Akhirnya saya sedikit memaksa bapak untuk membiarkan dia kuliah. Meskipun saat itu dikatakan bahwa nanti adik juga kuliah, tapi sekarang kerja dulu. Tapi saya khawatir, kalo udah kerja nanti bakal malas untuk belajar lagi. Keenakan udah terima gaji. Gak pikir pikir lagi untuk mendapatkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Banyak teman saya begitu. Udah kerja, udah ga pengen lagi kuliah.

Alhamdulllah, akhirnya dia berangkat ke jogja. Saat tiba di sinilah, baru ikut-ikut pendaftaran kampus. Akhirnya ia berjodoh dengan Pendidikan Kimia UII. Meski rada jauh, karena saya di Bulaksumur. Tapi gapapa.

Dulu, saya harus ngojekin ia tiap pagi untuk berangkat ke kampus, lalu sorenya jemput lagi. Alhamdulllah, saya bisa beli motor bekas. Akhirnya dapat berjalan sendiri sendiri.

Agenda setiap pekan sederhana saja, makan siang bareng. Ngobrol-ngobrol seputar kuliahnya. Kesibukanya. Ya, mudah-mudahan bisa segera lulus ya dek.

Lanjut, saat di Progo. Saya tengah mencari supervicon untuk kamar. Lantai kamar yang terbuat dari pavin block lama, kurang sedap dipandang. 14,5 ribu per meter. 10 meter saya kira cukup. Bawa pulang. Pasang.

Baru saja bongkar-bongkar kamar, Pak Usrek datang. Teknisi listrik. sudah 4 hari kontrakan saya padam listrik. Kelihatannya konslet. Hanya butuh sekitar satu jam, semuanya selesai. Awalnya beliau manjat ke atas genteng, ngecek sambungan listrik dari rumah sebelah. Ada yang rusak. Lalu mondar-mandir sedikit ke kotak meteran di dekat pintu depan. Utak atik, selesai.

Pas usrek ini kelahiran tahun 66. Anaknya dua. Yang pertama alumni MIPA UGM, kini keterima sebagai PNS di Palu di Badan Lingkungan Hidup. Anak yang kedua semester 4 di FTP UGM. Mantap ya? Bapak kerja serabutan. Anak-anaknya jadi orang. Sama dengan bapak saya, beliau juga supir. Lalu sambil sambil jadi kernet listrik. Kalo bapak dulu, awalnya di listrik juga, tapi karena jobnya sering manjat tiang tiang listrik, tinggi, ia kurang cocok. Lalu ambil driving licence, 17 tahun akhirnya jadi supir. Mulai dari supir truk kontainer, supir pribadi, taxi, sampai sekarang supir perusahaan sucofindo.

Tora cafe jadi teman ngobrol pak usrek dan saya. Pesen dari warung burjo kang rudi. Pas sebelah kontrakan. Hari ini pak usrek sejak selepas zuhur udah nangani 3 rumah. Ini mau pergi lagi, karena masih ada satu lagi. Luar biasa. Paginya beliau nyupir. Yups, benar sekali, asalkan mau belajar dan berusaha, pasti rezeki itu Allah mudahkan.
.
.
.
.
Radikal Yuda
@Meja Belajar

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.