Berani Akan Jawaban Waktu

Ketidakpedulianku akan Teras Sebelah

Ruang Kecil

Ada seorang anak kecil yang bermain sendirian di sebuah taman kanak-kanak. Ada banyak orang di sekelilingnya. Tapi ia memilih untuk asik sendirian, di tengah-tengah mereka. Ketika semua anak sudah masuk kelas, ia tetap memilih di luar ruangan, masih bermain sendiri. Ia bermain jungkat-jungkit sendiri. Gurunya memanggilnya dan menyuruhnya untuk masuk, ia menurut. Tapi ia sebenarnya tak suka. “Ruangan ini menyesakkan,” pikirnya. Ia memandang ke atas. Sebuah ventilasi kecil warna-warni yang memperlihatkan sedikit warna langit. Ia hanya memandanginya beberapa saat sampai ia dipanggil gurunya lagi.

Kenapa kita harus mempelajari ruang? Padahal ruang adalah tempat penyekapan manusia dari segala aktivitas di luar sana. Ruang pula yang menjadikan seseorang penguasa dan budak. Jika kau tengok ke atas, ada gedung di sana. Entah berapa lantai tingginya. Berapa luas tiap ruangannya. Megah, dan terbuat dari bahan-bahan yang katanya berkualitas tinggi. Lalu saat kau berjalan agak jauh, kau lihat ke bawah. Ada di dekat sungai yang biasa kau beri makan mereka dengan sampah sehari-hari. Ada ribuan rumah di sana. Berlipat lipat pula manusia yang berebut oksigen. Lalu turunlah ke jalan. Di gang agak sempit menuju Pusdiklat. Tak tahu di mana? Ikuti saja jalur angkutan berwarna ungu. Saat sore hari, atau jam tujuh lebih, kau akan temukan jalan itu penuh sesak dengan lagu klakson. Ada apa di sana? Ada show off mobil di pinggir jalan!

Ini kota, bung. Semua warganya bilang semua ini aman dan nyaman saja, karena ini adalah bagian dari hidup mereka. Rasanya aku ingin berteriak! Kencang dan lebih kencang lagi! Mengalahkan suara klakson mereka. Ini sudah malam. Aku ingin memperlihatkan kunang-kunang pada mereka. Cahaya mereka seperti cahaya rembulan. Salah satu spesies bio pendar yang menakjubkan. Apalagi kalau mereka bergerumbul dalam suatu tempat. Ini akan menjadi suatu yang menakjubkan. Andaikan aku bisa, aku ingin kunang-kunang itu ada di sini. Walau aku tak ingin melihatnya mati di esok hari.

Gurat Dosa Perencana dan Tangan Beton Manusia

Sebenarnya, mungkin ini adalah gurat dosa perencana. Bukan hanya soal blue print kota. Bukan soal perizinan menebang dan membangun suatu gedung. Tapi mungkin soal norma. Hanya butuh sebongkah nurani untuk mengenalinya. Untuk melihat uang yang berwarna hijau, atau uang yang berbau busuk. Atau perlukah kita bicarakan soal pamali? Orang tua dulu sering mengucapkan satu kata sakti ini. Kata yang menjadikan pemuda-pemudi saat mendengarnya langsung tertunduk dan mengikutinya tanpa membantah lebih jauh lagi. Sebagian tahu mengapa, sebagian karena takut. Disetiap larangan yang ada, selalu ada alasan. Mungkin kalau di peraturan formal, selalu ada kata menimbang titik dua lalu di isi oleh latar belakang dan asas yang digunakan untuk membuat sebuah aturan yang bau-baunya agak bau itu. Dosa yang terakumulasi ditiap bangunan yang dijejalkan di atas tanah orang-orang tua itu. Bumi sudah terlalu tua. Bumi terus di daur ulang tetapi waktu yang ia butuhkan tidak secepat manusia yang terus lahir dan mati. Bumi sudah terlalu banyak menerima dosa yang bukan haknya, menerima terlalu banyak darah dan air mata. Anyir.

Aku sebenarnya tidak peduli lagi. Kadang begitu melelahkan ketika hanya melihat ke kanan kiri jalan kau sudah tahu banyak yang tidak beres. Banyak yang tidak seharusnya. Saat kau membaca, saat kau mendengar, saat matamu terpejam, semua informasi yang bagaikan air bah itu datang dan menenggelamkanmu. Sebenarnya bukan saatnya untuk berpikir seperti ini. Terasa seperti itu bagiku. Tapi aku juga tak ingin menutup mata.

