Sapa Kaki Lima
Galih Norma Ramadhan
62

Hardikku pada mereka yang masih menanyakan apa kabar peraturan. Pada mereka yang enggan merasa luka yang sama. Pada mereka yang terkepung gerbang batu dan bunga merah muda. Masihkah harus menanyakan dan balik menyoal tentang pengatas namaan. Tentang halal haram berdagang di pinggir jalan. New York juga punya pekael. Dengan penataan apik khas pemerintahnya. “Saya tak bisa komentar karena tidak tahu bagaimana keadaan sebenarnya.” Mudah saja, jajanlah ke sana! Berbincang dengan mereka. Mereka mudah menceritakan segala.

Kamu para pemimpin segelintir orang dengan jaket kebanggaan. Tak berani menggiring pasukanmu ke jalan melihat kebenaran (bukan pembenaran). Kini aku menanyakan kamu benarkah seorang pemimpin? Lihatlah dia Raja Kota yang bisa membuat warganya terkena delusi media sosial. Memuja bagai Tuhan: Membenarkan segala tindakan.

Rasakanlah derita jemari yang mengacung di luar tembok balai kota yang di paksa keluar barisan. Itulah lapangan yang sebenarnya. Yang sedetik kemudian tak bisa diprediksi bagaimana jalannya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.