Seperti dedaunan yang tak pernah menaruh kecewa

Radikal Yuda Utama
Nov 5 · 3 min read
Photo by Annie Spratt on Unsplash

Sepetak meja ini begitu penting bagi saya. Ditambah posisinya tepat berada dibelakang jendela kaca dimana retina ini bisa melepas penat. Melepas jenuh dari menatap monitor laptop ini terus menerus. Arak-arakan awan itu selalu menarik untuk disimak. Nun di ujung sana logo MPD, dengan pe dan de berwarna hijau dan em dengan warna gelap mendekati hitam, mendatangkan sebuah rindu. Menarik kembali memori lama tentang hidayah.

.

Tumpukan paper masih berserakan di meja kecil ini. Namun, hati saya lebih memilih engkau. Si mulus berwarna merah. Teman yang tidak pernah marah, meski seringkali menjadi bagian dari tumpahan emosional yang tersulut diri. Menjadi seorang melankolis dan korelis bersamaan bukanlah satu hal mudah untuk dijalani. Tapi saya merasa itu semua menghadirkan keunikan. Melankolis mendorong saya secara natural untuk menikmat masa dan suasana dengan lebih mendalam. Mencari makna dan mengambil sejumput semangat dari berbagai landscape kehidupan yang saya lihat amati, kemudian menjadikannya sebuah pesan untuk diri saya sendiri. Itulah melankolis. Perasaan bermain begitu banyak dan hal itu entah mengapa, membuat sensitifitas saya terasa begitu dalam, meski pada hal-hal yang saya kira itu hal biasa untuk dilakukan. Hal sederhana untuk diwujudkan. Bahkan sesederhana bersin yang takkan mungkin menyinggung orang.

Pada diri saya pula ada karakter dan watak lain: korelis. Peran korelis itu hadir sebagai panglima yang memberi komando pada setiap denyut nadi untuk hidup sebagai sosok yang tak mau kalah. Tak mau dibelakang. Tak mau diam. Tak mau direndahkan. Tak mau diremehkan. DNA leader terasa sekali mengalir dibawa oleh korelis ini. Korelis yang jika ia hidup tulen akan membawanya menjadi pribadi yang penuh kesombongan dan keangkuhan. Takkan pernah disenangi orang. Kecenderungannya untuk FIGHT pada hal-hal yang bertolak belakang dengan prinsip, membuat kelemah-lembutan tak berani mengintip. Keras. Lugas. Namun, syukurlah ia tak sendiri menjadi dominan. Pun saya tak berani membayangkan. Dan tak bisa memang.

Ini bukan penyakit jiwa. Apalagi disebut sebagai pengidap bipolar. Dimana dua kepribadian yang saling bertolak belakang itu menghadirkan outside expression yang sangat fluktuatif. Terkadang sangat outgoing. Namun terkadang sangat kalem. Untungnya, Korelis saya hanya berselisih dua poin dengan karakter melankolis. Mereka hidup untuk saling melengkapi. Saling menutupi kekurangan. Yang satu mengerem. Yang satu melaju. Saat yang satu semakin terjebak dalam keheningan. Giliran yang lain menimbulkan keceriaan. Kuasa Allah. Pikir saya. Alhamdulillah, saat ini saya baik-baik saja.

Sampai detik ini. Melankolis membuat saya tak bisa melupakan banyak hal yang terhighlight dalam frame masa lalu. Tentang masa kecil. Tentang kemelaratan. Tentang kesusahan dan kesakitan. Tentang bahagia. Tentang empati dan kasih sayang. Semuanya terkadang tetiba hadir sebagai cuplikan peristiwa yang seakan baru saja terjadi. Tapi Korelis kembali lagi membantu saya untuk terus fokus melihat kedepan. Korelis memainkan perannya dengan sangat baik, sebagai seorang leader yang mengingatkan saya untuk hadir sebagai pribadi dimasa depan, dan tidak terjebak dalam di masa lalu.

Saya terus berusaha untuk merangkul setiap masa lalu sebagai teman. Sebuah kenangan dan catatan yang membuat saya mengerti dengan lebih baik tentang orang, tentang pengkhianatan, tentang ketulusan, tentang cinta, tentang kekecewaan. Yang terkadang membuat saya seketika berkata, “Ah, begitu aja…” terhadap orang-orang yang datang dengan tangisan. Tangisan yang katanya akibat luka dan kegagalan. Andai mereka tahu betapa dalam sayatan ini. Tapi tak perlulah. Tak berguna. Tak memberi manfaat juga. Entahlah, mungkin suatu saat. Pada saat yang tepat. Langkah demi langkah yang terlalui atas setapak peristiwa tersebut menjadi suatu tempat berpijak bagi saya dan orang lain untuk mengatakan bahwa “Alhamdulillah”atas segala izin Allah semuanya telah terjadi. Pasti ada hikmah dan pelajaran.

Seperti dedaunan hijau tepat di tepian selokan itu, sabar saja, meski angin tak sejenak pun membiarkannya takzim dalam tenang. Angin terus saja menggaduhnya. Terbawa ke iri dan ke kanan. Hebatnya, ia tak pernah menyalahkan angin. Sabar aja. Mengalir saja. Semoga kita juga demikian. Tak pernah menaruh kecewa kepada sesiapa yang pernah membuat kegaduhan dalam waktu-waktu dan usia kita.

Radikal Yuda | Selokan Mataram, 05 November 2019

Dalamnya tatap mengambil sejumput hikmah

    Radikal Yuda Utama

    Radikal•is•me

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade