Kepedulian terhadap Spiritualitas

Radikal Yuda Utama
Nov 2 · 5 min read

Angin sore mulai pelan. Langkah-langkah kaki bergerak pulang. Ashar yang tadi memanggil telah tertunaikan. Seseorang lelaki menepuk pundak saya, “yo, ikut aku. Ada mahasiswa lagi stress..”

Photo by Aarón Blanco Tejedor on Unsplash

Aku tak berpikir panjang. Beberapa detik kemudian, langkahku cepat hingga ke pintu. Sembarang sandal aku pakai. Masjid yang punya. 15 meter dari pintu masjid itu telah ramai orang-orang saling bertatap dan terdengar omong-omong yang ricuh. Wajah-wajah bingung tergambar dari garis wajah mereka. Mayoritas ibuk-ibuk warga desa.

Langkahku langsung bertemu dengan teras rumah. Ada anak muda yang ku kenal dekat, “Apa yang terjadi?”

“Ya Allah mas. Kukuh Mas...” nada suara itu terdengar pasrah sekali. Dibalik ruangan tamu menuju tengah rumah, anak muda berwajah menarik itu tampak kehilangan sesuatu. Jelas sekali tatap nanar matanya penuh ketakutan. Ia berjalan mondar-mandir sambil menunjuk-nunjuk sesiapa yang terdekat. “KALIAN SEMUA HARUS NGERTI SKENARIOKU!!” hardiknya pada semua. Tak berpakaian, kecuali kaos atasannya. Dan kini ia semakin panik. Baju atasan pun tak dikenakannya lagi. Lelaki paruh baya, bermain karakter dengan memberinya perintah tegas, “Pakai sekarang!”

Ia semakin ke sudut rumah. Namun suaranya tetap keras seolah ada hal menakutkan yang hendak diadukanya. Saya mendengar. “Dengar sini. Saksikan saya ya, kalo perlu pastikan direkam” tukasnya. Hape saya sudah dari tadi merekam aktivitasnya. Untuk tujuan keterangan bagi psikiatri nanti, maksud saya. Pintu depan sekarang kami tutup rapat. Mencegahnya agar tidak berlari keluar. Ricuh suasana ingin tahu masih ramai diluar. Seperti yang kami sangkakan, akhirnya ia mendesak keluar dan lari. Beberapa orang mengikutinya mencoba mengamankan.

Hape saya dari tadi berderang. Gonta-ganti. Saya telfon departemen dan akademik untuk mengetahui kontak orang tuanya. Saya telfon pula pihak ambulan. Minta tolong siapa jika nanti dibutuhkan membawanya ke rumah sakit. Saya telfon pula psikolog, Mba Adel. Lulusan University College London yang punya spesialiasi menangani orang gangguan kejiwaan seperti ini.

“Mas ini kartu mahasiswanya Kukuh..” Gilang menyapaku dengan pelan. “Nanti pasti dibutuhkan saat checkin di rumah sakit”

Saya minta pendapat dari Mba Adel. Sekarang muncul dua opsi dikepala kami. Rumah sakit Gracia atau Rumah Sakit Sardjito. Gracia memang khusus menangani orang seperti ini. Sementara Sardjito lebih terjangkau karena posisinya tak begitu jauh dari TKP.

Menimbang urgensinya. Kami putuskan ke Sardjito. Warga sigap menyiapkan satu mobil pick up. Tak mempan di ruqyah dengan kaki dan tangan terikat, kukuh kami angkut ke atas mobil. Beberapa orang hadir. Mereka adalah teman-teman satu kosan. Sesama mahasiswa dari Kerinci, Jambi. Seingat saya ada Zul. Ada cerita sendiri dengan zul ini. Nanti sampai waktunya.

Sesekali mobil pickup itu terhempas. Entah karena jalanan yang sedikit sedikit polisi tidur. Entah karena memang jalannya tidak rata dan berlubang. Mendekati rumah sakit, separuh jalan hilang. Menjadi lobang galian pembangunan. Sempit jalan mobil tetap melaju pelan.

Pintu IGD tegak lurus dengan arah pintu mobil. Tapi ternyata tak seketika langsung bisa masuk. Di dalam ada beberapa pasien IGD yang juga butuh bantuan segera. Kami tenangkan sementara Kukuh yang merasa semakin gelisah. Ia meronta agar ikatannya dilepaskan. Demi menjaga ketenangannya. Bagian kaki dilepas. Tangan tetap.

Wajahnya bertatap-tatapan dengan dokter di ruangan. Mungkin untung baginya. Ia memelas minta kepada mereka, “Dokter, bukakan plis..”

Penanganan orang seperti ini sedikit penuh drama. Ketenangan dan kepekaaan menjadi kunci utama. Dalam bahasa ilmiahnya kita kenal dengan practical wisdom. Dimana treatment teknis yang sifatnya bukan suatu prosedural. Namun memainkan intuitif.

