Kita sejatinya tak benar-benar butuh dorongan ketimbang dijatuhkan.

Mengajarkan kesabaran pada orang lain tidak selalu dengan meneguhkannya, "Kamu yang sabar yaa", "Kamu yang semangat yaa". Tidak mesti. Bahkan sebaliknya dengan mempertemukan dirinya dengan hal-hal yang merobek-robek kesabaran. Malah terkadang benar-benar jadi pelajaran yang mengetuk jiwanya. Menampar dirinya. Menguatkan kesabarannya.
Begitu pula saat memotivasi seseorang agar berprestasi itu tak selalu dengan mendorongnya. Bahkan dengan cara menjatuhkannya mendatangkan hasil yang lebih baik. "Kamu itu bodoh, pemalas, lemah mana mungkin berhasil..."
Atau dengan melemparkan pertanyaan, "Yakiin kamu mampu? Ah, tipe tipa seperti kamu tak mungkin bisa..." dengan nada meragukan. Memang terdengar buruk. Tapi hal ini mendidik lebih baik. Membuatnya merenung lebih dalam. Ketimbang dengan 'mengangkat-angkat' atau 'melambung-lambungkannya'. Kamu pasti bisa. Kamu itu hebat. Ah, cengeng! Tak begitu caranya.
Setidaknya hal itu telah merubah diri dan cara pandang saya. Titik tolak yang benar-benar mendasar. Hal itu terjadi sekitar 18 tahun yang lalu. Titik dimana saya bisa mengatakan. I never rely too much on others anymore then. Waktu itu saya semester pertama kelas 1 SD.
Pagi itu mentari sedang cerah-cerahnya. Secerah wajah saya yang dinobatkan sebagai rangking 5 terbaik dikelas. Berdiri pada deretan siswa terbaik dari sekitar 30an siswa dikelas tersebut, merupakan momen indah dalam hidup saya. Ever. Angin timur serasa membuat dada ini begitu kembangnya karena bangga. Rasa bahagia.
Buku rapor itu menjadu tak kalah penting daripada surat tanah warga sekampung Erba. Itu bagai nyawa kedua yang membuat saya begitu bersemangat. Berkali kali lipat jauh bersemangat sebelum hari itu tiba.
Tak saya lepas ia dari genggaman. Hingga saya pulang, duduk diatas keranjang Ibu, tangan kanan saya tetap memegangnya dengan erat. Selepas ini saya akan ke rumah nenek kakek. Ada berita bahagia untuk mereka. Cucu pertamanya, tak main! rangking 5 dari 30 orang. Betul. Senyum mereka begitu lebar. Bahagia. Tak ayal, bahagia yang tadi sudah mengisi rongga-rongga dada, kini mulai masuk ke pembuluh-pembuluh darah. Mereka membutuhkan ruang yang lain untuk diisi. "Pintar cucu nenek", "Lai santiang baraja yo (kok pintar ya belajarnya),"
Momen itu terjadi. Petir itu menyambar kembang mawar yang baru saja mekar. Saya yang sudah merasa terbang ke langit tujuh merasa terhempas keras ke dasar bumi. Kelas 1 SD. Mak uwo saya bilang, "Kok bongak bana waang. Baa kok cuman rangking limo. Ealah, apo yang hebat rangking limo. Urang rangking ciek. Itu baru mantap. Kalo cuman rangking 5, ndak ado yang mantap... bongak namonyo tu"
(kok kamu bodoh. Kenapa kok cuman rangking lima. Orang lain rangking satu. Itu yang hebat. Kalo cuman rangking 5. Apanya yang hebat. Itu mah bodoh namanya)
Kalo anda pernah sunat pake bambu tanpa bius. Maka sakit dada saya serasa ditusuk belati beracun beratus-ratus kali lipat daripada itu. Langit yg cerah terasa gelap. Tak terasa air mata saya seketika berderai. Mau marah. Namun tak berdata. Takut dibilang cengeng. Lalu saya bersembunyi dibalik kursi tamu. Terseguk-seguk. Sebelum akhirnya Ibu menyadarinya. Bersegera saya hapus air mata kecewa itu. Berdalih sambil mengatakan, "mata Yuda kemasukan debu Bu.." makanya agak perih. Merah.
That's the moment. Titik balik yang merubah mindset saya. Cukup sekali itu untuk membuat saya terus merasa yakin, saya pasti bisa dan saya akan buktikan.
Ajaib memang. Tak perlu naik satu demi satu tangga untuk jadi yang terbaik. Tahun-tahun tersisa, kelas 2 sd 6 saya selalu juara 1. Dimana kemudian Ibu selalu dipanggil untuk naik ke atas podium. Kebahagiaan lain yang juga lebih besar ketimbang juara itu sendiri.
Bertahun-tahun. SMP bahkan saya tak perlu rangking 5 dulu. Dari semester pertama sampe lulus saya jadi yang terbaik dikelas. Hingga SMA dimana saya pun dianugerahi sebagai siswa berprestasi Riau yang penghargaannya langsung diserahkan oleh bapak Gubernur dihadapan ribuah pasang mata saat upacara umum perhelatan Hari Pendidikan Nasional 2012.
Obat itu pahit memang. Tapi akan membuat kita lebih baik. Khawatirlah tatkala anda termakan banyak pujian dan sanjungan. Karena barangkali itu jauh lebih berbahaya bagi masa depan anda.
Penutup. Jangan terlalu percaya dengan orang yang menunjukkan prihatin padamu dengan penuh rasa iba, mereka yang kan selalu mengatakan, "Udah tidak apa-apa. Itu sudah bagus kok...". Jangan percaya. Anda bisa jauh lebih baik dari sekedar menerima ucapan, "... sudah bagus kok" itu.
***
Radikal Yuda.
subuh di @Masjid Pogung Dalangan
