Maso

Membuka pintu kegilaan #1

Dalam duka aku sendiri, mengais rasa yang hilang diterpa waktu. kemilau yang menjadikan beku dan menjadikan semua rasa hati ini terlalu tinggi dan meninggi.

aku sudah tahu dari lama, jikalau sakit yang diderita harus diobati, bukan diberi api. tapi bahkan obat yang diberikan padaku mengandung racun tikus. mungkin karena aku satu spesies dengan mereka, aku hampir terkapar.

burung terlalu lama bercicit. suaramu terlalu keras. terlalu banyak. bising.

rapalan mantra. berikan aku itu. dalam detik akan aku nyanyikan, agar aku lupa semua.

beri aku waktu. aku merasa sudah tak memiliki waktu banyak. atau mungkin aku terlalu membuang waktu banyak. terlalu banyak.

proses yang aku butuhkan lama, tapi kenapa semua begitu cepat datang? beri aku waktu. walau aku merasa sudah tak memiliki waktu banyak. apakah ini waktu ujian?

tik tok tik tok

waktu sudah habis. aku tidak melakukan banyak. pertanyaan tak terjawab masih banyak. tanganku selalu bergerak mencoba menulis jawaban. tanpa tahu itu benar atau salah.

tapi aku semakin merasa bersalah.

tik tok tik tok

kertas ujian harus segera dikumpulkan tapi tanganku masih mencoba menulis. tapi aku tak merasakan apa-apa. aku menulis tanpa tinta.

tik tok tik tok.

aku masih menulis. tapi semua orang sudah pergi. kertas ujianku sudah berlubang sana-sini. tapi kertasku masih putih.

tik tok tik tok..

hari mulai gelap, dan rasa nestapa masih menggelayut di pundakku. tanganku sudah berhenti. kertas putih itu masih di atas meja. tapi aku hanya sanggup untuk menatapnya.

dan angin tak membawanya pergi..

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.