Ia sempat menendang salah rekan kosannya. Mungkin ia merasa terintimidasi. Bodohnya, si rekan ini hendak membalas dengan tinju. Lah, ini orang lebih gila sekiranya ia membalas. Kematangan emosional dan cerdas mengukur suatu kondisi mutlak harus dihadirkan saat-saat seperti ini.

Sepasang dokter hadir. Dua orang petugas yang tadi menenangkan Kukuh menyelesaikan tugasnya dengan mengikat kaki dan tangan keempat pojok kasur. Kasian melihatnya. Tapi ini apalah, demi kebaikannya. Semua yang hadir di ruangan itu tak punya niat lain, selian penuh harap ia sembuh dan normal kembali.

Pak Ali beberapa saat hadir di ruangan tersebut. Pak Harimawan dari akademik juga hadir. Caring is a new power. Pikir saya. Dikesibukan mereka bersama keluarga di hari weekend, tak membuat kepedulian itu luntur. Ada herman, gilang, sekitar 4-5 orang rekan kosan Kukuh, disusul oleh Lutfi, juga Ari. Saya pikir, saya harus melanjutkan keperluan lain yang tadi tertunda. Kehadiran mereka cukup InshaAllah untuk menemani. Memberi semangat. Menguatkan.

Ada benang merah yang coba saya simpulkan. Kecerdasan spiritual besar sekali perannya. Jauh di atas kecerdasan intelektual dan emosional. Kehilangan aspek ini besar dampaknya. Tekanan dan masalah berat hanya mengalir jika terserap dengan kapasitas spiritual yang baik. Tentu saja ini bukan soal agama. Tapi agama mengambil andil besar dari tumbuh kembangnya spiritualitas seseorang. Yang masih bersih, maka ia akan menemukan fitrah bahwa manusia itu butuh tempat bersandar. Lemahnya manusia tersebut membuatnya mau tak mau butuh memasrahkan diri kepada Dzat yang lebih besar. Kepasrahan dan penyerahan diri itu dalam bahasa arab dimaknai dari kata aslama-yuslimu. Akar kata dari Islam.

Zul. Rekan kosan Kukuh yang sengaja diminta orang tua kukuh untuk stay di Jogja dan mengawasinya, beberapa saat kemudian masuk ke ruang konsultasi bersama sepasang dokter. Keterangan dan kronologis menjadi sangat penting. Selalu ada motif dan kemungkinan sebab dibalik suatu peristiwa. Termasuk peristiwa ini. Banyak informasi yang saya dengar. Dari Gilang, rekan mainnya mengatakan hal itu terjadi saat heboh-hebohnya fatur, ketua BEM UGM yang mulai tenar di media massa. Popularitas itu mungkin jadi pemicu, dimana kukuh pun akhirnya mencoba untuk menunjukkan eksistensi diri ke luar, melalui jejaring media sosial. Baik secara publik dan rekan-rekan terdekatnya. Respon ‘citizen’ tak sebaik yang diharapkan. Bahkan banyak yang mulai merespon negatif tulisan-tulisan yang mulai menyepam tersebut. Kemudian ia mulai membaca buku-buku filsafat. Arah pikirnya mulai menyalahkan dan tidak percaya tuhan.

Masalah?

Tentu saja. Usia remaja dan amal fase kedewasaan merupakan critical path seseorang. Saat ia mulai bisa memilih. Saat segala keputusan tercampuri segala kepentingan. Saat arah dan jalan dipenuhi kegalauan. Saat jati diri terbiaskan oleh berbagai pemikiran dan realita. Menekan ambang batas seseorang untuk sabar dan tenang. Di tambah lagi himpitan masalah keluarga dan rekan-rekan yang buruk. Semuanya memperumit keadaan.

Dari yang saya lihat dari kukuh. Keadaannya antara dua hal. Apakah ia mengalami halusinasi ataukah delusi. Karena pada saat masih dalam kosan, ia merasa begitu takut. Tiap orang dinilai nya sebagai anggota BIN yang hendak membunuhnya. Jika ini yang terjadi, dimana ia mempercayai sesuatu yang tidak benar sesuatu yang benar, maka inilah yang dalam dunia kesehatan jiwa disebut dengan delusi.

Sementara jika ia melihat sesuatu yang tidak nyata atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada maka disebut halusinasi.

Waktu saya telfon Mba Adel, anaknya Bu Pipin, sebagai seorang psikolog ia sempat menanyakan soal kemungkinan bipolar. Dimana cirinya seseorang mengalami fluktuatif perasaan yang sangat tajam. Kadang sangat senang dan tiba-tiba jadi sangat sedih. Mba Adel juga sempat memberikan langkah penanganan awal bagi orang yang terkena gangguan mental kayak gini. Khususnya bagi yang reaktif. Siapkan satu ruangan baginya dan keluarkan semua benda-benda tajam dan berbahaya yang dapat mengancam. Kemudian pintu keluar di tutup. Kemudian bangun komunikasi yang baik untuk meredekan.

**tokoh bukan nama sebenarnya

****

Yogyakarta, 27 Oktober 2019 | Radikal Yuda Utama

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade