Ketika sampai di Balai Kota dan pintu gerbang di tutup — Bingung. (Dokumen pribadi)

Catatan Sejarah

Aksi bersama PKL Purnawarman

Pada tanggal 16 bulan 04 tahun 2016 teman-teman aksi dan para PKL Purnawarman di paksa membubarkan diri. Dikatakan bahwa kami melanggar aturan. Aturan yang mana? Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, kita bebas kok mengutarakan pendapat dengan cara a. unjuk rasa atau demonstrasi; b. pawai; c. rapat umum; dan atau d. mimbar bebas. Menyampaikan pendapat juga boleh kok di Balai Kota. Yang tidak boleh itu di istana kepresidenan, dan hari yang tidak boleh itu pas hari besar nasional.
Satuan Pol PP malah melakukan tindakan kekerasan, yang ini tanpa di beri highlight juga, sudah pasti salah.

Tetapi, hal yang paling sedih adalah malam setelah semua teman-teman aksi dibebaskan. Katanya, gerobak PKL tak tahu bagaimana nasibnya. Ada yang rodanya rusak, ada juga yang kacanya pecah. Belum soal tersebarnya gerobak-gerobak mereka. Katanya, harus datang besok Senin untuk datang kembali. Lalu di ceritakan pula pagi hari itu ada salah satu PKL izin berdagang sehari saja di hari Minggu untuk melunasi hutang di bank. Tak ada yang mengira aksi itu akan berakhir menginap di Balai Kota. Ada yang menggiring ke sana. Satriadi, Kepala Seksi Ketertiban Umum Satpol PP Kota Bandung yang mengatakan untuk datang ke Balai Kota dan jika ingin menemui Walikota Ridwan Kamil. Lalu kenapa teman aksi di usir? Pun dengan mengatakan jadwal yang padat di sosial media. Bapak meminta menunggu, ditungguin, tuh. Sampai pagi. Tanpa ada satupun yang membawa benda tajam atau berbahaya. Sampah dikumpulkan dan dibuang di tempatnya, trotoar di sapu, gerobak di kesampingkan agar ada akses ke Balai Kota. Siapa yang menyuruh membubarkan aksi di sana? Tolong tanggung jawab. Gerobak mereka adalah nyawa. Mereka butuh makan, sekolah, butuh membayar hutang. Jangan biarkan mereka minum obat pusing, batuk, dan magh. Setiap saya memberikan itu, saya sedih.

“Dari pada saya pulang, saya ditanyain anak saya kenapa Bapak ngga ngelakuin apa-apa. Mending saya di sini, memperjuangkan hak saya di sini.”
“Saya pusing neng, bukan karena udaranya dingin. Kita mah udah sering kayak gini. Tapi pusing karena utang udah numpuk-numpuk.”

Saya, seorang manusia tanpa label ini, yang tidak ada di sana di saat-saat penting, pagi itu di datangi oleh seorang bapak-bapak. Terlihat wajah lelah, tapi tetap teguh. Wajah yang mengeras. Tapi kata-katanya membuatku trenyuh. “Saya meminta maaf kepada para mahasiswa di sini, yang telah berkorban pada kami. Kami sudah bermusyawarah dan mencapai mufakat. Kami memutuskan untuk tetap berjualan di trotoar. Sebenarnya saya tidak tega dengan kalian. Kalian rela membela kami sampai kehujanan, kepanasan, kedinginan, bahkan sampai tidur di trotoar. Tapi keputusan kami tetap bulat.”
Tes! 
Bapak itu menangis. Pun teman saya yang bersembunyi di balik tembok di belakang.

Kamu tahu? Mereka benar-benar bermusyawarah dan benar-benar mencapai mufakat. Semua orang berbicara satu-satu. Mereka benar-benar memikirkan semuanya. Jika tidak, tak akan mungkin mereka memikirkan segelintir mahasiswa (yang melepas segala label dan identitasnya) yang ada di sana.

“Saya doakan kalian menjadi pemimpin. Agar pemimpin-pemimpin itu nantinya adalah orang-orang yang mengerti bagaimana perasaan orang-orang yang ditindas seperti saya.”

Aku merasa bersalah. Karena tidak di sana mempertahankan dan menyelamatkan hidup mereka — gerobak dan lahan (yang sekarang sedang di bangun dan tidak bisa dibuat berjualan)

Akhir kata, teruntuk teman-teman saya. Mari sejenak lupakan dan berhenti berdebat netralitas mahasiswa. Mereka ada di zona kuning. Bagi mereka itu cukup membuktikan mereka tidak menyalahi aturan dan tak perlu di relokasi.
Aku katakan juga PKL banyak di luar negeri. Pertanyaan selanjutnya: dimanusiakan tidak mereka dalam pembuatan payung hukum untuk mereka sendiri atau diposisikan sebagai apa mereka? Nantikan tulisan saya terkait Kemendagri 41/2011: tak hanya sebuah kesalahan instrumen penguasa.
 Ya, lupakan itu dan mari bentuk solidaritas. Jika kau temui esok mereka berjualan di pinggir jalan, belilah jualan mereka. Kau tidak akan di denda uang satu juta.

Salam,
untuk: Kamu dan keilmiahan dan logikamu
dari: Saya dan kesendirian malam, atau pagi?