kita takkan merindu.
Sejatinya kau lelaki yang tak pandai mengatakan rindu.
Tapi kau paksa rindu untuk bertemu. Tragisnya kau terlalu egois.
Sudah, hatiku sudah hambar untuk menemui rindumu.
Tidak, itu tidak menyakitkan. Lebih sakit aku yang menanggung rindu bertahun tanpa ku paksa kau menemuinya.
Aku pernah punya rindu yang menyakitkan yang tak pernah kau pedulikan.
Kau lupakan saja rasa rindumu, sejatinya itu hanya kenangan msalalumu yang muncul sesaat.
Aku dendam? Bukan. Aku bukan wanita pendendam. Aku hanya memegang katamu dulu “kita takkan merindu lagi”.