Ada kabar tentang RUU Arsitektur dan banyak anak perencana yang menentangnya. Ya, selama dia masih dirancang, lakukanlah perlawanan yang seefektif mungkin. Mau pakai tulisan, atau apapun. Tapi aku merasa hal paling efektif adalah ketika menempatkannya di berita nasional. Seperti aksi kereta instan Jakarta-Bandung tadi pagi, sebuah sikap yang dinyatakan oleh KM-ITB. Buat semua orang tahu. Semua orang yang terlibat. Semua orang yang mendampak dan terdampak. Entah itu baik atau buruk. Kalau buatku sendiri?

“Boleh juga.”

Boleh juga kalau kalian bisa menerima beban sehebat itu. Orang di zaman dulu mungkin ada yang bisa merangkap dua hal itu. Tapi kurasa tidak semua orang. Jaminan apa yang akan kalian berikan? Ini bukan hanya soal kehidupan di dalam bangunan beton. Tapi juga orang-orang yang yang tidak bisa tinggal di beton-beton dingin itu. Bahkan, aku sudah menjadi rahasia umum: Banyak perencana yang akhirnya minggat dari profesi seharusnya dan melanglang buana ke pelpagai bidang keilmuan lain.

http://flaviobolla.deviantart.com/art/OSMADTH-Nasreddin-343469550

Panoptikon bukan Menara Dingin

Kalau boleh mengucap, bagiku perencana adalah panoptikon. Panoptikon berasal dari Yunani yang terdiri dari dua kata, yakni “pan” yang berarti “semua” dan “optikon” yang artinya “mengamati” alias(al-seing). Panoptikon bisa dipahami sebagai desain gedung yang memungkinkan satu pihak dapat mengawasi seisi gedung tanpa yang diawasinya merasa terawasi. Perencana harus bisa melihat semuanya. Harus bisa mengamati semua yang ada di wilayah kekuasaannya tanpa menggunakan bangunan tinggi menjulang. Tetapi, kumohon kita jangan menjadi menara dingin. Ia berada di tempat yang tinggi, yang tidak mengizinkan rakyat jelata bisa memanjatnya. Atau dengan kata lain, mereka tak ingin direbut kuasanya. Kalau memang anak perencana bangunan itu ingin juga merancang kota, ketahuilah bahwa tidak semudah memindahkan Amerika ke Indonesia. Kedengarannya saja mudah, terlihat saja itu sudah menjamur dan kebiasaan banyak orang. Tapi banyak orang itu hanya sebatas mata bisa melihat. Di ujung matamu ada gunung yang menjulang. Dibaliknya ada manusia berkali lipat lebih banyak. Mereka memegang apa yang namanya roh leluhur. Bagimu itu kuno? Bagi mereka itu identitas. Lebih kuat dari identitas negara lain. Juga di kanan-kirimu ada hutan adat. tidak bisa kamu tebang dan jadikan garis batasnya lurus-lurus. Semua ada tahapannya. Semua ada caranya. Semua tidak bisa dilakukan hanya dengan hitam di atas putih. Tapi juga politik etis. Sebagai sesama manusia, sebagai sesama makhluk hidup.

Seperti kalau kau ingin membangun sebuah rumah dengan keluarga kecil di dalamnya. Bukankah setiap ruang harus merepresentasikan setiap pribadi anggota keluarganya? Tapi juga harus dipenuhi segala kebutuhannya. Bayangkan saja bila ada juta kali lipat orang dan lahannya lebih banyak juta kali lipat juga? Bagaimana mereduksi keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, bagaimana agar semua mendapat porsi yang sama, semua teratur dan seimbang.

Aku tidak peduli. Harusnya kamu yang lebih peduli. Aku tak perlu peduli, coba kamu lebih peduli. Aku sudah peduli, tapi kamu tak kunjung peduli. Semua kepedulian, hanya melelahkan. Tapi siapa peduli? Aku menikmati.

Dalam keramaian ruang setengah, penuh bambu, dan manusia.

Selamat menjelang hari besar kita, sayang.

Dari dan untuk Yume,

karena ini mimpi kita bersama.

19.02.2016

Like what you read? Give Yulida Rachma a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.